Cinta itu Bukan Mainan

Table of Contents

Cinta itu Bukan Mainan

Suatu ketika, aku tengah berjalan-jalan bersama teman-teman di sebuah mall. Yah, hanya hanyalah membiarkan capek saja, tidak berbelanja banyak, hanya hanyalah makan dan cuci mata saja. Di tempat tersebut, aku memandang banyak remaja pria dan wanita, bersama kisaran usia 12 sampai 15 tahun yang duduk-duduk di sekitaran mall tersebut. Darimana aku tahu? Tubuh remaja itu muncul sekali lho, tak sekedar ada yang kecil, termasuk ada yang belum terbentuk sempurna. Yang memicu miris adalah mereka tidak hanya hanyalah duduk saja, tetapi mereka sudah didalam kategori bermesraan. Bahkan mengalahkan orang yang sudah dewasa layaknya kami-kami yang melihatnya.

Memang adalah wajar bagi semua orang jika idamkan menjalin hubungan percintaan. Apalagi jika memasuki era remaja, hormon seksual baik primer maupun sekunder berada didalam level yang tinggi sebab proses pematangan organ seksual. Oleh sebab itulah perasaan cinta menjadi meruak dan menggelegak didalam diri remaja. Saya dan teman-teman pun dulu merasakan perihal tersebut. Hal ini sering disebut sebagai cinta monyet, rasa cinta yang berdasarkan rasa senang saja, bukan disebabkan kasih sayang yang mendalam dan dimatangkan oleh logika yang benar. Pada pas layaknya ini, jatuh cinta rasanya sejuta indahnya. Bahkan mampu sampai tidak mampu tidur.
Namun sayangnya cinta monyet ini hanya berorientasi jangka pendek. Cinta monyet hanyalah cinta untuk bersenang-senang. Jika susah, ya lu tanggung aja sendiri, gw sih ogah! Begitu kata mereka. Cinta yang sebetulnya adalah cinta yang dilandasi kasih sayang yang tulus bersama orientasi membina hubungan jangka panjang bersama terima berlebihan dan kekurangan pasangan dan juga ada kala senang maupun duka. Oleh sebab itu, kita iangatkan kepada adik-adik yang masih remaja, bahwa cinta itu bukan mainan lho. Cinta itu adalah suatu perkara yang unik dan terlalu rapuh. Jika cinta ini dibuat main-main, maka pasti dapat menyebabkan rasa sakit yang konsisten terulang dan terulang sepanjang waktu. Seperti yang kita ingatkan sebelumnya, bahwa cinta itu perihal bersama tanggung jawab.

Jadi, untuk adik-adik yang idamkan menjalin hubungan cinta, coba pikirkan lagi. Apakah adik-adik benar mencintai seseorang untuk obyek jangka panjang membina hubungan bersama sampai akhir hayat atau hanya untuk bersenang-senang saja? Cobalah untuk meminta panduan dan nasehat berasal dari rekan-rekan adik-adik atau berasal dari orang yang mampu adik-adik percayai nasehatnya. Pikirkan era depan, menjalin cinta sebetulnya menarik dan menyenangkan, tetapi apakah siap terima kemungkinan efek yang buruk? Apalagi model pacaran anak muda sekarang terlalu berbahaya dan berbahaya jika dicermati berasal dari kacamata kami. Jangan biarkan era depan adik-adik jadi suram dan terbelokkan oleh kekeliruan yang sebetulnya mampu dihindari. Lebih baik adik-adik sekalian fokus kepada apa yang jadi cita-cita kalian. Nanti, jika kalian sudah meraih cita-cita, cinta itu dapat mampir bersama sendirinya. Dan kali ini adalah cinta sejati, menemani kalian sampai mati.

Baca Juga :