Kenali Bahaya Rabies pada Manusia dan Cara Penanganannya

Kenali Bahaya Rabies pada Manusia dan Cara Penanganannya

Kenali Bahaya Rabies pada Manusia dan Cara Penanganannya
Kenali Bahaya Rabies pada Manusia dan Cara Penanganannya

Rabies atau yang dikenal juga dengan istilah penyakit anjing gila merupakan infeksi virus pada otak dan sistem syaraf. Penyakit itu tergolong sangat berbahaya karena berpotensi besar menyebabkan kematian.

Penyebab rabies adalah virus bernama RNA dan genus Lyssavirus, famili Rhabdoviridae, yaitu virus yang berbentuk seperti peluru bersifat neurotropis, menular dan ganas.

Virus tersebut bersarang pada air liur hewan yang telah terinfeksi. Hewan yang telah terinfeksi dapat menyebarkan virus dengan menggigit hewan lain atau manusia.
Pada umumnya, virus rabies ditemukan di hewan liar.

Beberapa hewan liar yang menyebarkan virus tersebut adalah sigung, rakun, kelelawar, dan rubah. Namun, di beberapa negara, masih banyak binatang peliharaan yang rupanya membawa virus tersebut, termasuk kucing dan anjing.

Gejala yang timbul apabila hewan terinfeksi rabies di antaranya, perubahan

perilaku hewan yang tidak mengenal pemiliknya, tidak menuruti perintah pemiliknya, mudah terkejut, kemudian mudah memberontak, takut pada cahaya atau sinar dan juga gelisah, beringas, mengalami kelumpuhan tenggorokan dan kaki belakang, sebelum akhirnya mati.

Prof. Dr. Suwarno, drh., M.Si, guru besar Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Universitas Airlangga (UNAIR) menjelaskan bahwa potensi terjangkit rabies juga berlaku pada manusia. Data dari Kementerian Kesehatan menunjukkan, setiap tahun rabies menyebabkan sekitar 59.000 kematian.

Jika dikalkulasi, terdapat seratus orang lebih yang meninggal karena rabies tiap harinya. Sebanyak sembilan puluh sembilan persen kasus rabies terjadi karena gigitan anjing yang terinfeksi virus. Sementara satu persen terjadi pada kucing, kera, dan musang. Ironisnya, 40 persen korban tergigit anjing rabies dan meninggal adalah usia anak-anak.

Postur tubuh anak-anak yang kecil membuat mereka rawan mendapat

gigitan di area kepala. Selain itu, menurut Prof. Suwarno, banyaknya korban anak-anak juga disebabkan mitos yang berkembang di masyarakat terkait tindakan yang dilakukan saat seseorang dikejar anjing.

“Nasihat orang tua dulu kalau dikejar anjing itu harus duduk jongkok (agar anjing berhenti mengejar, Red). Itu yang salah,” ujar Prof. Suwarno.

Sebab, lanjutnya, anjuran tersebut justru dapat menyebabkan anjing

menyerang dan menggigit di sekitar area kepala. Gigitan di area kepala akan mempercepat perjalanan virus rabies menyerang syaraf otak dan kelenjar ludah.

 

Baca Juga :

Tiga Dosen ITS Raih Penghargaan Academic Leader Award 2019

Tiga Dosen ITS Raih Penghargaan Academic Leader Award 2019

Tiga Dosen ITS Raih Penghargaan Academic Leader Award 2019
Tiga Dosen ITS Raih Penghargaan Academic Leader Award 2019

Prestasi membanggakan ditorehkan tiga dosen Institut Teknologi Sepuluh

Nopember (ITS) dalam ajang Academic Leader Award 2019 yang diselenggarakan oleh Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti). Tiga gelar dalam ajang bergengsi ini berhasil diraih ITS pada malam penganugerahan yang dilaksanakan di Jakarta, Selasa kemarin.

Ialah Prof Dr Ketut Buda Artana ST MSc sebagai pemenang pertama Academic Leader 2019 dalam bidang Keilmuan Kemaritiman. Ia mengangkat Automatic Identification System ITS (AISITS) sebagai produk yang diunggulkan melalui bidang ini. “Hal yang lebih ditekankan adalah bagaimana AIS ITS dikembangkan, ditingkatkan, hingga berhasil dikomersialisasikan,” ungkapnya ditemui di Rektorat ITS, Rabu (2/10/2019).

Ia pun menambahkan, dengan berhasil dikomersialisasikan produk

tersebut akan meningkatkan potensi produk itu untuk digunakan dalam industri. AIS ITS sendiri sudah dikembangkan sejak lama melalui bantuan berbagai pihak seperti banyak laboran di ITS, Science Technopark, Pusat Unggulan Iptek (PUI), hingga dukungan ITS sebagai institusi. “Maka dari itu, penghargaan ini sejatinya saya anggap diberikan untuk ITS, bukan untuk saya pribadi,” tuturnya merendah.

Academic Leader Award sendiri merupakan ajang tahunan yang

diselenggarakan oleh Kemenristekdikti melalui Ditjen Sumber Daya Iptek Dikti. Ada tiga kategori utama yang dinominasikan yaitu Academic Leader untuk Dosen dengan Tugas Tambahan sebagai Rektor, Academic Leader untuk Dosen dengan Tugas Tambahan sebagai Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI), dan Academic Leader untuk dosen dalam berbagai bidang. “Nah saya masuk kategori dosen di antara delapan bidang yang dilombakan, yaitu bidang Keilmuan Kemaritiman,” cerita mantan Wakil Rektor IV ITS ini.

 

Sumber :

https://www.disdikbud.lampungprov.go.id/projec2014/suku-jawa/

Tipiskan Gap, Ketua PB PAPDI Motivasi Lulusan Spesialis Internis Ikuti PGDS

Tipiskan Gap, Ketua PB PAPDI Motivasi Lulusan Spesialis Internis Ikuti PGDS

Tipiskan Gap, Ketua PB PAPDI Motivasi Lulusan Spesialis Internis Ikuti PGDS
Tipiskan Gap, Ketua PB PAPDI Motivasi Lulusan Spesialis Internis Ikuti PGDS

Pemberdaya Gunaan Dokter Spesialis (PGDS) program dari Kementerian Kesehatan mendapat tanggapan positif dari Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI).

Diwakili oleh Ketua umum PB PAPDI, Dr dr Sally Aman Nasution SpPD KKV FINASIM FACP, mengatakan bahwa program PGDS yang telah berlangsung 2 tahun ini berlangsung dengan baik. Meskipun sebelumnya sempat diisukan akan sepi peminat karena program yang menggantikan WKDS (Wajib Kerja Dokter Spesialis) yang mewajibkan dokter spesialis mengabdi didaerah terpencil karena dirasa tidak ada lagi kewajiban mengabdi bagi dokter spesialis.

“Ternyata, meskipun mengganti WKDS tetap masih diminati, dan berjalan baik. Dari mana saya menilai baik karena dibeberapa daerah terpencil yang selama ini tidak bisa menjalankan operasi menjadi bisa menjalan operasi pertama kalinya,” ungkap Dr Sally.

Meskipun kabar ini bukan dari spesialis penyakit dalam tetapi saya terus mendorong dokter internis yang baru lulus untuk mau mengabdikan dirinya ke Daerah Kepulauan Terpencil dan Perbatasan (DKPT).

“Beberapa waktu yang lalu saya keliling bersama kementerian kesehatan

untuk sosialisasi dan memberikan motivasi kepada lulusan untuk mau ikut PGDS. Kemarin kami ke Udayana untuk itu,” tambahnya.

Masih tidak bisa dipungkiri bahwa terjadi maldistribusi PGDS oleh karenanya Dr Sally juga berperan untuk mengatur sirkulasi dan pemetaan penempatannya terutama untuk dokter spesialis Penyakit Dalam.

“Memang internis adalah dokter yang harus ada di fasilitas kesehatan

tingkat manapun oleh karenanya saya mengatur sirkulasinya. Karena tidak mungkin juga mengirim internis jika daerah tersebut tidak memiliki cukup alat yang diperlukan, lebih baik menunggu atau difokuskan ke daerah lain terlebih dahulu,” jelas Dr Sally.

Selain itu, pentingnya motivasi dan semangat dokter spesialis untuk

mengikuti PGDS karena untuk menghadapi MEA 2020. Ia mewanti wanti jangan sampai daerah-daerah yang tidak memiliki dokter malah diisi oleh dokter asing.

“Menghadapi MEA kita harus menggalakkan PGDS. Kebayang ndak kalau yang ngisi dokter asing

 

Sumber :

https://www.disdikbud.lampungprov.go.id/projec2014/majapahit/

SMART Ekselensia Gratiskan Biaya Sekolah

SMART Ekselensia Gratiskan Biaya Sekolah

SMART Ekselensia Gratiskan Biaya Sekolah
SMART Ekselensia Gratiskan Biaya Sekolah

Dompet Dhuafa mendirikan sekolah SMART Ekselensia Indonesia sebagai bentuk kepeduliannya dan langkah nyata untuk mengentaskan rakyat dari kebodohan serta memutus rantai kemiskinan. Berlokasi di Parung, Kabupaten Bogor, SMART Ekselensia Indonesia merupakan sekolah asrama gratis yang memfasilitasi anak-anak marjinal dari berbagai daerah di Indonesia untuk mendapatkan pendidikan yang lebih baik.

Sekolah menengah akselerasi ini ditempuh dalam masa pendidikan lima tahun, yakni tiga tahun untuk jenjang SMP dan dua tahun untuk jenjang SMA. Saat ini, SMART Ekselensia memiliki 175 siswa dan dikelola 34 guru serta 6 wali asrama. Salah satu siswa yang memetik manfaat dari sekolah ini adalah Fajar Irianto, peserta didik kelahiran Timika Baru, Kabupaten Mimika, Papua.

Anak ketiga dari empat bersaudara ini kini tengah menjalani tahun

kelimanya di sekolah SMART Ekselensia. Fajar adalah salah satu yang beruntung bisa melanjutkan pendidikannya ke tingkat SMP di sekolah ini setelah dipertemukan dengan utusan Lembaga Pengembangan Insani (LPI) Dompet Dhuafa pada 2014 lalu. “SD saya dulu di SD Inpres Timika 2. Setelah lulus, saya dikasih tahu kalau ada sekolah gratis di Jakarta. Setelah itu ada kemungkinan mendapat beasiswa kuliah juga,” tuturnya.

Fajar harus menjalani proses seleksi yang panjang sebelum dapat bersekolah di sini. Setelah lolos seleksi dan dinyatakan diterima, ia pun masih harus meyakinkan orang tuanya agar memberi izin untuk bersekolah di kota yang berbeda. Selain itu, bagi Fajar yang hidup selama 12 tahun di Papua, suasana di Pulau Jawa tempatnya bersekolah juga terasa asing.

Namun, semua itu terbayar dengan tempat tinggal yang aman, lingkungan

yang nyaman, pendidikan berkualitas, serta guru berintegritas dan fasilitas lainnya. Dompet Dhuafa pun memfasilitasi para siswanya dengan sarana dan prasarana yang baik di sekolah ini. Mulai dari ruang belajar ber-AC, laboratorium komputer dan IPA, hingga sarana olahraga seperti lapangan basket dan futsal.

Para siswa di sekolah ini dibina dengan sistem pendidikan yang

memadukan vocational skill, public speaking, praktik ibadah, dan dasar-dasar kepemimpinan. Tak jarang, mereka pun dilibatkan dalam acara LPI sebagai panitia untuk melatih kemampuan berorganisasinya. “Saya dulu juga pernah jadi ketua panitia lomba mini soccer. Padahal itu perdana, tapi ya Alhamdulillah semua bisa berjalan dengan lancar dan sukses berkat bimbingan dari para guru dan dari teman-teman,” ungkap Fajar.

 

Baca Juga :

Siswa SMP YTM Jajal UNBK

Siswa SMP YTM Jajal UNBK

Siswa SMP YTM Jajal UNBK
Siswa SMP YTM Jajal UNBK

SMP YTM menggelar simulasi Ujian Nasional Berbasis Komputer ( UNBK)

bagi siswa kelas 9 di lingkungan sekolahnya. Kegiatan ini untuk mengukur kemampuan siswa siswinya dalam menghadapi UNBK yang sesungguhnya pada 2020.

Menurut Kepala SMP YTM, Tetik Purwati, simulasi ini diikuti seluruh siswa

kelas 9 dan tidak ada yang absen. Dalam simulasi ini para siswa mengikuti semua aturan yang sudah ditetapkan pihak sekolah seperti layaknya mereka menghadapi UNBK yang sesungguhnya. “Alhamdulilah para siswa rata – rata sudah bisa mengoperasikan perangkat komputer sehingga simulasi berjalan lancar,”ungkapnya.

Tetik berharap ke depannya siswa kelas fokus menatap UNBK dengan

mengurangi kegiatan di luar rumah yang tidak tidak ada manfaatnya. Sebab dikhawatirkan akan mengganggu saat menghadapi UNBK yang akan dilaksanakan secara serentak di seluruh Indonesia. “Semoga saja para siswa kelas 9 pada saat UNBK nanti bisa mendapatkan nilai yang memuaskan sehingga bisa melanjutkan ke jenjang berikutnya di tingkat SMA sesuai pilihannya masing–masing,” pungkasnya.

 

Sumber :

http://pressreleaseping.com/pressrelease/275563.html

SMPN 4 Optimis Juara LSS Jabar 2019

SMPN 4 Optimis Juara LSS Jabar 2019

SMPN 4 Optimis Juara LSS Jabar 2019
SMPN 4 Optimis Juara LSS Jabar 2019

SMPN 4 Kota Bogor mengaku optimis bisa meraih juara dalam ajang Lomba Sekolah Sehat (LSS) tingkat Jawa Barat tahun 2019. Hal itu diucapkan Kepala SMPN 4 Kota Bogor, Wawan.

“Secara fisik, semua persiapan dan persyaratan lomba yang ditetapkan dalam petunjuk pelaksana (Juklak) dan petunjuk tekhnis (Juknis), sudah kita lengkapi dan kita sudah sangat siap untuk dilakukan penilaian,” katanya.

Menurutnya, membenahi infrastruktur sekolah itu tidak terlalu sulit,

karena sudah ada juklak dan juknisnya. Pihaknya hanya tinggal mengikuti saja, tetapi yang lebih sulit adalah membenahi karakteristik dan pengetahuan siswa-siswi, mengenai apa itu sekolah sehat. Kalau sekolahnya bagus tetapi siswa siswinya tidak mengerti apa itu arti sehat, tidak ada artinya dan nilainya 0.

“Yang sedang kita hawatirkan, dimana dalam juklak penilaian LSS ada ketentuan bahwa radius 500 meter dari sekolah, dilarang ada puntung tokok satupun, jika tim penilai menemukan puntung rokok dalam radius itu, maka kita dianggap gagal,” ungkapnya.

“Tapi, radius itu kan diluar tanggugjawab sekolah dan menjadi area terbuka

bagi masyarakat. Lantas, kalau masyarakat kita larang untuk tidak membuang puntung rokok di seputaran itu, ini kan akan mengundang masalah. Makanya nanti kami akan meminta bantuan Sat Pol PP untuk menjaga agar dalam radius itu terbebas dari puntung rokok,” lanjut dia.

Dirinya menambahkan, kegiatan ini bukan lagi mempertaruhkan nama

SMP Negeri 4 semata, tetapi sudah mempertaruhkan nama Kota Bogor. Untuk itu, pihaknya akan terus berkonsultasi dan berkoordinasi dengan sejumlah pihak demi suksesanya pelaksanaan LSS ini.

“Tapi kami juga heran. Harusnya penilaian LSS itu dilaksanakan pada bulan Oktober ini, tetapi entah karena apa, sepertinya ada beberapa kendala di tingkat provinsi, makanya pelaksanaan penilaian LSS ini diundurkan menjadi awal bulan November 2019,” tanyanya

 

Sumber :

https://education.microsoft.com/Story/CommunityTopic?token=Ue57v

Profesional Guru Bimbingan dan Konseling

Profesional Guru Bimbingan dan Konseling

Profesional Guru Bimbingan dan KonselingProfesional Guru Bimbingan dan Konseling
Profesional Guru Bimbingan dan Konseling

Dalam Permendiknas No. 27 tahun 2008 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Konselor dinyatakan bahwa kompetensi yang harus dikuasai guru Bimbingan dan Konseling/Konselor mencakup 4 (empat) ranah kompetensi, yaitu: kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional. Keempat rumusan kompetensi ini menjadi dasar bagi Penilaian Kinerja Guru Bimbingan dan Konseling/Konselor.

Jika diperbandingkan antara ekspektasi kinerja Guru Bimbingan dan Konseling/Konselor dengan kinerja guru mata pelajaran. Guru mata pelajaran tampak lebih dominan dalam  penguasaan ranah kompetensi pedagogik, sedangkan Guru Bimbingan dan Konseling/Konselor lebih dominan dalam penguasaan ranah kompetensi profesional.

Dengan tidak bermaksud mengesampingkan ranah atau wilayah kompetensi lainnya, berikut ini disajikan aspek dan indikator kompetensi profesional yang harus dikuasai seorang Guru Bimbingan dan Konseling atau Konselor:

A. Menguasai konsep dan praksis penilaian (assessment) untuk memahami kondisi, kebutuhan, dan masalah konseli. Mendeskripsikan hakikat asesmen untuk keperluan pelayanan konseling, memilih teknik penilaian sesuai dengan kebutuhan pelayanan bimbingan dan konseling, menyusun dan mengembangkan instrumen penilaian untuk keperluan bimbingan dan konseling, mengadministrasikan asesmen untuk mengungkapkan masalahmasalah peserta didik, memilih dan mengadministrasikan teknik penilaian pengungkapan kemampuan dasar dan kecenderungan pribadi peserta didik, memilih dan mengadministrasikan instrumen untuk mengungkapkan kondisi aktual peserta didik berkaitan dengan lingkungan, mengakses data dokumentasi tentang peserta didik dalam pelayanan bimbingan dan konseling, menggunakan hasil penilaian dalam pelayanan bimbingan dan konseling dengan tepat, menampilkan tanggung jawab profesional dalam praktik penilaian:

  1. Guru Bimbingan dan Konseling/Konselor dapat mengembangkan instrumen nontes (pedoman wawancara, angket, atau format lainnya) untuk keperluan pelayanan Bimbingan dan Konseling.
  2. Guru Bimbingan dan Konseling/Konselor dapat mengaplikasikan instrumen nontes untuk mengungkapkan kondisi aktual peserta didik/konseli berkaitan dengan lingkungan.
  3. Guru Bimbingan dan Konseling/Konselor dapat mendeskripsikan penilaian yang digunakan dalam pelayanan Bimbingan dan Konseling yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik/konseli.
  4. Guru Bimbingan dan Konseling/Konselor dapat memilih jenis penilaian (Instrumen Tugas Perkembangan/ITPAlat Ungkap Masalah/AUM, Daftar Cek Masalah/DCM, atau instrumen non tes lainnya) yang sesuai dengan kebutuhan layanan bimbingan dan konseling.
  5. Guru Bimbingan dan Konseling/Konselor dapat mengadministrasikan penilaian (merencanakan, melaksanakan, mengolah data) untuk mengungkapkan kemampuan dasar dan kecenderungan pribadi peserta didik/konseli.
  6. Guru Bimbingan dan Konseling/Konselor dapat mengadministrasikan penilaian (merencanakan, melaksanakan, mengolah data) untuk mengungkapkan masalah peserta didik/konseli (data catatan pribadi, kemampuan akademik, hasil evaluasi belajar, dan hasil psikotes).
  7. Guru Bimbingan dan Konseling/Konselor dapat menampilkan tanggung jawab profesional sesuai dengan azas Bimbingan dan Konseling (misalnya kerahasiaan, keterbukaan, kemutakhiran, dll.) dalam praktik penilaian.

Baca Juga :

Pelayanan Dasar Bimbingan dan Konseling Komprehensif

Pelayanan Dasar Bimbingan dan Konseling Komprehensif

Pelayanan Dasar Bimbingan dan Konseling Komprehensif
Pelayanan Dasar Bimbingan dan Konseling Komprehensif

Pengertian

Pelayanan Dasar adalah salah satu komponen program Pelayanan Bimbingan dan Konseling Komprehensif, yang saat ini dikembangkan di Indonesia.  Pelayanan dasar diartikan sebagai proses pemberian bantuan kepada seluruh konseli melalui kegiatan penyiapan pengalaman terstruktur secara klasikal atau kelompok yang disajikan secara sistematis dalam rangka mengembangkan perilaku jangka panjang sesuai dengan tahap dan tugas-tugas perkembangan (yang dituangkan sebagai standar kompetensi kemandirian) yang diperlukan dalam pengembangan kemampuan memilih dan mengambil keputusan dalam menjalani kehidupannya.

Di Amerika Serikat sendiri, istilah pelayanan dasar ini lebih populer dengan sebutan kurikulum bimbingan (guidance curriculum). Tidak jauh berbeda dengan pelayanan dasar, kurikulum bimbingan ini diharapkan dapat memfasilitasi peningkatan pengetahuan, sikap, dan keterampilan tertentu dalam diri siswa yang tepat dan sesuai dengan tahapan perkembangannya (Bowers & Hatch dalam Fathur Rahman)

Penggunaan instrumen asesmen perkembangan dan kegiatan tatap muka terjadwal di kelas sangat diperlukan untuk mendukung implementasi komponen ini. Asesmen kebutuhan diperlukan untuk dijadikan landasan pengembangan pengalaman terstruktur yang disebutkan.

2. Tujuan Pelayanan dasar

Pelayanan dasar bertujuan untuk membantu semua konseli agar memperoleh perkembangan yang normal, memiliki mental yang sehat, dan memperoleh keterampilan dasar hidupnya, atau dengan kata lain membantu konseli agar mereka dapat mencapai tugas-tugas perkembangannya. Secara rinci tujuan pelayanan ini dapat dirumuskan sebagai upaya untuk membantu konseli agar (1) memiliki kesadaran (pemahaman) tentang diri dan lingkungannya (pendidikan, pekerjaan, sosial budaya dan agama), (2) mampu mengembangkan keterampilan untuk mengidentifikasi tanggung jawab atau seperangkat tingkah laku yang layak bagi penyesuaian diri dengan lingkungannya, (3) mampu menangani atau memenuhi kebutuhan dan masalahnya, dan (4) mampu mengembangkan dirinya dalam rangka mencapai tujuan hidupnya.

3. Fokus Pengembangan Pelayanan dasar

Untuk mencapai tujuan tersebut, fokus perilaku yang dikembangkan menyangkut aspek-aspek pribadi, sosial, belajar dan karir. Semua ini berkaitan erat dengan upaya membantu konseli dalam mencapai tugas-tugas perkembangannya (sebagai standar kompetensi kemandirian). Materi pelayanan dasar dirumuskan dan dikemas atas dasar standar kompetensi kemandirian antara lain mencakup pengembangan: (1) self-esteem, (2) motivasi berprestasi, (3) keterampilan pengambilan keputusan, (4) keterampilan pemecahan masalah, (5) keterampilan hubungan antar pribadi atau berkomunikasi, (6) penyadaran keragaman budaya, dan (7) perilaku bertanggung jawab. Hal-hal yang terkait dengan perkembangan karir (terutama di tingkat SLTP/SLTA) mencakup pengembangan: (1) fungsi agama bagi kehidupan, (2) pemantapan pilihan program studi, (3) keterampilan kerja profesional, (4) kesiapan pribadi (fisik-psikis, jasmaniah-rohaniah) dalam menghadapi pekerjaan, (5) perkembangan dunia kerja, (6) iklim kehidupan dunia kerja, (7) cara melamar pekerjaan, (8) kasus-kasus kriminalitas, (9) bahayanya perkelahian masal (tawuran), dan (10) dampak pergaulan bebas.

4. Strategi Pelaksanaan Pelayanan dasar

  • Bimbingan Kelas; Program yang dirancang menuntut konselor untuk melakukan kontak langsung dengan para peserta didik di kelas. Secara terjadwal, konselor memberikan pelayanan bimbingan kepada para peserta didik. Kegiatan bimbingan kelas ini bisa berupa diskusi kelas atau brain storming (curah pendapat).
  • Pelayanan Orientasi; Pelayanan ini merupakan suatu kegiatan yang memungkinkan peserta didik dapat memahami dan menyesuaikan diri dengan lingkungan baru, terutama lingkungan Sekolah/Madrasah, untuk mempermudah atau memperlancar berperannya mereka di lingkungan baru tersebut. Pelayanan orientasi ini biasanya dilaksanakan pada awal program pelajaran baru. Materi pelayanan orientasi di Sekolah/Madrasah biasanya mencakup organisasi Sekolah/Madrasah, staf dan guru-guru, kurikulum, program bimbingan dan konseling, program ekstrakurikuler, fasilitas atau sarana prasarana, dan tata tertib Sekolah/Madrasah.
  • Pelayanan Informasi; Yaitu pemberian informasi tentang berbagai hal yang dipandang bermanfaat bagi peserta didik. melalui komunikasi langsung, maupun tidak langsung (melalui media cetak maupun elektronik, seperti : buku, brosur, leaflet, majalah, dan internet).
  • Bimbingan Kelompok; Konselor memberikan pelayanan bimbingan kepada peserta didik melalui kelompok-kelompok kecil (5 s.d. 10 orang). Bimbingan ini ditujukan untuk merespon kebutuhan dan minat para peserta didik. Topik yang didiskusikan dalam bimbingan kelompok ini, adalah masalah yang bersifat umum (common problem) dan tidak rahasia, seperti : cara-cara belajar yang efektif, kiat-kiat menghadapi ujian, dan mengelola stress.
  • Pelayanan Pengumpulan Data (Aplikasi Instrumentasi); Merupakan kegiatan untuk mengumpulkan data atau informasi tentang pribadi peserta didik, dan lingkungan peserta didik. Pengumpulan data ini dapat dilakukan dengan berbagai instrumen, baik tes maupun non-tes.

Hindari Motivasi dengan Ancaman

Hindari Motivasi dengan Ancaman

Hindari Motivasi dengan Ancaman
Hindari Motivasi dengan Ancaman

Dalam perspektif manajemen, salah satu tugas yang harus dijalankan oleh seorang pemimpin adalah berusaha memotivasi setiap individu yang dipimpinnya agar memiliki motivasi yang kuat dalam melaksanakan setiap tugas dan pekerjaannya, sehingga pada girilirannya dapat dihasilkan kinerja yang unggul.  Misalnya, untuk meningkatkan kinerja guru, kepala sekolah atau pengawas sekolah dituntut untuk dapat membina dan meningkatkan motivasi kerja guru. Demikian pula, untuk meningkatkan kinerja siswa (prestasi belajar siswa), seorang guru dituntut untuk dapat  membina  dan meningkatkan motivasi belajar siswanya.

Upaya memotivasi (motivating) individu dapat dilakukan melalui berbagai cara.  Menurut Huse dan Bowditch (1973), terdapat tiga model memotivasi seseorang, yaitu: (1) model kekuatan dan ancaman; (2) model ekonomik/mesin, dan (3) model pertumbuhan-sistem terbuka.

Yang akan kita bicarakan di sini adalah model yang pertama yaitu pemotivasian  model kekuatan dan ancaman (a force and coercion model). Model ini merupakan model tertua dan sangat sederhana dalam memahami atau memandang manusia.  Model ini mempratikkan pemotivasian dengan cara memaksa orang lain (baik melalui tindakan atau verbal) untuk berperilaku tertentu  dengan cara menggunakan ancaman,  intimidasi atau bentuk lain yang bersifat represif dengan menggunakan kekuatan (power), yang dimilikinya.

Asumsi yang mendasari model pemotivasian  model kekuatan dan ancaman ini adalah bahwa seseorang akan bekerja (belajar atau berperilaku) dengan baik apabila disudutkan pada sebuah situasi, di mana ia hanya bisa memilih bekerja ataukah dihukum (Huse dan Bowditch, 1973).

Asumsi ini senada dengan asumsi yang mendasari teori X-nya McGregor, bahwa pada dasarnya manusia itu malas, suka menghindari tugas dan tanggung jawab, dan apabila tidak diintervensi dan diancam oleh atasan, maka ia akan pasif. Oleh sebab itu agar seseorang mau bekerja ia harus dipaksa (Carver dan Sergiovanni, 1969).

Pemotivasian Model Kekuatan dan Ancaman oleh beberapa kalangan sering disebut sebagai strategi buntu, yaitu strategi yang terpaksa digunakan ketika pemimpin sudah merasa kehabisan akal  (atau justru kehilangan kewarasannya?) untuk merubah perilaku orang-orang yang dipimpinnya.

Sepintas, model pemotivasian yang menebarkan kecemasan ini tampak sangat efektif untuk memotivasi seseorang. Melalui ancaman dan intimidasi tertentu, orang akan menjadi patuh dan bekerja sesuai dengan aturan-aturan yang telah ditetapkan (atau mungkin tepatnya sesuai dengan keinginan).

Namun dibalik itu perlu diwaspadai,  penggunaan pemotivasian model kekuatan dan ancamanini ternyata  dapat menjadikan orang tidak bahagia dan dapat merusak kepribadian seseorang. Dengan adanya ancaman terus menerus, orang akan merasa tidak bisa mengembangkan potensinya, mengalami ketumpulan berfikir, dan mengalami ketegangan jiwa (stress).

Dalam konteks sekolah, Les Parsons dalam bukunya yang berjudul Bullied Teacher Bullied Student mengupas tentang perilaku intimidasi di sekolah yang dilakukan siswa, guru dan kepala sekolah. Dikatakannya, bahwa pelaku intimidasi secara sengaja bermaksud menyakiti seseorang secara fisik, emosi atau sosial dan pelaku intimidasi sering merasa perbuatannya itu dapat dibenarkan.

Dalam konteks bisnis, hasil penelitian yang dilakukan oleh Dr Nicolas Gillet, dari Universite François Rabelais di Prancis menunjukkan bahwa manajer yang menggunakan ancaman sebagai cara untuk memotivasi karyawan, cenderung memiliki dampak negatif pada kesejahteraan karyawan.

Jika sudah seperti ini,  maka  hasil dari upaya pemotivasian akan menjadi terbalik, seharusnya dapat meningkatkan kinerja atau prestasi yang lebih baik malah yang terjadi adalah penderitaan dan kerusakan kepribadian.

Oleh karena itu, untuk menjadi pemimpin yang sukses sedapat mungkin kita perlu menghindari penggunaan pemotivasian model kekuatan dan ancaman ini. Gunakanlah cara-cara pemotivasian lain yang lebih manusiawi, yang dapat menjadikan orang-orang berbahagia, mampu berinovasi dan dapat mengoptimalkan segenap potensi yang dimilikinya.

Contoh aliran Idealisme

Contoh aliran Idealisme

Contoh aliran Idealisme
Contoh aliran Idealisme

Untuk contoh buruknya, lihat idealisme yang dilakukan oleh Adolf Hitler. Dengan keyakinannya atas buruknya kaum Yahudi dan Komunisme, dia bisa menjadi penguasa Eropa dan membinasakan kaum Yahudi dan Komunis. Padahal ketika zamannya ketika itu, korporasi Yahudi dan dominasi politik komunis begitu kental dilingkungannya sehingga pada awal-awal perjuangannya Hitler justru lebih banyak mendapat hinaan dan cemooh ketimbang dukungan. Tentu saja contoh buruk ini jangan ditiru karena justru merupakan kemunduran dalam peradaban manusia.
dealisme adalah sumber perubahan. Perubahan terjadi karena tidak adanya kepuasan terhadap kondisi terkini, perubahan terjadi karena ada “kesalahan” atas suatu hal, perubahan dapat dilakukan hanya bila ada keberanian, dan keberanian untuk melakukan perubahan merupakan implementasi nyata dari idealisme.

Namun perlu diperhatikan juga bahwa idealisme tidak bisa berdiri sendiri. Idealisme juga memerlukan realisme. Idealisme dan sikap realistik bagaikan dua sisi mata uang yang saling melengkapi satu sama lain secara absolut. Tanpa adanya sikap realistik, idealisme hanya akan menjadi angan-angan utopis: bagaikan mimpi di siang bolong. Sikap idealis tanpa sifat realistis hanya akan menjadi bunga tidur dalam kehidupan yang tidak lebih baik dari khayalan orang sakit jiwa.

Perlu ada keseimbangan koheren antara sifat idealisme dan realistis agar menjadi manusia seutuhnya. Sikap realistis diperlukan untuk memahami dan menginsyafi kondisi riil di lapangan. Sedangkan sikap idealis diperlukan untuk memperbaiki atau menyempurnakan kekurangan yang terjadi dalam realita. Tidak mungkin seorang manusia hanya mengikuti arus (realistis) selama-lamanya, atau hidup akan menjadi statis. Tidak mungkin juga seorang manusia hanya mengutamakan idealismenya semata dengan mengacuhkan realita kalau tidak ingin dikatakan seorang pemimpi.

Jadi pada kenyataannya, sikap idealis dan realis bukanlah suatu hal yang saling berkontradiktif. Justru sebaliknya, kedua hal itu harus selaras berjalan dalam pikiran dan sikap kita agar hidup selalu mengalami progresifitas. Keseimbangan antara idealisme dan realism dapat menghasilkan output yang tentunya lebih baik daripada hanya condong ke satu sisi saja

Baca Juga :