Keterkaitan Antara Bahasa dan Dialek

Keterkaitan Antara Bahasa dan Dialek

Keterkaitan Antara Bahasa dan Dialek
Bahasa, dialek, dan idiolek bakal menerangkan perbedaan dan persamaan pada istilah-istilah itu. Ketiga-tiganya adalah bahasa, terkecuali yang dibicarakan adalah bahasa seseorang, maka disebut idiolek. Adanya arti ini dambakan ditonjolkan bahwa sistem bahasa (idiolek) masing-masing orang memperlihatkan perbedaan, kendati idiolek-idiolek bisa digolongkan satu bahasa.

Idiolek-idiolek yang memperlihatkan lebih banyak persamaan bersama idiolek-idiolek lain bisa digolongkan di dalam satu kumpulan kategori yang disebut dialek. Biasanya persamaan ini disebabkan oleh letak geografi yang berdekatan, yang sangat mungkin terjadinya komunikasi yang sering pada penutur-penutur idiolek itu.

Jika seringnya komunikasi disebabkan oleh kedekatan sosial, yakni penutur-penutur idiolek itu terhitung di dalam satu golongan masyarakat yang sama, maka kategori bahasa mereka itu disebut sosiolek. Istilah bahasa di dalam kerangka ini terhitung di dalam kategori kebahasaan yang terdiri atas dialek-dialek yang masing-masing penuntunnya saling paham (mutual intellingibility) dan dianggap oleh penutur-penuturnya sebagai suatu group kebahasaan yang sama. Jika bahasa ini sudah pesat perkembangannya, umumnya terdapat suatu dialek berasal dari bahasa itu yang diterima oleh seluruh penutur bahasa itu sebagai dialek baku (standar). Hal itu yang dimaksud bersama bahasa. Itulah bahasa (sebenarnya dialek) yang dipergunakan di dalam kondisi dan komunikasi resmi.

Bahasa membawa dua aspek mendasar, yakni bentuk (baik bunyi, tulisan, maupun strukturnya), dan arti (baik leksikal maupun fungsional, dan struktural). Jika kita mengamati bahasa bersama detil dan teliti, kita bakal melihat perbedaan bentuk dan arti berasal dari sebuah bahasa. Besar kecilnya pengungkapan pada pengungkapan yang satu bersama pengungkapan yang lain bakal terdengar perbedaan-perbedaannya, umpamanya antarsatuan bunyi /a/ yang diucapkan seseorang berasal dari saat yang satu ke saat yang lain. Perbedaan-perbedaan bentuk bahasa layaknya itu disebut variasi.

Jika kita bandingkan lafal bunyi /a/ di dalam obrolan 2 orang yang berlainan, kita bakal lebih paham melihat perbedaan-perbedaannya. Apalagi terkecuali kedua orang yang lafal / bahasanya yang kita bandingkan itu berkunjung atau berasal berasal dari daerah yang berlainan, group atau kondisi sosial yang berbeda, kondisi berbahasa berasal dari tingkat rutinitas yang berlainan, ataupun th. / zaman yang berlainan. Umpamanya; th. 1945 dan th. 1980, maka bakal lebih terang dan nyata perbedaannya. Contoh lain; yang disebut “kates” di suatu daerah dinamakan “pepaya”, di daerah lain, di dalam suatu kondisi sosial dikatakan “aku” dan di dalam kondisi sosial lain lebih cocok dipakai “saya”.

Perbedaan-perbedaan bahasa yang kita sebut di atas menghasilkan ragam-ragam bahasa yang disebut bersama istilah-istilah yang berlainan. Ragam bahasa yang sehubungan bersama daerah / wilayah geografis disebut dialek. Ragam bahasa yang sehubungan bersama group sosial disebut sosiolek. Ragam bahasa yang sehubungan bersama kondisi berbahasa dan atau tingkat rutinitas disebut fungsiolek. Ragam bahasa yang dihasilkan oleh pergantian bahasa sehubungan bersama pertumbuhan saat disebut bahasa yang lain-lain atau terkecuali perbedaan itu masih bisa dianggap perbedaan ragam di dalam satu bahasa, kita bisa menyebut ragam itu secara analok kronolok.

Keempat dimensi variasi bahasa ini bisa kita gambarkan bersama diagram berikut;

Suatu ragam bahasa secara teoritis bisa kita gambarkan secara pas (akurat) bersama mengacu kepada keempat dimensi itu. Umpamanya ragam bahasa Indonesia 1950 (K), yang dianggap ragam baku (F), berasal dari yang biasa digunakan group menengah terpelajar (S), di daerah Sumatra Timur (D) adalah jauh lebih pas memperlihatkan ragam bahasa yang kita maksud daripada menyatakan ragam bahasa “Melayu Pesisir Timur” saja. Dalam pemetaan variasi dialek sebuah bahasa dipergunakan rencana isoglor, yakni garis yang menghubungkan dua daerah yang memperlihatkan ciri atau unsur yang sama, atau garis yang mengantarai dua daerah yang memperlihatkan ciri/unsur yang berbeda.

Unsur / ciri yang dikaji adalah di dalam bidang fonologi, morfologi, sintaksis dan atau leksis. Pembahasan dialek tersebut adalah tertentu mengenai ragam bahasa secara geografis berasal dari penutur-penutur asli, yakni penutur suatu hal bahasa sebagai bahasa pertama dan bahasa ibu. Dalam dunia moderen ini, banyak sekali orang mempelajari bahasa lain, baik sebagai bahasa kedua (secara alur / secara sosiolinguistik) atau bahasa asing. Hal itu menghasilkan ragam-ragam bahasa (dialek) yang lain berasal dari dialek penutur asli. Dialek-dialek sebagai bahasa kedua atau bahasa asing sedikit banyak terbujuk dan diwarnai oleh bahasa pertama (bahasa asli) berasal dari penutur-penuturnya. Dialek semacam ini kita sebut “ragam bukan asli” (nonnactin variety). teks eksplanasi

Kalau kita kaji ragam bahasa yang demikian, kita bakal melihat bahwa tidak cuman berasal dari dampak unsur-unsur/ struktur/fonologi bahasa pertama penutur, nyata sekali bahwa di pada penutur ragam bukan asli ini terdapat suatu ketidakseragaman (fluktuasi) yang jauh lebih banyak dan lebih besar berasal dari terhadap perbedaan-perbedaan yang lazim pada dialek-dialek penutur-penutur asli.

baca juga :

Bahasa dan Dialek yang Digunakan didalam Masyarakat

Bahasa dan Dialek yang Digunakan didalam Masyarakat

Bahasa dan Dialek yang Digunakan didalam Masyarakat
Fungsi bhs secara umum, yakni untuk berkomunikasi. Kita berkomunikasi dengan orang lain dengan pakai bahasa. Menurut Prof. Dr. Samsuri (1980), bhs tidak mampu terpisahkan dari manusia & mengikuti di didalam setiap pekerjaannya. Mulai bangun pagi-pagi sampai larut malam sebelum akan tidur manusia tidak lepas Mengenakan bahasa.

Di rumah kami berkomunikasi dengan anggota keluarga yang lain, misal; bapak, ibu, kakak, / adik. Di luar rumah kami berkomunikasi dengan tetangga, di perjalanan misalnya naik angkutan lazim kami mampu berkomunikasi dengan orang yang di dekat kita, di sekolah / di tempat kerja kami termasuk berkomunikasi dengan rekan sekolah / rekan kerja.

Dialek adalah variasi bhs dari sekelompok penutur yang jumlahnya relatif yang berada pada satu tempat, wilayah atau tempat tertentu. Di Indonesia terkandung ratusan bhs tempat & ratusan dialek yang digunakan didalam masyarakat. Dalam penggunaan bhs & dialek, kami perlu mampu menempatkan di mana kami sedang berada & kepada siapa kami berkomunikasi, misalnya di kantor, di pasar / di stasiun / di terminal.

1. Bahasa dan dialek yang digunakan oleh komunitas di kantor
Kantor adalah suatu tempat service penduduk yang di dalamnya terkandung pimpinan, pembantu pimpinan, & staf (karyawan) serta penduduk yang butuh service di tempat itu.
Misalnya:
Bank, di dalamnya ada direktur, wakil direktur, karyawan, & nasabah bank.
Sekolah, di dalamnya ada kepala sekolah, wakil kepala sekolah, guru, penjaga sekolah, & murid.
Bahasa & dialek yang digunakan di kantor perlu bhs formal/resmi/nasional, yakni bhs Indonesia. Di kantor, kami perlu pakai bhs Indonesia yang baik & benar. Misal; kami menyapa/memberi salam kepada rekan kerja pada pagi hari: “Selamat pagi, Pak/Bu!”.
Apabila di sekolah, para guru terlebih perlu pakai bhs Indonesia yang benar sesuai kaidah didalam bhs Indonesia, jadi tingkat Sekolah Dasar sampai Perguruan Tinggi. Para murid/siswa perlu diajak pakai bhs Indonesia yang baik & benar. Contoh guru membuka/memulai pelajaran di ruang kelas XI, mata pelajaran antropologi. “ Selamat pagi, anak-anak!, pada pertemuan kali ini kami bakal mengulas materi bhs & dialek yang digunakan oleh komunitas penduduk di kantor”.

2. Bahasa dan dialek yang digunakan oleh komunitas penduduk di pasar
Pasar adalah suatu tempat service lazim yang di dalamnya terkandung penjual, pembeli, pengangkut barang, petugas kebersihan, & sebagainya. Jadi, komunitas penduduk di pasar lebih bervariasi, baik itu pekerjaan, pendidikan, usia, pakaian yang dikenakan, & sebagainya. Bahasa & dialek yang digunakan di pasar tradisional adalah bhs tempat setempat. Misal: di Pasar Johar Semarang (Jawa Tengah), komunitas masyarakatnya pakai bhs Jawa.
Contoh dialog pada penjaja & kastemer dengan pakai bhs Jawa;
Pembeli “Endhoge sekilo regane pira?” (Telornya satu kilogram harganya berapa?).
Penjual “Wolungewu limangatus rupiah, Bu”. (Delapan ribu lima ratus rupiah, Bu).
3. Bahasa & dialek yang digunakan oleh komunitas penduduk di terminal
Terminal adalah tempat pemberhentian & pemberangkatan angkutan lazim bus dari & ke berbagai jurusan. Di didalam lingkungan terminal terkandung kepala terminal, petugas administrasi, kebersihan, & keamanan. Juga ada awak bus (sopir, kernet, kondektur), penumpang, pedagang di kios, pedagang asongan, pengamen, & pengemis. Komunitas penduduk di terminal yang berbagai ragam itu menjadikan bhs yang mereka pakai termasuk sebagian macam, yakni bhs Indonesia & bhs daerah. Misalnya; Komunitas penduduk di terminal Lebak Bulus Jakarta pakai bhs Indonesia & bhs tempat (Sunda & Betawi).
Berikut ini sebagian bhs & dialek yang ada di Indonesia.

a. Bahasa Jawa
Bahasa Jawa tergolong subkeluarga Hesperonesia dari keluarga bhs Melayu -Polinesia. Bahasa Jawa udah dipelajari dengan saksama oleh sarjana-sarjana Inggris, Jerman, & terlebih Belanda. Pada umumnya mereka pakai metode-metode filologi & bukan metode-metode linguistik. Bahasa Jawa miliki suatu peristiwa kesusastraan yang mampu dikembalikan pada abad ke-8. Pada masa itu bhs Jawa udah berkembang lewat sebagian fase yang mampu dibedabedakan atas basic sebagian ciri idiomatik yang khas & sebagian lingkungan kebudayaan yang berbeda-beda dari setiap pujangganya. Dengan demikianlah terkecuali bhs Jawa sehari-hari, masih ada bhs Jawa kesusastraan yang secara kronologi mampu dibagi ke didalam enam fase sebagai berikut;
Bahasa Jawa Kuno yang dipakai didalam prasasti-prasasti keraton pada zaman pada abad ke-8 & ke-10 dipahat pada batu atau diukir pada perunggu, & bhs layaknya yang dipergunakan didalam karya-karya kesusastraan kuno abad ke-10 sampai ke-14. Sebagian kecil dari naskah-naskah Jawa Kuno yang kami miliki saat ini dibikin di Jawa Tengah & sebagian besar ditulis di Jawa Timur. Kita tidak paham sampai di mana idiom bhs kesusastraan Jawa Kuno yang seutuhnya ditulis didalam bentuk puisi (kakawin) itu termasuk digunakan didalam bhs sehari-hari pada pas itu.
Bahasa Jawa Kuno yang dipergunakan didalam kesusastraan Jawa Bali. Kesusastraan ini ditulis di Bali & di Lombok sejak abad ke-14. Setelah kedatangan Islam di Jawa Timur, kebudayaan- kebudayaan Hindu-Jawa ubah ke Bali & menetap di sana. Bahasa kesusastraan ini hidup terus sampai abad ke-20, tetapi ada perbedaan yang pokok dengan bhs yang dipakai sehari-hari di Bali sekarang.
Bahasa yang dipergunakan didalam kesusastraan Islam di Jawa Timur. Kesusastraan ini ditulis pada zaman berkembangnya kebudayaan Islam yang mengambil alih kebudayaan Hindu-Jawa di tempat aliran Sungai Brantas & tempat hilir Sungai Bengawan Solo pada abad ke-16 & ke-17.
Bahasa kesusastraan kebudayaan Jawa-Islam di tempat Pesisir. Kebudayaan yang berkembang di pusat-pusat agama di kota-kota pantai utara Pulau Jawa pada abad ke-17 & ke-18, oleh penduduk Jawa sendiri disebut kebudayaan Pesisir. Orang Jawa termasuk membedakan pada kebudayaan Pesisir yang lebih muda, yang berpusat di kota Pelabuhan Cirebon & suatu kebudayaan Pesisir Timur yang lebih tua yang berpusat di Kota Demak, Kudus, & Gresik.
Bahasa kesusastraan di Kerajaan Mataram. Bahasa ini adalah bhs yang dipakai didalam karya-karya kesusastraan para pujangga keraton Kerajaan Mataram pada abad ke-18 & ke-19. Lingkungan Kerajaan Mataram terdapat di tempat aliran Sungai Bengawan Solo di sedang kompleks Pegunungan Merapi, Merbabu, Lawu di Jawa Tengah, di mana bertemu termasuk lembah Sungai Opak & Praga.
Bahasa Jawa masa kini. Bahasa Jawa masa kini adalah bhs yang dipakai didalam obrolan sehari-hari penduduk Jawa & didalam bukubuku serta surat-surat kabar berbahasa Jawa pada abad ke-20 ini.
Adat sopan santun Jawa menuntut penggunaan model bhs yang tepat. Kondisi tersebut tergantung dari style hubungan tertentu yang memaksa orang untuk terlebih dahulu memilih setepat barangkali kedudukan orang yang diajak berbicara. Sebelum Perang Dunia I mobilitas sosial akibat pendidikan & kemajuan ekonomi mengacaukan tingkattingkat sosial Jawa tradisional berdasarkan kelas, pangkat, & senioritas. Oleh dikarenakan itu, untuk memilih kedudukan seseorang didalam hubungan sosial menjadi sulit. Adakalanya seseorang perlu bicara dengan orang yang lebih tua, tetapi yang pangkatnya lebih rendah, seorang yang lebih muda, tetapi miliki kekayaan yang lebih besar, atau seorang dari lapisan yang lebih tinggi tetapi dengan pangkat lebih rendah. Keadaan layaknya itu mampu menyebabkan keadaan yang canggung bagi kedua belah pihak. Kesulitan itu sebabkan orang-orang Jawa yang udah mengenyam pendidikan di sekolah-sekolah Belanda jadi menjauhi rutinitas sopan santun didalam penggunaan bhs Jawa yang sangat rumit & lebih memilih pakai bhs Belanda.

Sudah sejak th. 1916 ada suatu gerakan bernama Djawa Dipo yang dirintis oleh orang-orang Jawa yang bersemangat progresif menghendaki menghapuskan gaya-gaya bertingkat didalam ajaran bhs Jawa & hanya pakai Ngoko sebagai bhs dasar. Reaksi pada kampanye ini pada umumnya timbul dari kalangan bangsawan yang menganjurkan bahwa; misalnya gaya-gaya bertingkat didalam bhs Jawa perlu dihapuskan, sebaiknya yang dipertahankan adalah model Kromo & bukan Ngoko sebagai basic dari bhs Jawa. Dengan demikianlah mereka tidak Mengenakan suatu gerakan baru bernama Krama Dewa.

Perubahan-perubahan besar yang berlangsung didalam penduduk orang Jawa setelah Perang Dunia ke II mempunyai efek yang lebih besar ulang pada sistem gaya-gaya bertingkat didalam bhs Jawa. Kebanyakan dari orang Jawa yang lahir setelah zaman itu tidak ulang berupaya menguasai sistem yang rumit. Proses perubahan dari suatu penduduk agraris tradisional & feodal ke suatu penduduk industri yang moderen & demokratis yang saat ini berlangsung, dengan sendirinya termasuk sebabkan rutinitas sopan santun didalam penggunaan bhs Jawa mengalami penyederhanaan. Kecuali perbedaan-perbedaan yang terkandung didalam gaya-gaya bertingkat yang disebabkan dikarenakan perbedaan kelas, kedudukan, pangkat, & senioritas. Bahasa Jawa termasuk mempunyai berbagai logat berdasarkan perbedaan geografis. Th. Pigeud udah membuktikan bahwa peristiwa dialekdialek Jawa & persebaran dari bhs Jawa ke semua tempat di mana bhs itu dipergunakan sekarang, tidak banyak diketahui oleh para ahli.
Ia termasuk membuktikan bahwa barangkali sekali dahulu sungai-sungai merupakan fasilitas lalu lintas, sehingga dengan sendirinya bhs yang dipakai oleh penduduk dari suatu tempat aliran sungai membuktikan persamaan idiom yang tidak sama dengan bhs yang dipakai oleh penduduk di lembah-lembah sungai yang lain.

b. Bahasa Gayo
Dalam berbagai karangan kerap dinyatakan bahwa orang Gayo & Alas merupakan suatu kesatuan kebudayaan, misalnya saja Van Vollenhoven menggolongkan keduanya didalam satu lingkaran hukum adat. Apabila di memandang dari faktor bahasa, pada dasarnya bhs Gayo & bhs Alas berbeda. Kata-kata & bentuk bhs Alas banyak tergoda oleh bahasa-bahasa, layaknya bhs Karo, Pakpak, Singkil, Aceh, & Gayo. Jadi, bhs Gayo semata-mata salah satu bhs yang ikut memengaruhi. Menurut pendapat para pakar dikatakan bahwa bhs Alas mampu diakui sebagai dialek ketiga dari bhs Batak Utara di samping dialek Karo & Dairi.

Dalam kenyataan, grup orang pemakai bhs Gayo & grup pemakai bhs Alas, didalam keadaan biasa (sebelum mempelajari lebih dahulu) mereka saling tidak paham satu dengan yang lain. Namun demikian, tentu saja pada kedua bhs ini ada unsur-unsur persamaan tertentu. Keadaan yang sama tampak termasuk pada bhs Gayo & bhs Aceh, walaupun kedua bhs ini hidup bertetangga. Pengaruh bhs Aceh barangkali bakal lebih banyak dirasakan pada kedua grup orang Gayo, yakni grup orang Gayo Seberjadi & Gayo Kalu. Hal itu dikarenakan letaknya yang dikelilingi oleh lingkungan bhs Aceh di samping jumlah pendukungnya yang sangat kecil.
Seperti diketahui bahwa orang Gayo terbagi atas sebagian kelompok, yakni grup orang Gayo Lut, Gayo Deret, Gayo Lues, Seberjadi, & Kalul. Masing-masing grup ini dipisahkan oleh batas alam dengan prasarana komunikasi yang buruk, sehingga susah berlangsung kontak pada satu grup dengan yang lainnya. Kontak yang berlangsung terbatas pada kelompok-kelompok ini didalam jangka pas yang relatif lama, & berbedanya efek luar yang diterima, udah sebabkan terlihatnya variasi didalam bhs mereka.
Dilihat dari faktor bahasa, grup orang Gayo udah digolongkan oleh sebagian orang ke didalam dua dialek. Pertama dialek Gayo Lut, yang terbagi pula ke didalam tiga sub dialek, yakni subdialek Bukit, Cik, & Deret. Dialek Gayo Lues termasuk terbagi ke didalam subdialek. Seberjadi sendiri meliputi sub-sub dialek Seberjadi & Lukup.
Berikut ini umpama dari variasi-variasi tertentu didalam kalimat pada subdialek Gayo Lues, Gayo Deret, & Gayo Lut. Pada subdialek Gayo Lut itu diperlihatkan sebagian variasi dari Bukit & Cik.

c. Bahasa Tolaki
Penelitian pada bhs Tolaki belum banyak dilaksanakan oleh para sarjana, terkecuali H. Van der Kliftn yang dulu menulis karangan dengan judul Mededelingen Over de Faal van Mekongga.
Ditinjau dari faktor lapisan sosial pemakainya, penggunaan bhs Tolaki, layaknya termasuk umumnya bhs yang lain, tampak bervariasi didalam sebagian gaya. Masyarakat Tolaki sendiri membedakan style bhs Tolaki menjadi 3, yakni tulura anakia (bahasa golongan bangsawan), tulura lolo (bahasa golongan menengah), & tulura ata (bahasa golongan budak).
Bahasa golongan bangsawan adalah bhs yang dipakai didalam berkomunikasi pada sesama golongan bangsawan. Jika seseorang dari golongan menengah atau golongan budak bicara kepada seorang golongan bangsawan maka ia termasuk pakai kalimat didalam bhs golongan bangsawan.

Contoh; bhs golongan bangsawan, misalnya perkataan: ipetaliando inggomiu mombe’ihi. Perkataan tersebut didalam bhs golongan menengah untuk sesamanya bakal diucapkan leundo ponga. Contoh lain; ipe’ekato inggomiu mekoli untuk golongan bangsawan, sedangkan untuk golongan menengah lakoto poiso. Bahasa bangsawan ini didalam wujudnya penuh dengan ketentuan sopan santun. Bahasa ini termasuk disebut bhs mombokulaloi, bhs mombe’owoso, bhs metabea, & bhs mombona’ako.

Bahasa bangsawan pada hakikatnya adalah suatu pandangan yang memandang golongan bangsawan sebagai manusia yang lebih didalam banyak hal dikarenakan darah keturunannya, ilmunya, & kekuasaannya yang lebih tinggi.

Bahasa golongan menengah adalah bhs yang dipakai di kalangan lazim masyarakat. Berbeda dengan bhs golongan bangsawan yang penuh dengan perasaan melebihkan, meninggikan, & membesarkan. Pada bhs ini pada pembicara dengan pendengar tak ada perbedaan derajat walaupun tidak sama umur & standing sosial didalam masyarakat. Contoh; bhs golongan menengah Leundo atopongga artinya mari kami makan, akuto mo’iso artinya saya udah bakal tidur, imbe nggo lako’amu artinya ke mana hendak kau pergi. Bahasa golongan budak adalah bhs yang dipakai didalam kalangan budak. Bahasa ini disebut termasuk bhs dalo langgai (bahasa orang-orang bodoh), maksudnya bhs yang tidak cukup mengikuti aturan-aturan bhs lazim sehingga ringan dipahami oleh pendengarnya. Bahasa ini tampak didalam bentuk tulura bendelaki (bahasa gagah tetapi sesungguhnya kosong isinya), tulura magamba (bahasa yang membuktikan kesombongan), & didalam bentuk tulura te’oha-oha (bahasa yang paling kasar kedengarannya sebagai lawan dari bhs sopan santun, yang berlaku pada bhs golongan bangsawan). Contoh; bhs golongan budak: akuto mongga me’aroakuto artinya saya udah bakal makan dikarenakan saya udah lapar, akutolako merumbahako mokombo’i songguto artinya saya udah bakal pergi berbaring dikarenakan saya udah mengantuk.
Ditinjau dari faktor tehnik bicara & arti obrolan serta maksud & tujuan pembicaraan, tentu termasuk ada didalam bhs Tolaki. Berbagai model bahasa, layaknya bhs resmi, bhs akrab, bhs kiasan, & sebagainya. Namun yang tertentu didalam bhs Tolaki adalah bhs lambang kalo, yakni bhs tanda dengan pakai kalo sebagai alat ekspresi & komunikasi. Tanpa berkata-kata, penerima bhs lambang kalo udah mampu paham maksud & tujuan dari pemakai. Bahasa lambang kalo itu sendiri mengandung arti tertentu.
Selain dari model bhs layaknya di atas, orang Tolaki termasuk mengenal adanya bhs yang disebut tulura ndonomotuo, tulura mbandita atau tulura andeguru, tulura ndolea, atau tulura mbabitara & tulura mbu’akoi. Bahasa orang tua adalah bhs yang dipakai oleh orang tua didalam mengimbuhkan nasihat, petuah, ajaran-ajaran leluhur bagi hidup & kehidupan, terlebih kepada generasi muda. Bahasa ulama adalah bhs seorang ulama didalam bicara tentang pengetahuan & pengetahuan tentang dunia hakiki, dunia metafisika, dunia gaib, & dunia akhirat. Bahasa upacara rutinitas adalah bhs yang dipakai juru bicara didalam urusan rutinitas perkawinan & urusan peradilan. Dalam peradilan adat, bhs ini tampak didalam bentuk harapan-harapan sehingga pihak yang bersengketa mampu damai. Adapun didalam urusan perkawinan, misalnya didalam peminangan, bhs ini tampak didalam bentuk kalimat mempertemukan sehingga kedua belah pihak mampu saling sesuai dengan apa yang perlu diputuskan menurut semestinya sesuai dengan ketetapan rutinitas yang berlaku. Seorang juru bicara didalam urusan perkawinan umumnya memberikan pernyataanpernyataan yang banyak mengimbuhkan pujian pada pihak keluarga wanita & merendahkan pihak keluarga pria, serta kalimat yang menggambarkan hal-hal yang lucu, sehingga upacara menjadi lebih ramai & lebih akrab.

Bahasa dukun adalah bhs seorang dukun yang tampak baik pada upacara-upacara yang berwujud ritual maupun kala mengulas tentang makhluk halus & dunia gaib. Bahasa dukun banyak mengandung pernyataan-pernyataan menyembah, memuja, memuji, & berharap bantuan pada makhluk halus, roh nenek moyang, dewa, & Tuhan. Hal itu memiliki tujuan sehingga dirinya & orang yang diupacarakan terhindar dari aneka ragam bala & bencana, serta menginginkan berkah dari mereka. Bahasa dukun ini disebut termasuk tulura esomba (bahasa menyembah) & tulura mongoni-ngoni (bahasa minta berkah).

Pembicaraan tentang penggunan bhs Tolaki & penggolongannya yang terurai di atas disebut varietas linguistik. Hubungan sistematik dengan faktor-faktor sosiolinguistik yang memilih seleksi dari salah satu varietas itu tampak pada fungsi & standing peserta didalam hubungan (pembicara & pendengar) & pada topik yang dibicarakan. Kerangka inilah yang digunakan didalam meluluskan jenis-jenis bhs Tolaki. Dalam hal ini misalnya ulama mempunyai standing serta fungsi tertentu. Oleh dikarenakan itu, digunakan style bhs tertentu yang mempunyai standing & fungsi yang berbeda. Demikian pula dengan topik untuk bhs pengetahuan pengetahuan, misalnya fungsi peserta baik pembicara maupun pendengar pada pas tertentu mampu konstan & pada pas yang lain mampu berubah. Demikian halnya topik yang dibicarakan mampu konstan & mampu pula divariasikan.

Perbedaan-perbedaan yang tampak pada variasi bhs Tolaki menurut lapisan sosial pemakainya adalah perbedaan-perbedaan yang berwujud gramatikal & ungkapan-ungkapan yang dipakai hanya terbatas pada penggunaan didalam tiap-tiap golongan & tidak dipakai di luar golongan yang bersangkutan. Dalam hal ini, penggunaan kata & ungkapan tersebut sama untuk semua golongan. Adapun perbedaan pada satu mengisi / arti saja disebabkan oleh perbedaan standing sosial. Bangsawan mampunyai perhatian tidak sama dengan rakyat, ulama berorientasi pada agama, cendekiawan pada pengetahuan pengetahuan, sedangkan dukun dikarenakan pekerjaannya lebih banyak bicara tentang pengobatan.

Baca Juga :

9.708 Kursi Diperebutkan dalam SBMPTN 2017

9.708 Kursi Diperebutkan dalam SBMPTN 2017

9.708 Kursi Diperebutkan dalam SBMPTN 2017
9.708 Kursi Diperebutkan dalam SBMPTN 2017

Sebanyak 9.708 kursi akan diperebutkan mahasiswa baru yang mengikuti

ujian Saringan Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) untuk Perguruan Tinggi Negeri (PTN) di Bandung dan Tasikmalaya.

Ribuan kursi tersebut terbagi ke dalam enam PTN yang ada, yakni Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Padjajaran (Unpad), Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Universitas Islam Negeri (UIN) SGD, Universitas Siliwangi (Unsil) dan Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI).

SBMPTN merupakan seleksi mandiri yang diikuti calon mahasiwa di luar

SNMPTN yang telah diumumkan beberapa waktu yang lalu.

Kursi yang disediakan oleh ITB untuk SBMPTN berjumlah 1.644, UPI 2.520 kursi, UIN 836 kursi, Unsil 992 kursi, dan ISBI 176 kursi.

“Kuota kursi untum SBMPTN Unpad berjumlah 3.540, kemarin sudah

diumukan untuk jalur SNMPTN Unpad 2.360 kursi. Jadi total mahasiswa yabg diterima Unpad dari kedua jalur berjumlah 5.900 kursi,” pungkas Rektor Unpad Tri Hanggono Achmad, di ITB, Bandung, Selasa, (16/5)

 

Baca Juga :

Ridho-Eddy Sutrisno Bertemu

Ridho-Eddy Sutrisno Bertemu

Ridho-Eddy Sutrisno Bertemu
Ridho-Eddy Sutrisno Bertemu

Gubernur Lampung (non-aktif) Muhammad Ridho Ficardo yang juga calon gubernur Lampung bertemu Eddy Sutrisno, mantan Walikota Bandarlampung.

Pertemuan Ridho-Eddy dalam rangka menghadiri peringatan HUT ke-38

Yayasan Swadaya Himpunan Pemuda (Swadhipa) yang diselenggarakan di SMK Swadipa 1, Kecamatan Natar, Lampung Selatan, Kamis (15/03) pagi.

Kehadiran Ridho Ficardo dalam kegiatan tersebut adalah selain memberi dukungan atas prestasi dan sumbangsih Yayasan Swadhipa atas peran sertanya dalam membangun Provinsi Lampung selama 38 tahun melalui dunia pendidikan.

Ridho Ficardo menyatakan bahwa pendidikan adalah hal yang sangat

fundamental dalam membangun Provinsi Lampung. “Esensi pembangunan adalah dengan membangun manusia Indonesia seutuhnya,” kata Ridho.

Dalam HUT yang digelar dengan suasana khidmat dan dihadiri oleh semua

guru dan staf yayasan swadhipa tersebut, Ketua Umum Yayasan Swadhipa Dr. H. Eddy Sutrisno, M.Pd melakukan pemotongan tumpeng yang kemudian diserahkan kepada Muhammad Ridho Ficardo sebagai bentuk penghormatan.

 

Sumber :

https://seotornado.net/faktor-faktor-yang-berpengaruh-pada-terjadinya-fotosintesis/

Indonesia Harus Fokus Pada Pendidikan dan Pengembangan SDM

Indonesia Harus Fokus Pada Pendidikan dan Pengembangan SDM

Indonesia Harus Fokus Pada Pendidikan dan Pengembangan SDM
Indonesia Harus Fokus Pada Pendidikan dan Pengembangan SDM

Bonus demografi menuntut bangsa Indonesia fokus pada pendidikan dan

pengembangan manusia Indonesia, kata Pjs. Gubernur Lampung Didik Suprayitno.

Dia mengatakan hal tersebut pada upacara peringatan Hari Kebangkitan Nasional ke-110 Tahun 2018 di Lapangan Korpri, Kantor Gubernur Lampung, Senin (21/05/2017).

Hadir pada upacara para staf ahli gubernur, sekretaris daerah, Pejabat

Eselon II, III, IV dan seluruh ASN Pemprov Lampung. Tema Harkitnas Pembangunan SDM Memperkuat Pondasi Kebangkitan Nasional Indonesia Dalam Era Digital

Menurut perhitungan para ahli, sekitar dua tahun lagi, Indonesia memasuki era keemasan dalam konsep kependudukan, yaitu bonus demografi, katanya membacakan sambutan Menkominfo RI.

“Saat ini, momentum bagi kita untuk tidak membuang-buang waktu demi

mengejar ketertinggalan dengan bangsa-bangsa lain,” tulis Menkomifo RI

 

Sumber :

https://peacetaiwan.com/dampak-negatif-terjadinya-globalisasi-bagi-aspek-sosial/

Penyebaran Tenaga Pengajar Di Kabupaten Bandung Belum Merata

Penyebaran Tenaga Pengajar Di Kabupaten Bandung Belum Merata

Penyebaran Tenaga Pengajar Di Kabupaten Bandung Belum Merata
Penyebaran Tenaga Pengajar Di Kabupaten Bandung Belum Merata

Bupati Bandung Dadang M Naser meminta Dinas Pendidikan (Disdik)

segera menyikapi terkait belum meratanya penyebaran tenaga pengajar diwilayahnya.

Menurut Bupati, sesuai catatannya saat ini para tenaga pengajar atau guru itu lebih bertumpuk didaerah perkotaan. Padahal harusnya tersebar rata di semua wilayah.

“Dengan melihat infrastruktur yang telah dibangun, harusnya tidak ada lagi daerah yang dinilai pelosok kekurangan pengajar,” ujarnya usai HUT Korpri, Kamis (29/11).

Dalam rangka memperingati hari guru dan HUT Korpri ini, Bupati meminta

seluruh guru meningkatkan profesionalisme yang diikuti dengan dedikasi menjalankan tugasnya.

“Hal ini sesuai dengan tema Hari Guru Nasional meningkatkan profesionalisme guru menuju pendidikan abad XXI,” ucap orang nomor satu di ibukota Soreang itu.

Tantangan pendidikan di abad ke 21 ini, kata Dadang semakin berat. Oleh karena itu perlu ada peningkatkan profesionalisme dalam sikap, mental, serta komitmen bersama.

“Sangat diperlukan peningkatan itu agar guru guru yang ada di Kabupaten

Bandung memiliki kompetensi yang sesuai dengan perkembangan zaman,” tandas Dadang.

Di acara HUT Korpri sekaligus memperingati Hari Guru Nasional, Hari Kesehatan, Hari Bhakti Pekerjaan Umum dan HUT PGRI, Pemkab memberi sejumlah penghargaan.

Mulai dari guru, kepala sekolah, pengawas dan penilik berprestasi, fasilitas Kesehatan Tingkat Pratama (FKTP) kepada puskesmas dan klinik terbaik di ibukota Soreang

 

Baca Juga :

 

 

‘Ngabaso’ Ciptakan Pelajar Peduli Sesama

‘Ngabaso’ Ciptakan Pelajar Peduli Sesama

'Ngabaso' Ciptakan Pelajar Peduli Sesama
‘Ngabaso’ Ciptakan Pelajar Peduli Sesama

Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil meluncurkan program ‘Ngabaso’ atau Ngabring ka Sakola, di hotel Mason Pine Padalarang, yang dihadiri para anak sekolah, guru dan relawan forum anak, Kamis (22/11).

Dengan program ‘Ngabaso’, mulai besok, anak SD hingga SMU sangat dianjurkan untuk berjalan kaki minimal 50 sampai 100 meter sebelum tiba di gerbang sekolah.

“Kita mewajibkan orang tua untuk mengantar anaknya sekolah tapi tidak sampai pintu gerbang melainkan ada jarak radius 50 sampai 100 meter,” ujar Gubernur yang akrab disapa Emil ini.

Selain untuk membiasakan anak berjalan kaki agar lebih sehat, menurut Emil, dengan ‘Ngabaso’ akan meningkatkan interaksi sosial antar teman sekolah, menjaga toleransi dan kekompakan.

“Mudah-mudahan dengan program ini akan melahirkan anak-anak yang lebih peduli kepada sesama dan punya empat nilai utama,” katanya.

Empat nilai utama yang dimaksud Emil adalah memiliki kekuatan fisik, kecerdasan akal, akhlak dan nilai spiritualnya. Empat nilai tersebut akan mampu diterjemahkan dalam program pendidikan karakter salah satunya ‘Ngabaso’.

“Anak-anak Jabar sedang kita kondisikan untuk memiliki 4 nilai utama yaitu kekuatan fisik, kecerdasan akal, akhlak dan nilai spiritualnya,” tutur Emil.

Lebih lanjut Emil mengatakan, dalam penerapan program ini apabila ada

anak yang terbiasa tidak diantar orang tuanya atau sering menggunakan transportasi umum, maka disarankan agar berhenti 100 meter sebelum tiba di sekolah. Setelah itu maka anak harus berjalan kaki ‘ngabring’ bersama teman-temannya.

“Kalau anak tidak diantar orang tua berarti si anak itu kan naik kendaraan umum nah saya minta berhentilah tidak di depan sekolahnya agar dia bisa berjalan dulu ngabring dengan temannya,” jelasnya.

Agar program ini berjalan lancar dan diikuti semua sekolah, Emil meminta kesediaan para anak memfoto saat aktivitas berjalan ngabring ke sekolah yang kemudian mengunggahnya ke media sosial.

“Hari ini kan zaman digital jadi waktu anak berjalan ke sekolah sambil

ngabringnya difoto atau divideo, ada keseruan disitu sehingga akhirnya lahir budaya baru di Jabar bahwa anak tidak manja dan mau berjalan kaki ke sekolah,” harapnya.

Emil pun meminta komitmen dari para guru dan kepala sekolah untuk mensukseskan dan mengawal salah satu program unggulan tersebut.

Di sela launching ‘Ngabaso’, Emil yang saat itu didampingi Atalia Praratnya

juga membuka jambore forum anak. Jambore yang bertemakan Anak Jabar Lebih Peka, Peduli dan Jadi Solusi Menuju Anak Juara ini, digelar dari tanggal 22 – 23 November 2018 dengan peserta para pengurus, pendamping dan fasilitator forum anak, serta perwakilan kepala sekolah dan pelajar

 

Sumber :

https://www.emailmeform.com/builder/form/c0jbsCdefue2OHhUvmiEl

Tingkatkan Pendidikan Karakter, Pemprov Jabar Luncurkan Program Ajengan Masuk Sekolah

Tingkatkan Pendidikan Karakter, Pemprov Jabar Luncurkan Program Ajengan Masuk Sekolah

Tingkatkan Pendidikan Karakter, Pemprov Jabar Luncurkan Program Ajengan Masuk Sekolah
Tingkatkan Pendidikan Karakter, Pemprov Jabar Luncurkan Program Ajengan Masuk Sekolah

Pemerintah Provinsi Jawa Barat luncurkan program Ajengan Masuk Sekolah (AMS) untuk meningkatkan pendidikan karakter di Jawa Barat.

Program AMS ini diluncurkan secara resmi oleh Wakil Gubernur Jawa Barat

, Uu Ruzhanul Ulum di Aula Ki Hajar Dewantara, Kantor Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat.

Dalam sambutannya, Uu Ruzhanul Ulum mengatakan, dirinya mendapat mandat khusus dari Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil untuk mengurus masalah pendidikan, sosial kemasyarakatan, dan BUMD.

Salah satu di antara bentuk mandat tersebut, lanjut Uu, adalah meluncurkan program untuk memajukan pendidikan agama melalui program Ajengan Masuk Sekolah.

“Termasuk hari ini AMS yang akan kami bicarakan, simpulkan, bagaimana caranya. Jabar punya masalah karakter moral dan akhlak. Tujuan pendidikan nasional adalah mencerdaskan kehidupan bangsa, meningkatkan keimanan dan ketakwaan,” ucap Uu, Kamis (22/11).

Menurutnya, pendidikan agama ini penting untuk siswa usia puber. Uu

berharap melalui pendidikan agama, siswa yang beragama Islam dapat mengerti akidah dan terbiasa membaca Al-Quran.

Selain itu, dirinya juga meminta para ajengan tidak minder karena tidak memiliki sertifikat atau ijazah. Karena baginya yang terpenting adalah ajengan bisa membagikan ilmu agamanya pada anak muda di Jawa Barat.

“Jangan minder. Mumpung gubernurnya cucu kiai, wagubnya cucu kiai, sok

atuh ajengan dikasih lapak pendidikan agama di Jabar. Rapatkan hari ini konsep mengajarnya,” tandasnya.

 

Sumber :

http://www.disdikbud.lampungprov.go.id/perencanaan/pengertian-ihsan.html

Kemendikbud Siapkan Kebijakan Khusus untuk UN bagi Siswa Terdampak Bencana

Kemendikbud Siapkan Kebijakan Khusus untuk UN bagi Siswa Terdampak Bencana

Kemendikbud Siapkan Kebijakan Khusus untuk UN bagi Siswa Terdampak Bencana
Kemendikbud Siapkan Kebijakan Khusus untuk UN bagi Siswa Terdampak Bencana

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaaan (Kemendikbud) menyiapkan kebijakan khusus untuk pelaksanaan ujian nasional (UN) bagi siswa terdampak bencana yang terjadi di Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Sulawesi Tengah pada pertengahan 2018 lalu. Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang), Kemendikbud, Totok Suprayitno mengatakan, konten yang diujikan pada UN akan disesuaikan dengan materi pembelajaran terakhir yang diterima siswa terdampak sebelum proses pembelajaran terganggu akibat bencana.

“Anak-anak yang terdampak akan dilayani sesuai dengan apa yang sudah

dipelajari. Kalau anak-anak itu, katakanlah di semester terakhir terganggu (proses pembelajarannya), maka konten yang diujikan nanti akan sampai di semester terakhir, di mana dia belajar,” tutur Totok dalam Taklimat Media Kilas Balik Kinerja Kemendikbud Tahun 2018 dan Rencana Kerja Tahun 2019 di Kantor Kemendikbud, Jakarta, Kamis (27/12/2018).

Kebijakan itu juga berlaku bagi siswa terdampak yang berpindah sekolah ke daerah lain. Totok menjelaskan, saat ini tengah dilakukan pendataan oleh sekolah penampung melalui sistem pendataan bernama Bio UN. “Sekolah ini mengidentifikasi siswa tersebut, berasal dari mana, belajarnya sampai di semester berapa. Nanti secara spesifik soalnya akan disesuaikan,” ujarnya.

Lebih lanjut Totok mengungkapkan, pelaksanaan UN di daerah terdampak

bencana tetap bisa diselenggarakan dengan berbasis komputer (UNBK). Kemendikbud menyiapkan metode yang disebut remote printing. “Jika tidak tersedia komputer, UNBK dilaksanakan dengan alat kertas. Istilahnya melalui remote printing. Itu sudah by name. Jadi masing-masing anak memiliki naskah soal yang berbeda satu sama lain,” kata Totok.

Namun, Totok menambahkan, pihaknya tetap akan melihat jumlah siswa yang menggunakan metode tersebut. Jika jumlahnya sangat banyak, penggunaan UNKP menjadi pertimbangan. “Kita akan lihat, jumlahnya manageable atau tidak,” pungkasnya.

Kebijakan pelaksanaan UN di daerah terdampak bencana telah dimuat

dalam Prosedur Operasi Standar (POS) UN Tahun 2019. Dalam dokumen itu disebutkan bahwa Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) sebanyak pelaksanaan UN berkoordinasi dengan Balitbang, direktorat dan pemerintah daerah terkait akan mengatur secara khusus pelaksanaan UN di daerah terdampak bencana berkaitan dengan jadwal, tempat, moda pelaksanaan, bahan, dan pengolahan hasil UN. (Ratih Anbarini)

 

Baca Juga :

 

 

Praktik Baik STEM: Siswa SMP di Bandung Ciptakan Alat Penjernih Air Sederhana

Praktik Baik STEM: Siswa SMP di Bandung Ciptakan Alat Penjernih Air Sederhana

Praktik Baik STEM Siswa SMP di Bandung Ciptakan Alat Penjernih Air Sederhana
Praktik Baik STEM Siswa SMP di Bandung Ciptakan Alat Penjernih Air Sederhana

Berangkat dari keprihatinan siswa SMP Negeri 23 Bandung melihat krisis air bersih di sekolahnya, mereka kemudian bereksperimen membuat alat penjernih air sederhana. Kini para siswa sudah bisa memanfaatkan air bersih untuk aktivitas sehari-hari.

Hal tersebut terungkap dalam ekspos karya pada Lokakarya Science, Technology, Engineering, Math (STEM) dan Revolusi Industri 4.0 di Kompleks Kemendikbud, Jakarta, Kamis (13/12). Apa yang para siswa SMPN 23 Bandung ini lakukan merupakan salah satu contoh praktik baik STEM yang dapat langsung dirasakan manfaatnya.

Pembelajaran STEM pada siswa-siswi SMPN 23 Bandung bertujuan untuk memecahkan masalah yang berkaitan dengan krisis air bersih yang terdapat di sekolah. Sekolah mereka terletak di kawasan padat penduduk, tepat berada di area pasar, terminal, serta tempat pembuangan sampah, akibatnya, tanah tercemar.

Kondisi air di sekolah yang bersumber dari air sumur resapan warnanya kuning dan keruh, serta berbau besi, tentu saja tidak dapat dipergunakan untuk aktivitas sehari-hari, seperti wudhu dan buang air. Sang guru pembimbing, Amalia Sholihah, menangkap keprihatinan para siswa didiknya kemudian mengajak mereka untuk mencari solusi dengan melakukan riset mandiri.

“Ketika membuat ini anak-anak sempat stres, karena tidak terbiasa. Biasanya kan berupa resep, kalau ini harus menggali, mencari tahu sendiri, tapi begitu lihat hasilnya dia sangat berbahagia,” tutur Amalia yang juga seorang guru IPA.

Dari hasil penelitian, siswa menemukan bahan-bahan yang secara efektif dapat menjernihkan air, yaitu ziolit yang berbentuk seperti kerikil dengan ukuran kecil dan sedang, pasir aktif, arang aktif, dan filter akuarium. Bahan-bahan ini kemudian ditakar dan disusun pada wadah yang sudah tidak terpakai, seperti botol air mineral bekas atau pipa.

Dari percobaan yang dilakukan, susunan paling efektif untuk menjernihkan

air adalah ziolit dengan ukuran kecil pada posisi paling bawah, dilanjutkan arang aktif, pasir aktif, lalu diisi kembali dengan ziolit berukuran sedang. Terakhir, posisi teratas dipasang filter akuarium. Hasilnya, ketika air tercemar dituang, air yang semula kuning, keruh, dan berbau, menjadi bening dan tidak berbau sama sekali. Air juga dapat mengalir dengan lancar, tidak mengalami penyumbatan.

Bukan sekadar efektif, namun bahan-bahan tersebut harganya pun

terjangkau, sehingga terbeli oleh siswa. Masing-masing bahan tersebut harganya berkisar antara tiga ribu hingga dua belas ribu rupiah. “Kalau kita lihat di internet harga filter itu dua juta, tidak mungkin terbeli oleh anak-anak saya yang keuarganya menengah ke bawah,” ungkap Amalia.

Selain dapat dirasakan langsung manfaatnya, hasil pembelajaran STEM

para siswa SMP Negeri 23 Bandung ini juga seringkali diikutkan pada ekspos karya pelajar, baik di tingkat kota, provinsi, maupun nasional. Tidak puas hanya sampai di sini, Amalia ingin agar para siswa dapat mengemas penjernih air dalam wadah yang menarik, sehingga memiliki nilai ekonomis. “Lumayan untuk pemasukan, membantu ekonomi keluarga mereka,” harap Amalia. (Prani Pramudita).
Sumber :

 

Sumber :

https://www.okeynotes.com/blogs/212521/21237/sejarah-teks-proklamasi