Tipiskan Gap, Ketua PB PAPDI Motivasi Lulusan Spesialis Internis Ikuti PGDS

Tipiskan Gap, Ketua PB PAPDI Motivasi Lulusan Spesialis Internis Ikuti PGDS

Tipiskan Gap, Ketua PB PAPDI Motivasi Lulusan Spesialis Internis Ikuti PGDS

Tipiskan Gap, Ketua PB PAPDI Motivasi Lulusan Spesialis Internis Ikuti PGDS
Tipiskan Gap, Ketua PB PAPDI Motivasi Lulusan Spesialis Internis Ikuti PGDS

Pemberdaya Gunaan Dokter Spesialis (PGDS) program dari Kementerian Kesehatan mendapat tanggapan positif dari Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI).

Diwakili oleh Ketua umum PB PAPDI, Dr dr Sally Aman Nasution SpPD KKV FINASIM FACP, mengatakan bahwa program PGDS yang telah berlangsung 2 tahun ini berlangsung dengan baik. Meskipun sebelumnya sempat diisukan akan sepi peminat karena program yang menggantikan WKDS (Wajib Kerja Dokter Spesialis) yang mewajibkan dokter spesialis mengabdi didaerah terpencil karena dirasa tidak ada lagi kewajiban mengabdi bagi dokter spesialis.

“Ternyata, meskipun mengganti WKDS tetap masih diminati, dan berjalan baik. Dari mana saya menilai baik karena dibeberapa daerah terpencil yang selama ini tidak bisa menjalankan operasi menjadi bisa menjalan operasi pertama kalinya,” ungkap Dr Sally.

Meskipun kabar ini bukan dari spesialis penyakit dalam tetapi saya terus mendorong dokter internis yang baru lulus untuk mau mengabdikan dirinya ke Daerah Kepulauan Terpencil dan Perbatasan (DKPT).

“Beberapa waktu yang lalu saya keliling bersama kementerian kesehatan

untuk sosialisasi dan memberikan motivasi kepada lulusan untuk mau ikut PGDS. Kemarin kami ke Udayana untuk itu,” tambahnya.

Masih tidak bisa dipungkiri bahwa terjadi maldistribusi PGDS oleh karenanya Dr Sally juga berperan untuk mengatur sirkulasi dan pemetaan penempatannya terutama untuk dokter spesialis Penyakit Dalam.

“Memang internis adalah dokter yang harus ada di fasilitas kesehatan

tingkat manapun oleh karenanya saya mengatur sirkulasinya. Karena tidak mungkin juga mengirim internis jika daerah tersebut tidak memiliki cukup alat yang diperlukan, lebih baik menunggu atau difokuskan ke daerah lain terlebih dahulu,” jelas Dr Sally.

Selain itu, pentingnya motivasi dan semangat dokter spesialis untuk

mengikuti PGDS karena untuk menghadapi MEA 2020. Ia mewanti wanti jangan sampai daerah-daerah yang tidak memiliki dokter malah diisi oleh dokter asing.

“Menghadapi MEA kita harus menggalakkan PGDS. Kebayang ndak kalau yang ngisi dokter asing

 

Sumber :

https://www.disdikbud.lampungprov.go.id/projec2014/majapahit/