Siswa SMP YTM Jajal UNBK

Siswa SMP YTM Jajal UNBK

Siswa SMP YTM Jajal UNBK
Siswa SMP YTM Jajal UNBK

SMP YTM menggelar simulasi Ujian Nasional Berbasis Komputer ( UNBK)

bagi siswa kelas 9 di lingkungan sekolahnya. Kegiatan ini untuk mengukur kemampuan siswa siswinya dalam menghadapi UNBK yang sesungguhnya pada 2020.

Menurut Kepala SMP YTM, Tetik Purwati, simulasi ini diikuti seluruh siswa

kelas 9 dan tidak ada yang absen. Dalam simulasi ini para siswa mengikuti semua aturan yang sudah ditetapkan pihak sekolah seperti layaknya mereka menghadapi UNBK yang sesungguhnya. “Alhamdulilah para siswa rata – rata sudah bisa mengoperasikan perangkat komputer sehingga simulasi berjalan lancar,”ungkapnya.

Tetik berharap ke depannya siswa kelas fokus menatap UNBK dengan

mengurangi kegiatan di luar rumah yang tidak tidak ada manfaatnya. Sebab dikhawatirkan akan mengganggu saat menghadapi UNBK yang akan dilaksanakan secara serentak di seluruh Indonesia. “Semoga saja para siswa kelas 9 pada saat UNBK nanti bisa mendapatkan nilai yang memuaskan sehingga bisa melanjutkan ke jenjang berikutnya di tingkat SMA sesuai pilihannya masing–masing,” pungkasnya.

 

Sumber :

http://pressreleaseping.com/pressrelease/275563.html

SMPN 4 Optimis Juara LSS Jabar 2019

SMPN 4 Optimis Juara LSS Jabar 2019

SMPN 4 Optimis Juara LSS Jabar 2019
SMPN 4 Optimis Juara LSS Jabar 2019

SMPN 4 Kota Bogor mengaku optimis bisa meraih juara dalam ajang Lomba Sekolah Sehat (LSS) tingkat Jawa Barat tahun 2019. Hal itu diucapkan Kepala SMPN 4 Kota Bogor, Wawan.

“Secara fisik, semua persiapan dan persyaratan lomba yang ditetapkan dalam petunjuk pelaksana (Juklak) dan petunjuk tekhnis (Juknis), sudah kita lengkapi dan kita sudah sangat siap untuk dilakukan penilaian,” katanya.

Menurutnya, membenahi infrastruktur sekolah itu tidak terlalu sulit,

karena sudah ada juklak dan juknisnya. Pihaknya hanya tinggal mengikuti saja, tetapi yang lebih sulit adalah membenahi karakteristik dan pengetahuan siswa-siswi, mengenai apa itu sekolah sehat. Kalau sekolahnya bagus tetapi siswa siswinya tidak mengerti apa itu arti sehat, tidak ada artinya dan nilainya 0.

“Yang sedang kita hawatirkan, dimana dalam juklak penilaian LSS ada ketentuan bahwa radius 500 meter dari sekolah, dilarang ada puntung tokok satupun, jika tim penilai menemukan puntung rokok dalam radius itu, maka kita dianggap gagal,” ungkapnya.

“Tapi, radius itu kan diluar tanggugjawab sekolah dan menjadi area terbuka

bagi masyarakat. Lantas, kalau masyarakat kita larang untuk tidak membuang puntung rokok di seputaran itu, ini kan akan mengundang masalah. Makanya nanti kami akan meminta bantuan Sat Pol PP untuk menjaga agar dalam radius itu terbebas dari puntung rokok,” lanjut dia.

Dirinya menambahkan, kegiatan ini bukan lagi mempertaruhkan nama

SMP Negeri 4 semata, tetapi sudah mempertaruhkan nama Kota Bogor. Untuk itu, pihaknya akan terus berkonsultasi dan berkoordinasi dengan sejumlah pihak demi suksesanya pelaksanaan LSS ini.

“Tapi kami juga heran. Harusnya penilaian LSS itu dilaksanakan pada bulan Oktober ini, tetapi entah karena apa, sepertinya ada beberapa kendala di tingkat provinsi, makanya pelaksanaan penilaian LSS ini diundurkan menjadi awal bulan November 2019,” tanyanya

 

Sumber :

https://education.microsoft.com/Story/CommunityTopic?token=Ue57v

Profesional Guru Bimbingan dan Konseling

Profesional Guru Bimbingan dan Konseling

Profesional Guru Bimbingan dan KonselingProfesional Guru Bimbingan dan Konseling
Profesional Guru Bimbingan dan Konseling

Dalam Permendiknas No. 27 tahun 2008 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Konselor dinyatakan bahwa kompetensi yang harus dikuasai guru Bimbingan dan Konseling/Konselor mencakup 4 (empat) ranah kompetensi, yaitu: kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional. Keempat rumusan kompetensi ini menjadi dasar bagi Penilaian Kinerja Guru Bimbingan dan Konseling/Konselor.

Jika diperbandingkan antara ekspektasi kinerja Guru Bimbingan dan Konseling/Konselor dengan kinerja guru mata pelajaran. Guru mata pelajaran tampak lebih dominan dalam  penguasaan ranah kompetensi pedagogik, sedangkan Guru Bimbingan dan Konseling/Konselor lebih dominan dalam penguasaan ranah kompetensi profesional.

Dengan tidak bermaksud mengesampingkan ranah atau wilayah kompetensi lainnya, berikut ini disajikan aspek dan indikator kompetensi profesional yang harus dikuasai seorang Guru Bimbingan dan Konseling atau Konselor:

A. Menguasai konsep dan praksis penilaian (assessment) untuk memahami kondisi, kebutuhan, dan masalah konseli. Mendeskripsikan hakikat asesmen untuk keperluan pelayanan konseling, memilih teknik penilaian sesuai dengan kebutuhan pelayanan bimbingan dan konseling, menyusun dan mengembangkan instrumen penilaian untuk keperluan bimbingan dan konseling, mengadministrasikan asesmen untuk mengungkapkan masalahmasalah peserta didik, memilih dan mengadministrasikan teknik penilaian pengungkapan kemampuan dasar dan kecenderungan pribadi peserta didik, memilih dan mengadministrasikan instrumen untuk mengungkapkan kondisi aktual peserta didik berkaitan dengan lingkungan, mengakses data dokumentasi tentang peserta didik dalam pelayanan bimbingan dan konseling, menggunakan hasil penilaian dalam pelayanan bimbingan dan konseling dengan tepat, menampilkan tanggung jawab profesional dalam praktik penilaian:

  1. Guru Bimbingan dan Konseling/Konselor dapat mengembangkan instrumen nontes (pedoman wawancara, angket, atau format lainnya) untuk keperluan pelayanan Bimbingan dan Konseling.
  2. Guru Bimbingan dan Konseling/Konselor dapat mengaplikasikan instrumen nontes untuk mengungkapkan kondisi aktual peserta didik/konseli berkaitan dengan lingkungan.
  3. Guru Bimbingan dan Konseling/Konselor dapat mendeskripsikan penilaian yang digunakan dalam pelayanan Bimbingan dan Konseling yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik/konseli.
  4. Guru Bimbingan dan Konseling/Konselor dapat memilih jenis penilaian (Instrumen Tugas Perkembangan/ITPAlat Ungkap Masalah/AUM, Daftar Cek Masalah/DCM, atau instrumen non tes lainnya) yang sesuai dengan kebutuhan layanan bimbingan dan konseling.
  5. Guru Bimbingan dan Konseling/Konselor dapat mengadministrasikan penilaian (merencanakan, melaksanakan, mengolah data) untuk mengungkapkan kemampuan dasar dan kecenderungan pribadi peserta didik/konseli.
  6. Guru Bimbingan dan Konseling/Konselor dapat mengadministrasikan penilaian (merencanakan, melaksanakan, mengolah data) untuk mengungkapkan masalah peserta didik/konseli (data catatan pribadi, kemampuan akademik, hasil evaluasi belajar, dan hasil psikotes).
  7. Guru Bimbingan dan Konseling/Konselor dapat menampilkan tanggung jawab profesional sesuai dengan azas Bimbingan dan Konseling (misalnya kerahasiaan, keterbukaan, kemutakhiran, dll.) dalam praktik penilaian.

Baca Juga :

Pelayanan Dasar Bimbingan dan Konseling Komprehensif

Pelayanan Dasar Bimbingan dan Konseling Komprehensif

Pelayanan Dasar Bimbingan dan Konseling Komprehensif
Pelayanan Dasar Bimbingan dan Konseling Komprehensif

Pengertian

Pelayanan Dasar adalah salah satu komponen program Pelayanan Bimbingan dan Konseling Komprehensif, yang saat ini dikembangkan di Indonesia.  Pelayanan dasar diartikan sebagai proses pemberian bantuan kepada seluruh konseli melalui kegiatan penyiapan pengalaman terstruktur secara klasikal atau kelompok yang disajikan secara sistematis dalam rangka mengembangkan perilaku jangka panjang sesuai dengan tahap dan tugas-tugas perkembangan (yang dituangkan sebagai standar kompetensi kemandirian) yang diperlukan dalam pengembangan kemampuan memilih dan mengambil keputusan dalam menjalani kehidupannya.

Di Amerika Serikat sendiri, istilah pelayanan dasar ini lebih populer dengan sebutan kurikulum bimbingan (guidance curriculum). Tidak jauh berbeda dengan pelayanan dasar, kurikulum bimbingan ini diharapkan dapat memfasilitasi peningkatan pengetahuan, sikap, dan keterampilan tertentu dalam diri siswa yang tepat dan sesuai dengan tahapan perkembangannya (Bowers & Hatch dalam Fathur Rahman)

Penggunaan instrumen asesmen perkembangan dan kegiatan tatap muka terjadwal di kelas sangat diperlukan untuk mendukung implementasi komponen ini. Asesmen kebutuhan diperlukan untuk dijadikan landasan pengembangan pengalaman terstruktur yang disebutkan.

2. Tujuan Pelayanan dasar

Pelayanan dasar bertujuan untuk membantu semua konseli agar memperoleh perkembangan yang normal, memiliki mental yang sehat, dan memperoleh keterampilan dasar hidupnya, atau dengan kata lain membantu konseli agar mereka dapat mencapai tugas-tugas perkembangannya. Secara rinci tujuan pelayanan ini dapat dirumuskan sebagai upaya untuk membantu konseli agar (1) memiliki kesadaran (pemahaman) tentang diri dan lingkungannya (pendidikan, pekerjaan, sosial budaya dan agama), (2) mampu mengembangkan keterampilan untuk mengidentifikasi tanggung jawab atau seperangkat tingkah laku yang layak bagi penyesuaian diri dengan lingkungannya, (3) mampu menangani atau memenuhi kebutuhan dan masalahnya, dan (4) mampu mengembangkan dirinya dalam rangka mencapai tujuan hidupnya.

3. Fokus Pengembangan Pelayanan dasar

Untuk mencapai tujuan tersebut, fokus perilaku yang dikembangkan menyangkut aspek-aspek pribadi, sosial, belajar dan karir. Semua ini berkaitan erat dengan upaya membantu konseli dalam mencapai tugas-tugas perkembangannya (sebagai standar kompetensi kemandirian). Materi pelayanan dasar dirumuskan dan dikemas atas dasar standar kompetensi kemandirian antara lain mencakup pengembangan: (1) self-esteem, (2) motivasi berprestasi, (3) keterampilan pengambilan keputusan, (4) keterampilan pemecahan masalah, (5) keterampilan hubungan antar pribadi atau berkomunikasi, (6) penyadaran keragaman budaya, dan (7) perilaku bertanggung jawab. Hal-hal yang terkait dengan perkembangan karir (terutama di tingkat SLTP/SLTA) mencakup pengembangan: (1) fungsi agama bagi kehidupan, (2) pemantapan pilihan program studi, (3) keterampilan kerja profesional, (4) kesiapan pribadi (fisik-psikis, jasmaniah-rohaniah) dalam menghadapi pekerjaan, (5) perkembangan dunia kerja, (6) iklim kehidupan dunia kerja, (7) cara melamar pekerjaan, (8) kasus-kasus kriminalitas, (9) bahayanya perkelahian masal (tawuran), dan (10) dampak pergaulan bebas.

4. Strategi Pelaksanaan Pelayanan dasar

  • Bimbingan Kelas; Program yang dirancang menuntut konselor untuk melakukan kontak langsung dengan para peserta didik di kelas. Secara terjadwal, konselor memberikan pelayanan bimbingan kepada para peserta didik. Kegiatan bimbingan kelas ini bisa berupa diskusi kelas atau brain storming (curah pendapat).
  • Pelayanan Orientasi; Pelayanan ini merupakan suatu kegiatan yang memungkinkan peserta didik dapat memahami dan menyesuaikan diri dengan lingkungan baru, terutama lingkungan Sekolah/Madrasah, untuk mempermudah atau memperlancar berperannya mereka di lingkungan baru tersebut. Pelayanan orientasi ini biasanya dilaksanakan pada awal program pelajaran baru. Materi pelayanan orientasi di Sekolah/Madrasah biasanya mencakup organisasi Sekolah/Madrasah, staf dan guru-guru, kurikulum, program bimbingan dan konseling, program ekstrakurikuler, fasilitas atau sarana prasarana, dan tata tertib Sekolah/Madrasah.
  • Pelayanan Informasi; Yaitu pemberian informasi tentang berbagai hal yang dipandang bermanfaat bagi peserta didik. melalui komunikasi langsung, maupun tidak langsung (melalui media cetak maupun elektronik, seperti : buku, brosur, leaflet, majalah, dan internet).
  • Bimbingan Kelompok; Konselor memberikan pelayanan bimbingan kepada peserta didik melalui kelompok-kelompok kecil (5 s.d. 10 orang). Bimbingan ini ditujukan untuk merespon kebutuhan dan minat para peserta didik. Topik yang didiskusikan dalam bimbingan kelompok ini, adalah masalah yang bersifat umum (common problem) dan tidak rahasia, seperti : cara-cara belajar yang efektif, kiat-kiat menghadapi ujian, dan mengelola stress.
  • Pelayanan Pengumpulan Data (Aplikasi Instrumentasi); Merupakan kegiatan untuk mengumpulkan data atau informasi tentang pribadi peserta didik, dan lingkungan peserta didik. Pengumpulan data ini dapat dilakukan dengan berbagai instrumen, baik tes maupun non-tes.

Hindari Motivasi dengan Ancaman

Hindari Motivasi dengan Ancaman

Hindari Motivasi dengan Ancaman
Hindari Motivasi dengan Ancaman

Dalam perspektif manajemen, salah satu tugas yang harus dijalankan oleh seorang pemimpin adalah berusaha memotivasi setiap individu yang dipimpinnya agar memiliki motivasi yang kuat dalam melaksanakan setiap tugas dan pekerjaannya, sehingga pada girilirannya dapat dihasilkan kinerja yang unggul.  Misalnya, untuk meningkatkan kinerja guru, kepala sekolah atau pengawas sekolah dituntut untuk dapat membina dan meningkatkan motivasi kerja guru. Demikian pula, untuk meningkatkan kinerja siswa (prestasi belajar siswa), seorang guru dituntut untuk dapat  membina  dan meningkatkan motivasi belajar siswanya.

Upaya memotivasi (motivating) individu dapat dilakukan melalui berbagai cara.  Menurut Huse dan Bowditch (1973), terdapat tiga model memotivasi seseorang, yaitu: (1) model kekuatan dan ancaman; (2) model ekonomik/mesin, dan (3) model pertumbuhan-sistem terbuka.

Yang akan kita bicarakan di sini adalah model yang pertama yaitu pemotivasian  model kekuatan dan ancaman (a force and coercion model). Model ini merupakan model tertua dan sangat sederhana dalam memahami atau memandang manusia.  Model ini mempratikkan pemotivasian dengan cara memaksa orang lain (baik melalui tindakan atau verbal) untuk berperilaku tertentu  dengan cara menggunakan ancaman,  intimidasi atau bentuk lain yang bersifat represif dengan menggunakan kekuatan (power), yang dimilikinya.

Asumsi yang mendasari model pemotivasian  model kekuatan dan ancaman ini adalah bahwa seseorang akan bekerja (belajar atau berperilaku) dengan baik apabila disudutkan pada sebuah situasi, di mana ia hanya bisa memilih bekerja ataukah dihukum (Huse dan Bowditch, 1973).

Asumsi ini senada dengan asumsi yang mendasari teori X-nya McGregor, bahwa pada dasarnya manusia itu malas, suka menghindari tugas dan tanggung jawab, dan apabila tidak diintervensi dan diancam oleh atasan, maka ia akan pasif. Oleh sebab itu agar seseorang mau bekerja ia harus dipaksa (Carver dan Sergiovanni, 1969).

Pemotivasian Model Kekuatan dan Ancaman oleh beberapa kalangan sering disebut sebagai strategi buntu, yaitu strategi yang terpaksa digunakan ketika pemimpin sudah merasa kehabisan akal  (atau justru kehilangan kewarasannya?) untuk merubah perilaku orang-orang yang dipimpinnya.

Sepintas, model pemotivasian yang menebarkan kecemasan ini tampak sangat efektif untuk memotivasi seseorang. Melalui ancaman dan intimidasi tertentu, orang akan menjadi patuh dan bekerja sesuai dengan aturan-aturan yang telah ditetapkan (atau mungkin tepatnya sesuai dengan keinginan).

Namun dibalik itu perlu diwaspadai,  penggunaan pemotivasian model kekuatan dan ancamanini ternyata  dapat menjadikan orang tidak bahagia dan dapat merusak kepribadian seseorang. Dengan adanya ancaman terus menerus, orang akan merasa tidak bisa mengembangkan potensinya, mengalami ketumpulan berfikir, dan mengalami ketegangan jiwa (stress).

Dalam konteks sekolah, Les Parsons dalam bukunya yang berjudul Bullied Teacher Bullied Student mengupas tentang perilaku intimidasi di sekolah yang dilakukan siswa, guru dan kepala sekolah. Dikatakannya, bahwa pelaku intimidasi secara sengaja bermaksud menyakiti seseorang secara fisik, emosi atau sosial dan pelaku intimidasi sering merasa perbuatannya itu dapat dibenarkan.

Dalam konteks bisnis, hasil penelitian yang dilakukan oleh Dr Nicolas Gillet, dari Universite François Rabelais di Prancis menunjukkan bahwa manajer yang menggunakan ancaman sebagai cara untuk memotivasi karyawan, cenderung memiliki dampak negatif pada kesejahteraan karyawan.

Jika sudah seperti ini,  maka  hasil dari upaya pemotivasian akan menjadi terbalik, seharusnya dapat meningkatkan kinerja atau prestasi yang lebih baik malah yang terjadi adalah penderitaan dan kerusakan kepribadian.

Oleh karena itu, untuk menjadi pemimpin yang sukses sedapat mungkin kita perlu menghindari penggunaan pemotivasian model kekuatan dan ancaman ini. Gunakanlah cara-cara pemotivasian lain yang lebih manusiawi, yang dapat menjadikan orang-orang berbahagia, mampu berinovasi dan dapat mengoptimalkan segenap potensi yang dimilikinya.

Contoh aliran Idealisme

Contoh aliran Idealisme

Contoh aliran Idealisme
Contoh aliran Idealisme

Untuk contoh buruknya, lihat idealisme yang dilakukan oleh Adolf Hitler. Dengan keyakinannya atas buruknya kaum Yahudi dan Komunisme, dia bisa menjadi penguasa Eropa dan membinasakan kaum Yahudi dan Komunis. Padahal ketika zamannya ketika itu, korporasi Yahudi dan dominasi politik komunis begitu kental dilingkungannya sehingga pada awal-awal perjuangannya Hitler justru lebih banyak mendapat hinaan dan cemooh ketimbang dukungan. Tentu saja contoh buruk ini jangan ditiru karena justru merupakan kemunduran dalam peradaban manusia.
dealisme adalah sumber perubahan. Perubahan terjadi karena tidak adanya kepuasan terhadap kondisi terkini, perubahan terjadi karena ada “kesalahan” atas suatu hal, perubahan dapat dilakukan hanya bila ada keberanian, dan keberanian untuk melakukan perubahan merupakan implementasi nyata dari idealisme.

Namun perlu diperhatikan juga bahwa idealisme tidak bisa berdiri sendiri. Idealisme juga memerlukan realisme. Idealisme dan sikap realistik bagaikan dua sisi mata uang yang saling melengkapi satu sama lain secara absolut. Tanpa adanya sikap realistik, idealisme hanya akan menjadi angan-angan utopis: bagaikan mimpi di siang bolong. Sikap idealis tanpa sifat realistis hanya akan menjadi bunga tidur dalam kehidupan yang tidak lebih baik dari khayalan orang sakit jiwa.

Perlu ada keseimbangan koheren antara sifat idealisme dan realistis agar menjadi manusia seutuhnya. Sikap realistis diperlukan untuk memahami dan menginsyafi kondisi riil di lapangan. Sedangkan sikap idealis diperlukan untuk memperbaiki atau menyempurnakan kekurangan yang terjadi dalam realita. Tidak mungkin seorang manusia hanya mengikuti arus (realistis) selama-lamanya, atau hidup akan menjadi statis. Tidak mungkin juga seorang manusia hanya mengutamakan idealismenya semata dengan mengacuhkan realita kalau tidak ingin dikatakan seorang pemimpi.

Jadi pada kenyataannya, sikap idealis dan realis bukanlah suatu hal yang saling berkontradiktif. Justru sebaliknya, kedua hal itu harus selaras berjalan dalam pikiran dan sikap kita agar hidup selalu mengalami progresifitas. Keseimbangan antara idealisme dan realism dapat menghasilkan output yang tentunya lebih baik daripada hanya condong ke satu sisi saja

Baca Juga :

Contoh aliran Marxisme

Contoh aliran Marxisme

Contoh aliran Marxisme
Contoh aliran Marxisme

Di abad XX gurauan jenaka dialektis ini telah menjelma menjadi masalah politik yang amat serius. Kita sudah menyaksikan timbulnya banyak macam aliran “Marxis” yang berbeda-beda bahkan sering bertolak-belakang. Esai inib ertujuan untuk menulusuri kekusutun itu. Namun sebelum mulai, mungkin adab aiknya jika kita menjelaskan betapa rumitnya persoalan yang hendak kita diskusikan.

Bukan saja banyak orang yang mengaku Marxis yang memiliki pendapat berbeda mengenai masalah-masalah tertentu (katakanlah akan kecenderungan laju profit untuk turun, atau analisis terperinci tentang UniS oviet); itu wajar dalam setiap gerakan politik yang sehat dan teguh. Persoalannya jauh lebih rumit: bahwa kaum “Marxis” sering saling memenjara,m emerangi serta membunuh; yang lebih merisaukan lagi, bahwa dalam semua konflik sosial, ada banyak kelompok atau tokoh “Marxis” mengambil sikap yang sama sekali bertentangan. Misalnya Lenin dan Plekhanov [seorang tokoh sosial-demokrat] di Rusia tahun 1917; Partai Komunis dan partai revolusioner POUM di Spanyol masa pemberontakan di Barcelona tahun 1936; dan di Eropa Timur masa ambruknya blok Soviet. Kontradiksi inilah yang mendorong kita untuk melontarkan pertanyaan: mana tradisi Marxis yang sejati?

Ada yang samasekali menolak pertanyaan tersebut, denganm enyatakan, tidak ada poinnya mencari Marxisme yang “sebenarnya”. Mereka puas dengan menerima semua klaim atas nama Marxis. Dari satu sisi pendekatan ini agak bermanfaat buat kaum pendukung ideologis sistem kapitalis, yang suka menyamakan semua aliran revolusioner dengan Stalin dan Pol Pot. Dari sisi lain pendekatan ini juga disukai oleh para “Marxolog” akademis, yang suka menulis “buku pegangan” tentang bermacam-macam aliran politik tanpa memihak. Tetapi pendekatan semacam itu terlalu pasif. Kita yang ingin bertindak secara praktis untukm emperjuangkan perubahan sosial, harus membedakan antara yang benar dan yang palsu.

Ada yang berupaya memecahkan masalah ini dengan menyamakan Marxisme dengan karya Marx sendiri, kemudian membandingkan karya tokoh politik lain dengan patokan itu. Namun ini pendekatan religius. Menurut FriedrichE ngels, Marxisme “bukanlah sebuah dogma melainkan harus memandu aksi”, makanya teori tersebut harus terus hidup dan berkembang, harus mampu menganalisis alam nyata yang senantiasa mengalami perubahan – alam nyata yang sudah berubah secara dahsyat sejak meninggalnya Marx sendiri. Meskipun dengan alasan historis kita memberi nama Marx sendiri untuk teori Marxisme, tradisi ini tidak bisa direduksi secara dogmatis kepada karya-karyanya saja. Seperti yang Leon Trotsky tulis, “Pada pokoknya Marxisme adalah metode analisis: bukan analisis akan teks-teks saja melainkan terutama akan hubungan sosial.”

Kutipan Trotsky ini menunjuk kepada suatu pendekatan lain yang diterapkan oleh Georg Lukacs. Dalam bukunya Sejarah dan Kesadaran Kelas (Geschichte und Klassenbewusstsein, atau History and Class Consciousness),L ukacs bertanya, apa itu Marxisme? Jawabannya:

Marxisme ortodox tidak … berarti menerima tanpa kritik segala hasil karya penyelidikan Marx. Bukan berarti ‘percaya’ kepada tesis ini atau itu, atau pengkajian sebuah kitab suci. Sebaliknya, istilah ‘ortodox’ hanya berkenaan dengan masalah metode.

Usulan ini jauh lebih berbobot dari usulan sebelumnya. Lukacs mengerti bahwa teori kita harus terus berkembang. Metode dialektis ini adalah unsur penting dalam gagasan Maxisme. Meski begitu, pendekatan Lukacs tidaklah memadai. Tidaklah mungkin untuk membuat batas pemisah yang mutlak antara metode Marx dan analisis Marx lainnya, atau mereduksi isi pokok teorinya pada metode belaka. Umpama yang dianjurkan oleh Lukacs sendiri justru memperlihatkan kesalahannya:

“Biar kita taruh misalnya,” tulisnya, “bahwa penelitian moderen telah menyangkal semua tesis Marx secara tersindiri. Kalaupun itu terbukti,s eorang Marxis ‘ortodox’ bisa saja menerima semua hasil penilitian tersebut tanpa ragu-ragu, kemudian menolak keseluruhan tesis Marx, tanpa meninggalkan sikap ortodoksnya sedikit pun.”

Argumentasi ini tidak meyakinkan. Misalnya, seandainya sistem kapitalis menjelma menjadi masyarakat birokratis internasional tipe baru tanpa kontradiksi dan persaingan intern, maka Marxisme (yang mendasarkan diri pada kontradiksi dan perjuangan ekonomi, sosial dan politik) terang terbukti salah. Dan kaum pemikir seperti James Burnham yang meramalkan akan perkembangan demikian terbukti benar. Seperti yang ditulis Trotsky saat membicarakan kemungkinan tersebut, dalam kasus semacam itu “hanya tinggal mengakui bahwap rogram sosialis, yang mendasarkan diri pada konstradiksi intern kapitalisme, ternyata utopia saja.”

Kita mungkin bisa tergoda untuk mendefinisikan Marxisme sebagai sebuah metode yang disertai dengan sejumlah analisis serta anjuran utama. Namun ini hanya akan menimbulkan pertanyaan lain, yaitu, analisis dan anjuran mana yang utama, dan mana yang sekunder? Bagamaina caranya agar bisa lolos daril ingkaran setan ini? Caranya ialah bukan dengan usaha yang sia-sia untuk menarik tesis abstrak tertentu dari karya Marx, melainkan dengan menggunakan teoriM arxis untuk menyimak Marxisme sendiri secara utuh.

Contoh aliran Positivisme

Contoh aliran Positivisme

Contoh aliran Positivisme
Contoh aliran Positivisme

Legal-positivism memandang perlu untuk memisahkan secara
tegas antara hukum dan moral. Hukum. bercirikan rasionalistik,
teknosentrik, dan universal. Dalam kaca mata positivisme tidak
ada hukum kecuali perintah penguasa, bahkan aliran positivis
legalisme menganggap bahwa hukum identik dengan undangundang.
Hukum dipahami dalam perspektif yang rasional dan
logik. Keadilan hukum bersifat formal dan prosedural.
Dalam positivisme, dimensi spiritual dengan segala
perspektifnya seperti agama, etika dan moralistas diletakkan
sebagai bagian yang terpisah dari satu kesatuan pembangunan
peradaban modern. Hukum modern dalam perkembangannya
telah kehilangan unsur yang esensial, yakni nilai-nilai spiritual.
Paham hukum tersebut masih membelenggu pola pikir
kebanyakan pakar dan praktisi hukum di Indonesia. Sebagai
contoh terlihat jelas pada: (1) Vonis bebas sama sekali terhadap
Adlin Lis (pembalak hutan) oleh Pengadilan Negeri Medan dan
(2) Vonis Majelis Hakim pada tingkat kasasi terhadap
Pollycarpus yang menyatakan Pollycarpus tidak terbukti
melakukan pembunuhan terhadap Munir sehingga hanya
dipersalahkan memalsukan surat.
Paham hukum seperti tersebut di atas sangat berbeda dengan
paradigma hukum sosiologis yang berangkat dari asumsi bahwa
hukum adalah sebuah gejala sosial yang terletak dalam ruang
sosial dan dengan itu tidak bisa dilepaskan dari konteks sosial.
Hukum bukanlah entitas yang sama sekali terpisah dan bukan
merupakan bagian dari elemen sosial yang lain. Hukum tidak
akan mungkin bekerja dengan mengandalkan kemampuannya
sendiri sekalipun ia dilengkapi dengan perangkat asas, norma
dan institusi.
Berdasarkan paradigma hukum seperti itulah Majelis Hakim
Mahkamah Agung dalam kasus Peninjauan Kembali (PK)
terhadap kasus terbunuhnya Munir, berkeyakinan bahwa
Pollycarpuslah yang membunuh aktivis HAM, Munir..

Sumber : https://sam-worthington.net/

SMP Negeri 12 Gelar Simulasi Ujian Tiga Mapel

SMP Negeri 12 Gelar Simulasi Ujian Tiga Mapel

SMP Negeri 12 Gelar Simulasi Ujian Tiga Mapel
SMP Negeri 12 Gelar Simulasi Ujian Tiga Mapel

SMP Negeri (SMPN) 12 Kota Bogor terus berupaya memantapkan siswa-siswinya jelang Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK). Salah satunya dengan menggelar simulasi UNBK dengan mata pelajaran (mapel) yang masuk kategori Ujian Nasional meliputi, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris dan Matematika.

Kepala SMPN 12 Kota Bogor, Sukendar, mengatakan, dalam persiapan

UNBK pihaknya memberikan tambahan jam belajar. “Ini khusus pada siswa kelas 9, karena waktu yang relatif singkat untuk pelaksanaan UNBK 2019,” katanya. Menurut dia, pihaknya berkewajiban mendorong peserta didik agar mudah menangkap mata pelajaran yang masuk kategori UNBK.

“Kami tentu akan terus evaluasi agar bisa mendapat solusi untuk langkah apa yang bisa diterapkan ke siswaa,” katanya. Tahun ini, Sukendar mengatakan, ada 300 siswa yang mengikuti Try Out (TO) berbasis komputer.

Hal ini pula yang membuat pihak sekolah yakin kalau peserta didiknya bisa

melewati ujian dengan baik. “Ya, kami optimis akan kemampuan siswa menghadapi UN tersebut. Bahkan, mental mereka sudah terlatih guru Bimbingan Konseling (BK), termasuk pembinaan akhlak melalui guru agama,” bebernya.

Sementara terkait persiapan infrastruktur UNBK, SMP Negeri 12 Kota Bogor juga telah menyediakan tiga ruang yang dilengkapi sarana komputer. Ini termasuk tim teknisi yang siap mengatasi kendala gangguan jaringan. “Di antaranya juga kalau ada kendala aliran listrik,” ungkapnya. Ia mengatakan, dalam UNBK nanti pihak sekolah membagi dalam tiga sesi. Di mana per sesi diikuti tiga kelas.

“Kami berharap kelulusan dari UNBK 2019 tersebut harus 100 persen,

karena itu target kami dan harapan semua kalangan orang tua murid SMP Negeri 12 Kota Bogor,” pungkasnya.

 

Baca Juga :

Perbanyak Siswa Latihan Soal

Perbanyak Siswa Latihan Soal

Perbanyak Siswa Latihan Soal
Perbanyak Siswa Latihan Soal

Wakil Kepala Humas SMA BBS Kota Bogor, Tedy, mengatakan, penda­laman

materi diberikan pada ratusan siswa agar ketika menghadapi ujian, masing-masing siswa siap mengikutinya. “Hal utama yang harus dipersiapkan adalah mental agar bagaimana caranya anak-anak merasa percaya diri saat mengerjakan soal,” katanya.

Menurut Tedy, penekanan terhadap kesiapan mental itu penting agar se­tiap

anak bisa yakin dalam menger­jakan soal. “Jadi, mereka tidak ragu, tidak grogi dan benar-benar merasa yakin dalam mengerjakan soal, baik itu berupa multi choice maupun mengisi lembar pertanyaan,” urainya.

Tak hanya itu, Tedy memastikan seluruh keluarga besar SMA BBS Kota Bogor siap mengikuti semua jadwal ujian siswa yang telah diten­tukan Dinas Pendidikan (Disdik) dan pihak terkait. “Sebagai lembaga pen­didikan yang sudah lama berdiri di Kota Bogor, kami atas nama SMA BBS Kota Bogor merasa siap dan tidak menemui kesulitan berarti.

Saya merasa bangga dengan berba­gai prestasi yang dimiliki anak didik saya,

termasuk saat ujian. Mudah-mudahan anak-anak bisa meraih nilai yang memuaskan,” pungkasnya.

 

Sumber :

https://www.surveymonkey.com/r/LHPDD3W