Teknik Konservasi Tanah Secara Vegetatif Terbaru

Teknik Konservasi Tanah Secara Vegetatif Terbaru

Teknik Konservasi Tanah Secara Vegetatif Terbaru

Teknik konservasi tanah secara vegetatif  merupakan pemanfaatan tanaman/vegetasi maupun sisa-sisa tanaman sebagai media pelindung tanah dari erosi, penghambat laju aliran permukaan, peningkatan kandungan lengas tanah, serta perbaikan sifat-sifat tanah, baik sifat fisik, kimia maupun biologi. Di Indonesia, teknik konservasi tanah dikhususkan untuk melindungi permukaan tanah, peningkatan kapasitas infiltrasi serta laju aliran permukaan yang terkontrol sehingga material dan unsur hara di dalam tanah terhambat (Agus et al., 1999).

Teknik-teknik konservasi tanah tersebut diuraikan di bawah ini (Subagyono et al., 2003):

1. Penghutanan Kembali (Reforestation)
Reforestation berfungsi untuk mengembalikan dan memperbaiki kondisi ekologi serta hidrologi dalam suatu wilayah dengan memanfaatkan tanaman pepohonan. Cara ini dilakukan untuk meningkatkan kadar bahan organik tanah dari serasah yang jauh di permukaan tanah serta fungsi tata air dapat dikembalikan sehingga sangat berpotensi dalam mendukung kesuburan tanah.
2. Wanatani (Agroforestry)
Agroforestry merupakan bentuk usaha konservasi tanah atau sistem penggunaan lahan yang mengintegrasikan tanaman pangan, pepohonan dan atau tanaman komoditas lain yang ditanam secara periodik, yang secara sosial dan ekologis layak dikerjakan oleh petani untuk meningkatkan produktivitas lahan dengan tingkat masukan dan teknologi rendah (Nair, 1989).

Penggunaan tanaman tahunan berpotensi dalam mengurangi erosi daripada tanaman komoditas pertanian. Tanaman tahunan mampu menahan energi kinetik air hujan, sehingga air yang sampai ke tanah dalam bentuk aliran batang (stemflow) dan aliran tembus (throughfall) tidak menghasilkan dampak erosi yang terlalu besar karena memiliki daun yang relatif lebih sehingga daerah penutupannya lebih luas. Sedangkan tanaman semusim berpotensi memberikan efek perlindungan tanah dari butiran hujan yang mempunyai energi perusak. Penggabungan keduanya dinilai dapat memberi keuntungan dua kali lipat baik dari tanaman tahunan maupun dari tanaman semusim. Penerapan wanatani pada lahan dengan lereng curam atau agak curam mampu mengurangi tingkat erosi dan memperbaiki kualitas tanah, dibandingkan apabila lahan terebut gundul atau hanya ditanami tanaman semusim. Secara umum, proporsi tanaman tahunan lebih banyak pada lereng yang semakin curam demikian juga sebaliknya (Subaggyono et al, 2003).

Sistem wanatani yang dikenal dan berkembang di kalangan masyarakat Indonesia terbagi beberapa macam yaitu:
  • Kebun campuran
  • Pagar hidup
  • Pertanaman sela
  • Pertanaman¬† lorong
  • Pekarangan
  • Silvipastura.
  • Talun hutan rakyat
  • Tanaman pelindung/multistrata

RECENT POSTS