Makin Miris, Nasib GTT di Pacitan

Makin Miris, Nasib GTT di Pacitan

Makin Miris, Nasib GTT di Pacitan

Makin Miris, Nasib GTT di Pacitan
Makin Miris, Nasib GTT di Pacitan

Berdasarkan pesan dari “himne”-nya, guru adalah pahlawan tanda tanda jasa.
Berita Terkait
Sleman Naikkan Honor GTT/PTT, Daerah Lain?
Jutaan Guru Indonesia Masih Belum Sejahtera
Fadli Zon Soroti Hari Guru Nasional Namun Guru Belum Sejahtera

Tapi, sebenarnya, yang paling pantas dengan “gelar” itu hanyalah mereka yang berstatus Guru Tidak Tetap (GTT).

Betapa tidak? Jam mengajar, sama. Saling berbagi ilmu kepada murid, juga sama. Namun, pangkat dan gajinya bak bumi dan langit.

Angka Rp 150 ribu per bulan tentunya sangatlah memiriskan hati. Bagaimana mungkin menutupi kebutuhan hidup selama satu bulan —apalagi untuk beli bedak dan bumbu dapur.

Begitu jualah kisah GTT dari Kabupaten Pacitan, Jawa Timur, yang satu ini,

Siti Ngayumi(40).

Ia mengajar di salah satu Sekolah Dasar sejak tahun 2007. Namun, hingga kini, setelah berjalan 12 tahun, nasibnya belum juga berubah.

Saat berbincang dengan Kontributor MoeslimChoice di Pacitan, Suluh Apriyanto, dia mengeluhkan nilai gajinya yang jauh di bawah minimal, bahkan cenderung tidak manusiawi.

Faktor usianya yang sudah mencapai kepala empat menjadi kendala utama baginya untuk mengikuti seleksi CPNS.

“Terus terang, saya dan teman-teman lain yang masih GTT, dengan usia

yang sudah tua, sangat kecewa. Tapi, apa daya, nasib kami-kami ini memang tidak mujur,” ucapnya, Jumat (15/11/2019).

Memang, lanjut Siti, secara persentase, gajinya sejak mengajar tahun 2007 hingga 2019 ini sudah meningkat tiga kali lipat. Tapi, besarannya sungguh memilukan.

Saat pertama mengajar di tahun 2007, Siti mendapat gaji sebesar Rp 50 ribu per bulan. Kini, setelah 12 tahun mengajar, ia memperoleh gaji Rp 150 ribu per bulan.

Maka, sungguh masuk akal kalau kemudian ia menyampaikan harapan agar

pemerintah segera memperhatikan nasib para pengajar berstatus GTT yang sudah berusia tua ini.

“Kami, mewakili semua GTT yang sudah tidak bisa mengikuti seleksi CPNS, meminta pemerintah untuk memberikan perhatian yang layak,” tegasnya.

Karena, menurutnya, kendati hanya berstatus GTT, mereka juga telah ikut berkontribusi mencetak generasi masa depan bangsa dan negara.

“Semoga nasib GTT tak lagi dianaktirikan, terutama yang sudah berusia tua dengan pengalaman lumayan panjang,” pungkasnya

 

Sumber :

https://my.sterling.edu/ICS/Academics/LL/LL379__UG08/FA_2008_UNDG-LL379__UG08_-A/Blog_105.jnz?portlet=Blog_105&screen=View+Post&screenType=next&&Id=dc470024-0aec-432c-bf79-108752dbf4b8