Jenis dan Tipe Konflik Kontemporer

Jenis dan Tipe Konflik Kontemporer

Jenis dan Tipe Konflik KontemporerJenis dan Tipe Konflik Kontemporer

Jenis Konflik dibagi menjadi dua macam yaitu:
Dimensi vertikal atau konflik elite: konflik antara elite dan massa (rakyat). Elite disini bisa diartikan para pengambil kebijakan ditingkat pusat,kelompok bisnis atau militer. Hal yang menonjol dalam konflik ini adalah digunakannya instrumen kekerasan negara sehinnga timbul korban dikalangan massa (Rakyat)
Konflik Horizontal yaitu konflik yang terjadi dikalangan massa (rakyat) sendiri. Misalnya konflik antar suku,antar agama.

 

Adapun Tipe-tipe konflik yaitu :

 

  1. Konflik Laten
Suatu keadaan yang didalamnya terdapat banyak persoalan,sifatnya tersembunyi dan perlu diangkat ke permukaan agar bisa ditangani
 2. Konflik terbuka
Konflik sosial telah muncul ke permukaan yang berakar dalam dan sangat nyata dan memerlukan berbagai tindakan untuk mengatasi akar penyebab dan berbagai efeknya.
 3. Konflik dipermukaan
Memiliki akar dangkal atau tidak berakar dan muncul hanya karena kesalahpahaman mengenai sasaran yang dapat ditandai dengan meningkatnya komunikasi.
Tipe ini bukan berarti tidak ada konflik berarti dalam masyarakat akan tetapi ada beberapa kemungkinan atas situasi ini diantaranya masyarakat mampu menciptakan struktur sosial yang bersifat mencegah ke arah konflik kekerasan dan memungkinkan anggota masyarakat menjauhi permusuhan dan kekerasan.

 D.  Contoh Analisis Konflik Kontemporer

Banyak kasus konflik di Indonesia contoh sederhana analisis pemetaan konflik diantaranya kasus konflik yang terjadi di Aceh hal ini bermula sejak Orde baru melakukan kekuasaan dari Orde lama. Dalam Era Orde Baru mengeksploitasi sumber daya alam guna menopang pembangunan nasional,seperti eksploitasi sumber daya alam Aceh dalam bentuk gas dan minyak bumi. Eksploitasi sumber daya alam Aceh hanya didistribusikan kembali ke Aceh hanya sampai 20% dari pemasukan eksploitasi alam.
Jumlah ini pun masih mungkin terkorupsi oleh pemerintah local Aceh waktu itu.Fakta ini yang menyebabkan masyarakat Aceh berada di bawah garis kemiskinan,berpendidikan rendah dan hancurnya identitas local. Pada kondisi inilah GAM (Gerakan Aceh Merdeka) mulai memberontak karena anggota GAM mengklaim bahwa Aceh tidak merupakan wilyah Indonesia karena Aceh tidak pernah di jajah oleh Belanda.Wilayah Indonesia hanyalah bekas wilayah Belanda semasa penjajahan. Hal ini membuat GAM tidak mengakui ada hubungan dengan Republik Indonesia dan di sisi lain Pemerintah Indonesia menganggap Aceh adalah wilayahnya sehinnga GAM adalah warga negara Indonesia. Pada masa Orde Baru Pemerintah Indonesia menganggap GAM adalah warga yang mengganggu stabilitas keamanan nasional.GAM sendiri ingin mendirikan negara yang bersumber hukum Islam.
Barulah pada masa demokrasi hubungan antara GAM dan Pemerintah Indonesia berubah.Pemerintah Indonesia tidak lagi menganggap GAM sebagai pengganggu ancaman keamanan nasional melainkan sebagai kelompok politik yang berhak untuk berbicara dengan Pemerintah. Pemicu konflik ini selama massa transisi demokrasi adalah operssi militer kedua tahun 1999. Pada tahun 2002 melalui tekanan USA,EU, Jepang dan World Bank mereka dipaksa menandatangani Cessation of Hoslities Agreement mewajibkan mereka menghentikan semua tindakan kekerasan guna memberi ruang bagi bantuan kemanusiaan tetapi hasilnya tidak berguna karena kedua belah pihak masih berselisih. Barulah ketika proses negoisasi damai di Helsinki masih alot dan pertempuran di lapangan masih panas ,bencana Tsunami menghancurkan Aceh pada tanggal 26 Desember 2004 membunuh ratusan ribu orang,merusak bangunan dan jaringan logistik,jaringan organisasi dan personel di Aceh. Akibat bencana Tsunami memberi dampak terhadap kedua belah pihak baik militer, politis, sosial, ekonomi sebagai pemicu deskalasi konflik. Kedua belah pihak mengalami fase stale mate yang ditandai melemahnya daya perang.Pada agustus 2005 pihak Pemerintah Indonesia dan GAM bersepakat menandatangani Perjanjian Damai Helsinki.