Pejuang Demokrasi Untuk Rakyat Burma

Pejuang Demokrasi Untuk Rakyat Burma

Pejuang Demokrasi Untuk Rakyat Burma

Pejuang Demokrasi Untuk Rakyat Burma
Pejuang Demokrasi Untuk Rakyat Burma

Aung San Suu Kyi adalah warga negara Burma (yang saat ini bernama Myanmar, semenjak Junta Militer berkuasa maka diganti dengan nama Myanmar padahal Burma adalah nama yang diberikan oleh pejuang kemerdekaan salah satunya adalah dari ayah San Suu Kyi) anak dari seorang pejuang Burma bernama Jenderal Aung San yang mati di bunuh oleh musuhnya sendiri di tahun yang sama ketika Burma merdeka. San Suu Kyi tidak semapt mengenal ayahnya karena saat itu ia berusia 2 tahun. San Suu Kyi adalah sosok perempuan tangguh dan mempunyai intelektualitas yang tidak diragukan lagi dengan riwayat pendidikan di beberapa universitas terkemuka di dunia seperti Oxford, London dan New Delhi.

Burma sampai saat ini masih dikuasai oleh pemerintahan otoriter yang tidak lain berasal dari Rezim Junta Militer, dan selama 20 tahun terakhir berkuasa tanpa adanya pemilu. San Suu Kyi memiliki karakter menyerupai ayahnya dengan semangat dan ketegasan yang melekat pada pribadinya. Tepat pada tahun 1988 San Suu Kyi berkomitmen untuk berjuang menyuarakan demokrasi di tanah airnya atas dasar keprihatinannya melihat penderitaan rakyat Burma. San Suu Kyi pada tahun yang sama pula akhirnya membentuk sebuah Partai berasaskan demokrasi dengan nama NLD (National League for Democracy). Prinsip tanpa kekerasan tertanam di diri San Suu Kyi yang terinspirasi dari ajaran Mahatma Gandhi dan Martin Luther dalam meraih kemerdekaan.

Karakter pemikiran San Suu Kyi jelas terlihat dalam pidatonya tahun 1990 yang berjudul “Freedom From Fear” lewat sepenggal kalimat yang ia katakan yaitu “betapa kerap kali ambisi terhadap kekuasaan seringkali menimbulkan ketakutan baik bagi orang yang memiliki kekuasaan itu sendiri yang takut kehilangan akan kekuasaannya yang pada akhirnya demi menmpertahankan kekuasaannya itu menciptakan ketakutan bagi orang lain (rakyat)”[1].

“Kekuasaan itu bukanlah sebuah kejahatan. Namun, rasa ketakutan akan kehilangan kekuasaan itulah yang pada akhirnya melahirkan kejahatan. Dan perasaan seperti itu seringkali mengorupsi penguasa.” Mungkin itu inti dari apa yang dimaksud oleh San Suu Kyi sekaligus sebuah gambaran nyata kondisi di Burma (Myanmar) sampai saat ini. San Suu Kyi memiliki semangat perubahan untuk menggulingkan pemerintahan Junta Militer yang sangat otoriter dan kejam. Faktanya, rakyat Burma saat ini di tekan dan dikekang oleh militer yang notabenenya adalah pilar pengokoh Junta Militer. Tidak adanya kebebasan berpendapat, berekspresi, memilih dan apalagi untuk meminta transparansi kegiatan pemerintah. Hal ini yang membuat San Suu Kyi geram serta berambisi untuk berjuang menyuarakan demokrasi kepada seluruh rakyat Burma. San Suu Kyi melakukan ini tidak serta merta berjalan mulus tanpa halangan melainkan ia harus berkorban banyak bagi tujuannya itu. San Suu Kyi harus rela kehilangan kebebasannya karena dipenjarakan kurang lebih 20 tahun serta berpisah dengan suami dan anak-anaknya bertahun-tahun hingga sampai suaminya telah mati. Namun San Suu Kyi tidak menginginkan itu disebut sebagai pengorbanan. Seperti apa yang ia katakan, “Kalau Anda memutuskan melakukan sesuatu, jangan sebut itu sebagai pengorbanan karena tidak ada orang yang memaksa
Anda melakukannya”

San Suu Kyi pun mengajarkan keberanian dan semangat untuk sama-sama berjuang dalam meraih sebuah tata pemerintahan yang demokratis, hal ini dibuktikan dengan ajakan yang dia lontarkan saat pidato Freedom From Fear, “Jangan hanya tergantung pada keteguhan hati dan keberanian orang lain. Setiap orang harus berkorban untuk menjadi pahlawan. Maka jika boleh kita semua akan merasakan kebebasan sejati.

Sumber : https://multi-part.co.id/the-arcana-apk/