Cara Mensucikan Najis

Cara Mensucikan Najis

Najis pada umumnya dibersihkan dengan menggunakan air yang dapat untuk bersuci, kecuali beberapa hal . Adapun penjelasan tentang cara membersihkannya menurut keadaan najis dan benda yang terkena najis adalah sebagai berikut:

  1. Apabila najis tersebut dapat dilihat seperti kotoran, darah, dsb, dan najis itu mengenai tempat , badan, atau pakaian, maka membersihkannya dengan digosok bersamaan dengan air, kemudian disiram dengan air sekali atau beberapa kali sehingga zat najis itu hilang warnanya, baunya, dan rasanya. Jika, setelah cukup dicuci, masih juga ada sedidkit warna dan bau yang sukar dihilangkan, hal itu dimaafkan.
  2. Apabila najis itu tak dapat dilihat, seperti air kencing yang sudah lama sehingga telah hilang tanda-tandanya atau sifat-sifatnya, maka cara membersihkannya cukup disiranm air sekali atau beberapa kali.
  3. Apabila barang yang terkena najis adalah barang cair, yakni selain air, maka dibuanglah atau tidak dapt digunakan barang tersebut sama sekali. Namun, jika yang terkena najis adalah barang yang kental, maka dibuanglah sebagian dari yang terkena najis itu.
  4. Membersihkan tanah yang terkena najis adalah dengan menuangkan air di atas tanah yang terkena najis tersebut. Apabila najis yang mengenai tanah itu cair, tanah menjadi suci jika cairan itu telah mongering. Tetapi jika najis itu berupa zat beku, maka tidak akan suci kembali kecuali zat najis itu dihilangkan.
  5. Peralatan yang permukaannya licin seperti cermin, pedang, dsb, apabila terkena najis cukup dibersihkan dengan cara digosok aatau mengusapnya sehingga hilang bekas-bekas najis itu.
  6. Sepatu dan sandal yang terkena najis cukup dibersihkan dengan cara menggosokkannya ke tanah sehingga hilang najis yang menempel pada sepatu dan sandal tersebut.

Membersihkan kulit binatang. Binatang yang dagingnya halal dimakan, mengandung ketentuan hukum tentang kesucian kulit tersebut dapat digunakan oleh manusia. Cara lain untuk menyucikan kulit hewan yang haram dimakan adalah dengan menyamak.[19]

Hadats secara etimologi (bahasa), artinya tidak suci atau keadaan badan tidak suci (maka tidak boleh pula melaksanakan shalat). Adapun menurut terminologi (istilah) Islam, hadats adalah keadaan badan yang tidak suci atau kotor dan dapat dihilangkan dengan cara berwudhu, mandi wajib, dan tayamum. Dengan demikian, dalam kondisi seperti ini dilarang (tidak sah) untuk mengerjakan ibadah yang menuntut keadaan badan bersih dari hadats dan najis, seperti shalat, thawaf, ’itikaf.[20]

Pembagian Jenis Hadats

Hadats terbagi menjadi dua yaitu:

  1. Hadats Kecil (Shughra)

Hadats yang mengakibatkan seseorang harus berwudhu atau bertayamum untuk menghilangkannya. Adapun hadats shughra disebabkan oleh beberapa hal, yaitu:

  1. Buang air (baik dari dubur maupun qubul)
    2. Buang angin
    3. Hilang akal sepert tidur, pingsan, ataupun gila.
    4. Menyentuh wanita yang bukan mahram dengan sengaja tanpa ada penghalang.
    5. Tersentuh kemaluan (qubul dan dubur) dengan telapak tangan atau jari-jarinya yang tidak memakai tutup (baik miliknya sendiri ataupun orang lain)
  2. Hadats Besar (Kubra)

Yaitu, hadats yang mengakibatkan seseorang harus mandi untuk menghilangkannya. Adapun yang menyebabkan seseorang harus mandi adalah:

1.Berhubungan kelamin (bersetubuh) walaupun tidak sampai keluar mani (sperma).
2.Mengeluarkan mani (sperma) baik sengaja  ataupun tidak.
3.Wanita yang selesai haid.
4.Wanita yang baru melahirkan dan selesai masa nifasnya.
5.Seseorang yang baru masuk Islam.

Sumber: https://ekonomija.org/penjualan-iphone-8-semakin-lemah-iphone-x-naik/