Sistem Politik Dan Kemasyarakatan

Sistem Politik Dan Kemasyarakatan

Sistem Politik Dan Kemasyarakatan

Sistem Politik Dan Kemasyarakatan

  1. Sistem Poitik

Bangsa Arab sebelum islam, hidup bersuku-suku (kabilah-kabilah) dan berdiri sendiri-sendiri. Satu sama lain kadang-kadang saling bermusuhan. Mereka tidak mengenal rasa ikatan nasional. Yang ada pada mereka hanyalah ikatan kabilah. Dasar hubungan dalam kabilah itu ialah pertalian darah. Rasa ashabiyah (kesukuan) amat kuat dan mendalam pada mereka, sehingga bila mana terjadi salah seorang di antara mereka teraniaya maka seluruh anggota-anggota kabilah itu akan bangkit membelanya. Semboyan mereka “ Tolong saudaramu, baik dia menganiaya atau dianiaya “.

Pada hakikatnya kabilah-kabilah ini mempunyai pemuka-pemuka yang memimpin kabilahnya masing-masing. Kabilah adalah sebuah pemerintahan kecil yang asas eksistensi politiknya adalah kesatuan fanatisme, adanya manfaat secara timbal balik untuk menjaga daerah dan menghadang musuh dari luar kabilah. Kedudukan pemimpin kabilah ditengah kaumnya, seperti halnya seorang raja. Anggota kabilah harus mentaati pendapat atau keputusan pemimpin kabilah. Baik itu seruan damai ataupun perang. Dia mempunyai kewenangan hukum dan otoritas pendapat, seperti layaknya pemimpin dictator yang perkasa. Sehingga adakalanya jika seorang pemimpin murka, sekian ribu mata pedang ikut bicara, tanpa perlu bertanya apa yang membuat pemimpin kabilah itu murka.
Kekuasaan yang berlaku saat itu adalah system dictator. Banyak hak yang terabaikan. Rakyat bisa diumpamakan sebagai ladang yang harus mendatangkan hasil dan memberikan pendapatan bagi pemerintah. Lalu para pemimpin menggunakan kekayaan itu untuk foya-foya mengumbar syahwat, bersenang-senang, memenuhi kesenangan dan kesewenangannya. Sedangkan rakyat dengan kebutaan semakin terpuruk dan dilingkupi kezhaliman dari segala sisi. Rakyat hanya bisa merintih dan mengeluh, ditekan dan mendapatkan penyiksaan dengan sikap harus diam, tanpa mengadakan perlawanan sedikitpun.

  1. Sistem Kemasyarakatan

Bila ditinjau dari segi daerah tempat tinggal, bangsa Arab yang yang wilayahnya terdiri dari padang pasir dan stepa, dapat dibedakan menjadi dua kelompok besar, yakni penduuduk pedalaman (Badui/A’rabi) dan penduduk perkotaan. Penduduk pedalaman tidak mempunyai tempat tinggal tetap. Mereka adalah kaum Nomad yang hidup bepindah-pindah dari satu kawasan satu ke kawasan lain bersama binatang ternak mereka untuk mencari sumber mata air dan padang rumput yang subur (oase). Kaum Badui ini hidup dari beterak kambing dan memerah susu sebagai konsumsi sehari-hari. Sedangkan penduduk perkotaan sudah memiliki tempat tinggal permanen di beberapa kota kecil secara terpisah-pisah. Mereka sudah memiliki beragam keterampilan seperti berdagang, bercocok tanam, atau beternak.
Baik penduduk perkotaan maupun pedalaman, mereka semua hidup berkabilah-kabilah atau bersuku-suku sesuai garis keturunan (klan) masing-masing. Oleh karena itu, seringkali terjadi perselisihan antar kabilah yang biasanya berakhir dengan peperangan dan pertumpahan darah.


Sumber: https://superforex.co.id/golden-axe-classic-apk/