Buang-buang Anggaran, PPG Tidak Sama dengan Teaching License

Buang-buang Anggaran, PPG Tidak Sama dengan Teaching License

Buang-buang Anggaran, PPG Tidak Sama dengan Teaching License

Buang-buang Anggaran, PPG Tidak Sama dengan Teaching License
Buang-buang Anggaran, PPG Tidak Sama dengan Teaching License

Wacana sertifikat mengajar (teaching license) tengah mengemuka. Banyak yang meminta agar sertifikat itu dilakukan agar guru bisa berkualitas. Menurut Kemdikbud, sertifikat mengajar di Indonesia diwujudkan lewat Pendidikan Profesi Guru (PPG).

Namun menurut Ketua Ikatan Guru Indonesia (IGI), Muhammad Ramli Rahim, skema PPG yang dilakukan pemerintah saat ini sayangnya tidak berdampak pada peningkatan mutu dan kualitas pendidikan. Pasalnya, PPG tidak diimbangi dengan pembinaan dan pelatihan berkelanjutan. Guru hanya mengejar target untuk lulus ujian tanpa adanya dampak perubahan pola pengajaran dalam kelas.

“PPG itu hanya membuang-buang anggaran karena tidak sama dengan

teaching license yang diterapkan di Singapura karena di sana (Singapura) enggak sembarangan orang bisa jadi guru. Guru di sana memiliki kewajiban minimal 100 jam untuk pembinaan kompetensi. Bayangkan, guru di sana jika tidak memenuhi persyaratan maka teaching license-nya akan diambil,” ujarnya kepada SP.

Ramli menuturkan, IGI mengklaim PPG tidak ideal karena berdasarkan hasil survei IGI, banyak guru yang mengikuti PPG, tetapi tidak mengalami perubahan. Yang mereka dapatkan hanya sebatas sertifikat atau prestasi di atas kertas. Sedangkan perubahan yang mendasar yakni di dalam kelas tidak terlihat. Para murid tetap merasa tidak nyaman untuk belajar.

Ramli menegaskan, PPG harus berkaca dari pendidikan profesi dokter.

Dalam pendidikan itu, para calon dokter dibina dan dibimbing langsung oleh dokter senior yang memang berpraktik di rumah sakit. Kemampuan anak didik tersebut pun diketahui langsung oleh mentornya. Sementara yang terjadi pada PPG, para pengajar pada umumnya tidak memahami kondisi lapangan.

“Pengajar tidak paham konsep pendidikan yang sesungguhnya. Mereka itu

dosen-dosen baru jadi tidak ada persiapan dan pengalaman untuk mengajar pendidikan dan pelatihan profesi guru. Sehingga guru yang ikut PPG maupun yang tidak ikut PPG, sama sekali tidak ada perbedaan. Menurut kami, ini membuang anggaran saja,” ujarnya.

Ia menambahkan, pelatihan guru yang tepat adalah program Sarjana Mendidik di Daerah Terluar, Terdepan, dan Tertinggal (SM3T). Di program itu, para calon guru merasakan langsung dan memiliki ikatan emosional untuk pengabdian. Sedangkan PPG hanya berupa pendidikan formalitas tanpa ada dampak.

 

Sumber :

https://vidmate.co.id/