Hadis hasan adalah

Hadis hasan adalah

Hadis hasan adalah hadis yang bersambung sanadnya dan diriwayatkan oleh orang yang kurang sempurna kredilitasnya. Hadis hasan adalah hadis yang memenuhi semua syarat-syarat hadis shahih, hanya saja seluruh atau sebagian perawinya kurang dhabit. Dengan demikian perbedaan hadis shahih dan hadis hasan terletak pada tinggi atau rendahnya kedhabitan seorang rawi. Hadis hasan terbagi menjadi dua, yaitu :

  1. Hasan Lizzatihi. Maksudnya hadis itu telah memenuhi syarat-syarat hadis hasan.
  2. Hasan Lighairihi, Maksudnya hadis itu sanadnya ada yang dirahasiakan (Mastur), tidak jelas keahliannya, namuan mereka bukan pelupa, tidak banyak salah dan tidak dituduh dusta dalam periwayatannya. Pada mulanya hadis hasan ligahirih itu adalah hadis dha’if, namun karena ada dukungan sanad lain yang memperkuat, maka naik tingkatannya menjadi hadis Hasan.

Hadis hasan ini bisa dijadikan sebagai dasar sumber hukum Islam, namun tingkatannya di bawah hadis shahih.

Hadis Dha’if

Dha’if artinya “lemah”. Adapun yang disebut hadis dha’if adalah hadis yang kehilangan satu atau lebih syarat-syarat hadis shahih atau hadis hasan. Adapun yang dimaksud dengan hadis dha’if adalah sebagaimana rumusan sebagai berikut :

الحديث الضعيف ما لم يجمع صفة الحسن بفقد شرط من شروطه

Hadis dla’if adalah hadis yang tidak memiliki syarat sebagai hadis hasan karena hilangnya sebagian syarat). Pada dasarnya hadis dha’if itu disebabkan dua alasan, yaitu :

  1. Karena sanadnya tidak muttasil (bersambung)
  2. Nama hadis dhaif karena alasan / sebab tidak muttasilnya sanad antara lain ; hadis mursal, hadis munqati’, hadis mu’adhdhal, hadis mudallas, dan hadis muallal.
  3. Karena faktor lain misal dari matan

Nama hadis dhaif karena alasan / sebab ini antara lain hadis mudha’af, hadis mudhtharib, hadis maqlub, hadis mungkar, hadis matruk, dan hadis mathrub.

Menurut para Muhadditsin, sebab-sebab tertolaknya hadis sebagai sumber hukum bisa ditinjau dari dua faktor, yaitu Sanad dan matannya.

  1. Faktor Sanad

Dari faktor sanad ini bisa karena rawinya cacat dan bisa pula tertolak karena sanadnya tidak bersambung.

  1. Rawi Cacat

Rawi hadis yang cacat dari keadilan dan kedhabitan hadisnya disebut

1)      Mandhu’ (rawinya dusta)

2)      Matruk (tertuduh dusta)

3)      Munkar (fasik, banyak salah, lengah dalam hafalan)

4)      Mu’allal (banyak prasangka)

5)      Mudraj (penambahan suatu sisipan)

6)      Maqlub (memutarbalikkan)

7)      Mudhtharib (menukar-nukar rawi hadis)

8)      Muharraf (mengubah syakal – huruf)

9)      Mushahhaf (mengubah titik dan kata)

10)  Mubham (tidak diketahui identitasnya)

11)  Mardud (penganut Bid’ah)

  1. Sanadnya tidak bersambung

Hadis yang sanadnya gugur atau tidak bersambung hadisnya disebut

1)      Mu’allaq (gugur pada sanad pertama)

2)      Mursal (gugur pada sanad terakhir / shahabat)

3)      Mu’dhal (gugur dua orang rawi atau lebih berurutan)

4)      Munqhati’ (gugurnya rawi tidak berurutan)

  1. Faktor Matan

Hadis yang tertolak dari faktor matan hadis, maka hadisnya bisa karena berupa hadis

  1. Mauquf (disandarkan kepada sahabat)
  2. Maqthu’ (disandarkan kepada tabi’in).

Para ulama berbeda pendapat tentang penggunaan hadis dha’if sebagai hujjah (dasar hukum) atau sebagai amalan kebaikan. Pendapat pertama, menolak sama sekali menggunakan hadis dha’if. Baik untuk mendorong berbuat kebajikan maupun dalam penetapan hukum. Kedua, menerima secara utuh hadis dha’if. Ketiga, menolak sebagai hujjah (dasar hukum) dan menerima sekedar untuk memotifasi berbuat kebajikan dan nasehat asalkan hadisnya tidak terlalu janggal dan ada penguat dari hadis yang lainnya.

Dari ketiga pendapat tersebut, yang paling selamat adalah pendapat pertama, karena penuh dengan ihtiyat dan kehati-hatian agar tidak terjebak dalam perbuatan bid’ah.

Sumber: http://linux.blog.gunadarma.ac.id/2020/07/14/jasa-penulis-artikel/