Tanggapan konsumen atas rencana pelarangan diskon ojek online

Tanggapan konsumen atas rencana pelarangan diskon ojek online

Tanggapan konsumen atas rencana pelarangan diskon ojek online

Masyarakat yang sehari-hari menggunakan transportasi ojek online merasa khawatir dan keberatan atas rencana pemerintah melarang diskon tarif ojek online yang dinilai dapat menimbulkan persaingan tidak sehat.

“Enggak setuju, merugikan penumpang,” kata Rizky Fahira, saat dimintai pendapatnya mengenai hal tersebut, Rabu.

Rizky saat ini masih kuliah di tingkat awal, jika tidak membawa kendaraan

bermotor pribadi dia akan naik ojek online. Meski pun tidak setiap hari naik ojek online, dia merasa keberatan dengan rencana penghapusan diskon.

“Kebanyakan orang pindah ke ojek online karena ada diskon dan jadi lebih murah,” kata dia.

Diskon tarif yang diberikan penyedia jasa pemesanan ojek online menurut dia cukup berarti untuk ongkos jalan sehari-hari, tarif yang dia berikan lebih murah sehingga dia dapat menabung dari sisa ongkos hariannya.

Bernhart Farras, 23, akan berpikir dua kali untuk naik transportasi online

jika potongan harga tarif benar-benar dihilangkan karena dia merasa ada kenaikan yang signifikan setelah pemberlakuan tarif baru.

Bernhart semula menggunakan kendaraan pribadi untuk pergi bekerja, namun, saat ini dia setiap hari naik ojek online minimal untuk perjalanan pergi dan pulang ke kantor.

Dia menganggarkan Rp30.000 hingga Rp40.000 per hari untuk naik ojek

online. Jika nanti larangan diskon tarif transportasi online berlaku dan dia perlu transportasi online, maka dia memilih menggunakan ojek ketimbang taksi online karena perbedaan tarif yang signifikan setelah tarif batas atas dan batas bawah berlaku.

Keberatan yang sama juga dirasakan Marsya (26) karena diskon ojek online membantu meringankan pengeluarannya sehari-hari.

 

Baca Juga :