Siswa Paling tak Suka Mapel Sejarah Dipaparkan Guru, Lantas Disuruh Menghafal

Siswa Paling tak Suka Mapel Sejarah Dipaparkan Guru, Lantas Disuruh Menghafal

Siswa Paling tak Suka Mapel Sejarah Dipaparkan Guru, Lantas Disuruh Menghafal
Siswa Paling tak Suka Mapel Sejarah Dipaparkan Guru, Lantas Disuruh Menghafal

Mata pelajaran sejarah bisa menjadi menyenangkan bila caranya dibuat

menarik. Menurut Mozes Sosa, praktisi pendidikan, sejarah harus diajarkan secara kekinian. Tidak perlu menggunakan teknologi canggih tapi bisa dengan simulasi, diskusi, fotografi, public speaking.

“Guru harus kreatif. Anak-anak sekarang mana mau menghafal? Makanya

ajari sejarah dengan memberikan mereka stimulus seperti ajak diskusi, motret lokasi sejarah,” ujar Mozes di sela-sela rangkaian lawatan sejarah nasional (Lasenas) ke-17 di Medan, Rabu (10/7).

Mozes menila, lewat Lasenas sangat kelihatan siswa sebenarnya menyukai sejarah. Itu dilihat dari antusiasme siswa ketika diajak membahas sejarah masa lampau. Mereka juga sangat tertarik ketika melihat tempat-tempat bersejarah.

“Yang bagusnya, mereka diajarkan teori lewat diskusi dan simulasi. Setelah itu ajak mereka melihat langsung tempat-tempat bersejarah. Agar anak-anak ini makin kenal sejarahnya, mereka bisa mengambil foto dan buat tulisan,” bebernya.

Wa Ode Suci, siswa SMA 4 Kendari mengaku senang mempelajari sejarah

setelah mengikuti lawatan sejarah daerah (Laseda). Berkat tulisannya Laki Lapontoh Sang Pemersatu, Suci bisa terpilih ikut Lasenas.

 

BACA JUGA: Lasenas ke-17 di Medan, Cara Kreatif agar Siswa Tidak Melupakan Sejarah

“Saya ingin membawa sejarah Sulawesi Tenggara khusus Kendari di tingkat nasional. Apalagi banyak yang tidak mengetahui soal Kendari,” ucapnya.

Menurut Suci, dengan pembelajaran interaktif, siswa akan mencintai mapel sejarah. Siswa paling tidak suka sejarah dipaparkan oleh guru kemudian disuruh menghafal.

 

Baca Juga :

Aplikasi Online Ini Diharapkan Permudah Belajar Siswa

Aplikasi Online Ini Diharapkan Permudah Belajar Siswa

Aplikasi Online Ini Diharapkan Permudah Belajar Siswa
Aplikasi Online Ini Diharapkan Permudah Belajar Siswa

Aplikasi belajar online Teddy Inda telah diluncurkan ke publik sejak 1 Januari 2019. Aplikasi ini sangat bermanfaat bagi pelajar, khususnya yang akan menghadapi Ujian Nasional (UN).

Tak hanya itu, dengan mengakses aplikasi Teddy Inda, masyarakat akan mendapatkan atau bisa mencari tahu informasi tentang program bantuan pemerintah, seperti Kartu Indonesia Pintar (KIP), Program Keluarga Harapan (PKH), BPJS, Kartu Indonesia Sehat (KIS).

Teddy Yulianto, Ketua Yayasan Teddy Yulianto mengatakan aplikasi Teddy Inda ini sangat berguna bagi pelajar SD, SMP dan SMA yang akan menghadapi UN.

Baca Juga:

Perpres Sistem Zonasi Ditarget Keluar Tahun Ini
Menristekdikti: Inovasi di Perkuliahan Harus Ditingkatkan

“Di aplikasi ini ada materi pembelajaran untuk menghadapi UN para siswa SD sampai SMA, juga untuk ujian kesetaraan kejar Paket A, B, dan C semuanya gratis. Insya Allah membantu,” kata Teddy Yulianto, Jumat (1/2/2019).

Kata Teddy, untuk dapat mengakses aplikasi Teddy Inda ini, masyarakat

harus lebih dulu men-download di handphone berbasis Android. Caleg DPRD DKI dapil Jaksel 7 ini menegaskan, aplikasi Teddy Inda merupakan bentuk dukungannya terhadap program pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Joko Widodo dalam upaya mencerdaskan masyarakat.

“Untuk mengetahui segala jenis bantuan pendidikan dan cara mendapatkannya, di aplikasi ini ada penjelasannya,” papar pendiri PAUD gratis bertaraf internasional, Flying Star, dan PKBM Starisa School ini.

Agar masyarakat, khususnya para pelajar, tertarik menggunakan aplikasi belajar online ini, jelas Teddy, metode pembelajaran disajikan dengan berbagai variasi, salah satunya dengan menyajikan tayangan video.

Teddy memastikan, saat belajar menggunakan aplikasi Teddy Inda,

konsentrasinya tidak akan terganggu dengan pesan-pesan sponsor atau iklan. Disarankan, bagi masyarakat yang ingin lebih tahu tentang aplikasi Teddy Inda dapat bertanya melalui WhatsApp di nomor 085888666531.

Bedanya dengan aplikasi belajar online lainnya, di aplikasi Teddy Inda, masyarakat juga dapat mempelajari materi keterampilan (skill) seperti otomotif, modifikasi sepeda motor, multimedia, berternak, memancing,fotografi dan merakit komputer.

“Ada juga tentang resep makanan yang dapat dimanfaatkan para ibu rumah

tangga dan masyarakat yang ingin membuka usaha kuliner,” tutur pengusaha muda yang berbasis UMKM ini.

 

Sumber :

https://telegra.ph/Contoh-Teks-Eksplanasi-Tentang-Sosial-Pengangguran-07-05

Gelar RPNK, Kemendikbud Ingin Pemda Berbagi Praktik Baik Zonasi Pendidikan

Gelar RPNK, Kemendikbud Ingin Pemda Berbagi Praktik Baik Zonasi Pendidikan

Gelar RPNK, Kemendikbud Ingin Pemda Berbagi Praktik Baik Zonasi Pendidikan
Gelar RPNK, Kemendikbud Ingin Pemda Berbagi Praktik Baik Zonasi Pendidikan

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menggelar Rembuk Nasional Pendidikan dan Kebudayaan (RNPK) selama tiga hari sejak kemarin hingga Rabu, 13 Februari besok. Salah satu topik yang dibahas ialah kebijakan zonasi pendidikan.

Melalui RNPK ini akan dihimpun berbagai praktik baik yang telah dilakukan pemerintah daerah untuk mendorong penerapan kebijakan zonasi di masing-masing daerah.“Kewenangan (penerapan) zonasi berada di pemerintah daerah masing-masing. Diharapkan, dengan RNPK, pemerintah daerah memiliki pemahaman yang sama mengenai zonasi,” ungkap Staf Ahli Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Bidang Inovasi dan Daya Saing, Ananto Kusuma Seta di Jakarta.

Ananto yang juga menjabat sebagai Ketua Steering Committee RNPK 2019,

berharap agar para pemda memiliki pemahaman yang sama mengenai zonasi. “Diharapkan dengan rembuk nanti semua pemerintah daerah punya pemahaman yang sama, melihat (praktik baik) daerah lain bagus sehingga termotivasi untuk membangun zonasi di daerahnya dengan diperkuat peraturan daerah masing-masing,” ujarnya.

Baca Juga:

DPR Nilai Pernyataan Praktisi Pendidikan Setyono Bisa Menyulut Polemik
Kasus Pemalsuan SKD, Kemendikbud Serahkan ke Daerah

Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kemendikbud, Supriano

menambahkan, RNPK ini mendapatkan kesepakatan bagaimana menata pendistribusian guru berbasis zona yang tidak hanya untuk PBDB ke depan tetapi untuk pendistribusian guru termasuk peningkatan kompetensi melalui pendekatan pada peningkatan pedagobi dengan memasukkan unsur pembentukan karakter pada semua mata pelajaran.

Dengan pola zonasi ini juga dilakukan pendekatan MGMP (Musyawarah

Guru Mata Pelajaran) dimana guru-guru dapat berdiskusi di dalam zona. “Jadi kita tidak lagi menarik guru-guru untuk pelatihan tingkat nasional tetapi kita akan fokuskan guru-guru ini berlatih ditingkat zona melalui MGMP,” ujarnya.

 

Sumber :

https://telegra.ph/Pengertian-Teks-Ulasan-Contoh-Ciri-Tujuan-Struktur-07-05

Prof Kacung Marijan, Warek I Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya

Prof Kacung Marijan, Warek I Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya

Prof Kacung Marijan, Warek I Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya
Prof Kacung Marijan, Warek I Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya

Industri kecil dan menengah memiliki peranan penting dalam perkembangan serta kemajuan negara. Sebuah teori menyebutkan, negara akan tumbuh merata jika industri kecil bisa berkembang. Hal tersebut menarik perhatian Prof Dr Kacung Marijan MA untuk menjadikannya sebagai penelitian.

NEGARA Indonesia memiliki potensi industri kecil yang besar. Untuk menjadikannya efisien, menurut Prof Kacung Marijan, dibutuhkan tiga faktor utama. Yakni, modal, teknologi, serta sumber daya manusia. Jika tiga hal tersebut terpenuhi, industri kecil bisa bersaing dengan yang berskala lebih besar.
Prof Kacung Marijan, Warek I Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya
Tentang Prof Kacung Marijan (Grafis: Herlambang/Jawa Pos/JawaPos.com)

Agar industri kecil mampu bersaing dengan industri besar, diperlukan strategi khusus. Kacung menyebutnya sebagai strategi kolektif efisien. Maksudnya, industri-industri kecil yang memiliki persamaan produk berkelompok menjadi satu. Kemudian, mereka menjalankan bisnis secara bersama-sama.

Untuk dapat menciptakan strategi kolektif efisien yang baik, dibutuhkan kepercayaan dan hubungan sosial yang baik. Para pelaku industri kecil harus menyamakan visi-misi serta tidak mengedepankan ego masing-masing. ”Kalau yang kecil-kecil bersatu, yang besar pun bisa kalah,” tutur guru besar ilmu politik tersebut. Karena itu, para pelaku industri kecil harus rukun.

Lalu, apa hubungan antara industri kecil dan ilmu sosial-politik? Kacung menjelaskan, adanya industri kecil tak lepas dari pemerintah. Sebab, pemerintah mengeluarkan kebijakan untuk mengatur dan melindungi pelaku industri kecil. Kebijakan itu berkaitan dengan ketersediaan bahan baku pembuatan produk dan bantuan dalam bentuk proses produksi. Selain itu, hal tersebut berkaitan dengan strategi penjualan yang baik. Diharapkan, pelaku industri kecil tak hanya mampu membuat produk. Tetapi juga memasarkannya hingga berkembang menjadi industri yang besar.

Dirjen Kebudayaan, Kementerian Pendidikan, dan Kebudayaan 2013–2015

itu menganalogikan pengelolaan industri kecil oleh pemerintah seperti anak-anak. Ketika masih kecil, industri tersebut dibina dan dibantu agar bisa berdiri sendiri. Setelah besar, harus dilepas agar mandiri. ”Jangan sampai jadi anak manja,” ujar guru besar yang dikukuhkan pada 2007 itu.

Melihat fenomena saat ini, lanjut dia, masih banyak celah bagi pemerintah untuk melindungi pengusaha kecil. Salah satu contoh kasus adalah ekspor besar-besaran bahan mentah ke luar negeri. Setelah jadi, barang itu kembali dijual ke dalam negeri dengan harga yang mahal. Juga, kasus impor barang murah sehingga produk dalam negeri tidak laku.

Salah satu tantangan besar bagi industri kecil adalah pemasaran. Di situlah

peran pemerintah dibutuhkan. Pemerintah harus bisa memberikan akses informasi. Tujuannya, produsen dan pembeli bisa bertemu. ”Tidak harus secara langsung, tapi bisa juga online,” paparnya.

Menurut pria kelahiran Lamongan, 25 Maret 1964, itu, kemajuan zaman saat ini harus dimanfaatkan. Sayang, ada sebagian pelaku industri kecil yang belum melek internet. Karena itu, pemerintah harus hadir sebagai fasilitator. Misalnya, membuatkan website khusus bagi para pelaku industri kecil untuk bisa berjualan bersama. Website tersebut menjadi wadah atau toko berjualan online.

Selain itu, yang tak kalah penting adalah memerangi illegal import. Yakni,

barang masuk tanpa dikenai pajak. Akibatnya, harga jualnya bisa jauh lebih murah. Hal tersebut berpeluang mematikan pasaran produk dalam negeri yang modelnya sama.

Mengenai pajak bagi pelaku industri kecil yang berjualan di internet, Kacung ikut mendukung jika pemerintah memberikan tagihan pajak kepada mereka. Tentu dengan jumlah yang sesuai dengan penjualan. ”Kalau yang masih kecil sekali dan baru mulai, sebaiknya diberi dispensasi,” imbuh alumnus S-1 FISIP Unair, S-2 di Flinders University of South Australia, dan S-3 di Australian National University itu. Kacung berharap hasil penelitiannya bisa bermanfaat bagi kemajuan industri kecil di Indonesia. Selanjutnya, bermanfaat bagi kemajuan bangsa dan negara.

 

Baca Juga :

 

 

Daftar SMP Favorit, Masih Terjebak Pola Pikir Lama

Daftar SMP Favorit, Masih Terjebak Pola Pikir Lama

Daftar SMP Favorit, Masih Terjebak Pola Pikir Lama
Daftar SMP Favorit, Masih Terjebak Pola Pikir Lama

Di sisi lain, kondisi sebaliknya terjadi di sekolah-sekolah favorit. Jumlah

pendaftar membeludak. SMPN 1 Gresik, misalnya. Dari 320 pagu, jumlah pendaftar mencapai 607 orang. Itu belum termasuk 256 pendaftar yang memilih pilihan kedua dan 117 pilihan ketiga. Pendaftar SMPN 1 Driyorejo juga melimpah. Dari 352 pagu, pendaftar mencapai 734 calon siswa. Jumlah tersebut belum termasuk pilihan kedua dan ketiga.

Kabid Pendidikan Dasar (Dikdas) Gresik Nur Maslichah menyatakan, calon

peserta didik dan orang tua murid masih terjebak dalam pola pikir (mindset) lama. Seharusnya, wali murid bisa bijak dalam menentukan sekolah untuk buah hatinya. ’’Ini proses. Mungkin karena baru awal

diterapkan. Kelihatannya zonasi belum maksimal,” ungkapnya. Nur

Maslichah yakin seiring waktu, spirit sistem zonasi bisa benar-benar diterapkan. Hasilnya juga akan lebih baik.

 

Sumber :

https://harare.storeboard.com/blogs/education/material-about-building-a-beam-room/965003

Uji Kompetensi Guru, Tes Sesuaikan Kompetensi Guru

Uji Kompetensi Guru, Tes Sesuaikan Kompetensi Guru

Uji Kompetensi Guru, Tes Sesuaikan Kompetensi Guru
Uji Kompetensi Guru, Tes Sesuaikan Kompetensi Guru

Minimnya tingkat kelulusan peserta uji kompetensi guru (UKG) membuat banyak kalangan resah. Keputusan pemerintah untuk meningkatkan standar nilai kelulusan UKG tersebut dinilai membutuhkan pengkajian ulang agar sesuai dengan kondisi di lapangan.

Data yang diperoleh Jawa Pos menunjukkan, secara nasional, jumlah guru yang tidak lulus UKG mencapai 61 persen. Jumlah lulusan guru dalam UKG tersebut diketahui setelah pemerintah menaikkan standar kelulusan dari semula 42 poin menjadi 80 poin.

Kepala Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) Jatim Bambang Agus Susetyo menyatakan, pemerintah memang harus merevisi mekanisme UKG jika ingin guru tetap lulus uji. UKG harus didesain dengan melihat kompetensi guru secara luas.

Soal UKG sering dinilai terlalu luas oleh para guru lantaran materinya tidak

fokus. Guru sejarah, misalnya. Saat UKG, dia masuk rumpun ujian IPS. ”Nah, pada tes UKG tersebut, guru juga harus mengerjakan soal ekonomi. Padahal, belum tentu dia menguasai,” ucapnya.

Ketua Dewan Pendidikan Surabaya (DPS) Martadi menjelaskan, peningkatan nilai UKG tersebut tidak masalah. Sebab, UKG hanya berperan sebagai mapping pengetahuan awal seorang guru. ”UKG itu hanya sebagian kecil saja dari kriteria guru bisa dianggap profesional,” ujarnya.

Hal ini sesuai dengan Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur

Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 16 Tahun 2009 tentang jabatan fungsional guru dan angka kreditnya. Di situ dijelaskan bahwa seorang guru yang profesional harus mengikuti pengembangan keprofesionalan berkelanjutan (PKB).

Dalam aturan tersebut, dijelaskan bahwa seorang guru harus memiliki

beberapa kemampuan. Antara lain, soal pedagogi dan kepribadian. Guru harus terus-menerus mengembangkan kemampuan yang dimiliki itu sepanjang tahun. ”Jadi, intinya, guru harus terus berkembang, tidak berhenti belajar,” ungkapnya.

 

Sumber :

http://groupspaces.com/Education30/pages/geography

Penerapan Konsep Estetika Dalam Manajemen

Penerapan Konsep Estetika Dalam Manajemen

Penerapan Konsep Estetika Dalam Manajemen
Penerapan Konsep Estetika Dalam Manajemen

Dalam filsafat manajemen

terkandung dasar pandangan hidup yang mencerminkan keberadaan, identitas dan implikasinya guna mewujudkan efisiensi dan efektivitas dalam pekerjaan manajemen. Untuk merealisasikan tujuan diperlukan beberapa faktor penunjang sehingga merupakan kombinasi yang terpadu, baik menyangkut individu maupun kepentingan umum. Hal ini dimaksudkan adanya keseimbangan diantara faktor – faktor yang diperlukan dalam mencapai suatu kekuatan untuk mengejar suatu hasil yang maksimum.

Mary Parker Follet mengemukakan

bahwa manajemen merupakan suatu bentuk seni untuk melakukan suatu pekerjaan lewat orang lain. Definisi dari Mary Parker Follet ini mengandung perhatian pada sebuah kenyataan bahwa para manajer dapat mencapai tujuan organisasi dengan cara mengatur orang lain agar dapat melaksanakan apa saja yang diperlukan dalam suatu pekerjaan, tidak dengan cara melaksanakan pekerjaan tersebut seorang diri.

Jadi estetika atau seni diterapkan

dalam proses penerapan fungsi – fungsi manajemen dalam perusahaan (Planning, Organizing, Actuating dan Controlling). Terutama di Bali sebagai daerah pariwisata yang terkenal, tentunya aspek estetika menjadi sangat penting. Contohnya pengerjaan sebuah proyek perusahaan.

Baca Juga : 

Prinsip Politik sebagai Prinsip Penerapan Ilmu

Prinsip Politik sebagai Prinsip Penerapan Ilmu

Prinsip Politik sebagai Prinsip Penerapan Ilmu
Prinsip Politik sebagai Prinsip Penerapan Ilmu

Otoritas dan obyektifitas ilmiah tak dapat dicampuri oleh otoritas

dan kepentingan politik apapun, dan ilmu bukan untuk kekuasaan. Ilmu dan politik saling menunjang. Ilmu merupakan asas, sedangkan otoritas politik sebagai penjaga. Sesuatu yang tanpa asas pasti akan roboh, dan sesuatu yang tanpa penjaga pasti akan musnah. Dengan demikian, otoritas politik merupakan alat untuk melindungi, mengembangkan, dan merealisasikan ilmu. (Syamsir Torang, 2014: 109). Contoh aksiologis dalam Socio Political Life antara lain:

1. Sikap dan Tanggung Jawab Ilmuwan (Latiff Mukhtar, 2014)

Ilmu merupakan hasil karya seorang ilmuwan yang apabila memenuhi syarat – syarat keilmuan akan menjadi ilmu pengetahuan dan digunakan oleh masyarakat luas. Maka ilmuwan memiliki tanggung jawab yang besar bukan hanya karena ia warga masyarakat, melainkan karena bertanggung jawab atas hasil penelitiannya agar disalahgunakan masyarakat.Selain itu pula masyarakat seringkali mendapat berbagai masalah yang belum diketahui pemecahannya.

Maka ilmuwan sebagai seorang yang terpandang dengan analisisnya

diharapkan mampu mendapatkan pemecahan atas permasalahan tesebut. Ilmuwan mempunyai kewajiban sosial untuk menyampaikan kepada masyarakat, memberikan perspektif yang benar, untung – rugi, baik dan buruknya sehingga penyelesaian yang obyektif dapat dimungkinkan. Kelebihan seorang ilmuwan dalam berpikir secara teratur dan cermat menyebabkan mereka memiliki tanggung jawab sosial.
Tugas seorang ilmuwan harus dapat menjelaskan hasil penelitiannya sejernih mungkin atas dasar rasionalitas dan metodologis yang tepat. Mereka tidak akan membiarkan hasil penelitian maupun temuannya digunakan untuk menindas bangsa lain meskipun digunakan olah bangsanya sendiri. Sejarah telah mencatat para ilmuwan telah bangkit dan bersikap terhadap politik dan pemerintah yang berkuasa yang menurut mereka telah melanggar asas kemanusiaan. Pengetahuan merupakan kekuasaan yang dapat disalahgunakan sehingga ilmuwan berperan penting dalam menjaga kegunaannya dalam lingkungan sosial dan politik.Penerapan ilmu pengetahuan yang telah dihasilkan oleh para ilmuwan, entah itu berupa teknologi ataupun teori emansipasi dan sebagainya mesti memperhatikan nilai – nilai kemanusiaan, nilai agama, nilai adat, dan sebagainya.

Sebagai contoh: Peran akademisi dalam menanggapi isu lingkungan maupun sosial budaya di masyarakat
Senat Universitas Udayana memutuskan bahwa rencana Reklamasi Teluk Benoa tidak layak untuk diteruskan. Hal tersebut setelah dilakukan pengkajian kembali oleh tim review unud setelah melihat hasil kajian para peneliti Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM Unud). Menurut Prof. Suastika selaku Rektor Unud, proyek diputuskan tidak layak setelah dikaji dari aspek lingkungan, teknis, sosial budaya, dan ekonomi finansial. (www.antarabali.com). Begitu juga tindakan Institut Teknologi Sepuluh November yang menolak penawaran penyelenggara proyek untuk melakukan kajian atas proyek tersebut.

2. Seorang Teknokrat

Secara definitif, teknokrat merupakan tokoh yang memiliki kemampuan teknis berdasarkan disiplin ilmu tertentu yang dikuasainya dan sekaligus terlibatdalam kegiatan berkuasa dan memerintah. Beberapa tokoh yang dipandang sebagai teknokrat Indonesia antara lain: Boediono, Dahlan Iskan, Sri Mulyani, dan Anies Baswedan

Sumber : http://diana-ega-fst12.web.unair.ac.id/artikel_detail-243960-Umum-Sejarah%20BPUPKI.html

Penerapan fungsi – fungsi manajemen tersebut antara lain

Penerapan fungsi – fungsi manajemen tersebut antara lain

 Penerapan fungsi – fungsi manajemen tersebut antara lain
Penerapan fungsi – fungsi manajemen tersebut antara lain

a. Diawali dengan tahap Planning (perencanaan)

ketika para arsitek merencanakan membuat bangunan perkantoran bertingkat pasti dikaitkan dengan aspek – aspek peruntukannya apa, bagaimana situasi lingkungan, apakah mengganggu keindahan atau malah merusak lingkungan. Yang pasti estetika suatu rancang bangun seharusnya didasarkan pada strategi bisnis perusahaan dan pertimbangan lingkungan.

b. Tahap Organizing (mengorganisasi)

pada tahap ini ada komunikasi antara pemimpin dan manajer dengan para sub-ordinasinya. Ketika terjadi interaksi maka selayaknya kalau manajer memperlakukan sub-ordinasinya dengan cara –cara yang manusiawi. Misalnya pemimpin menyapa karyawan dengan akrab, sehingga akan tercipta suasana kerja yang harmonis dan indah. Pemimpin juga mau mendengar dan merespon positif pendapat sub-ordinasinya.

c. Tahap Actuating (pelaksanaan)

ketika perusahaan ingin menggapai keunggulan kompetitif maka salah satu unsur yang ingin dicapai adalah pengembangan loyalitas konsumen. Untuk itu perusahaan harus bisa memberikan produk yang bermutu dan layanan yang terbaik kepada konsumen. Secara pengembangan nilai lalu dibangun suatu jembatan emosional antara perusahaan dengan konsumen. Bentuknya adalah tanggung jawab mutu dengan dengan estetika tinggi, pelayanan ramah dan tepat waktu dan konsumen diperlakukan dengan cara aman dan nyaman secara berkelanjutan. Pada gilirannya konsumen akan loyal untuk kembali membeli produk perusahaan tersebut.

d. Tahap Controlling (pengawasan)

dimana pengawasan merupakan tindakan seorang manajer untuk menilai dan mengendalikan jalannya suatu kegiatan demi tercapainya tujuan yang telah ditetapkan. Dengan demikian, tujuan pengawasan adalah memperbaiki kesalahan, penyimpangan, penyelewengan dan kegiatan lainnya yang tidak sesuai dengan rencana. Misalnya apabila ada bawahan yang melakukan kesalahan, pimpinan menegur dengan cara yang baik, tidak emosional dan manusiawi. Sehingga bawahan tidak merasa ketakutan atau tertekan dan selanjutnya dapat memperbaiki kesalahannya.

Sumber : https://www.mindstick.com/Articles/126240/how-to-prevent-air-and-soil-pollution

Bagi-Bagi 1.130 Komputer

Bagi-Bagi 1.130 Komputer

Bagi-Bagi 1.130 Komputer
Bagi-Bagi 1.130 Komputer

Hampir seluruh sekolah setingkat SMP di Sidoarjo bisa melangsungkan ujian nasional berbasis komputer (UNBK) tahun depan. Dinas Pendidikan (Dispendik) Sidoarjo menyanggupi membelikan komputer. Terdapat 28 SMPN reguler dan dua SMPN satu atap yang memperoleh bantuan tersebut.

Sekretaris Dispendik Sidoarjo Tirto Adi menyatakan, pihaknya bakal memberikan 40 unit komputer untuk masing-masing SMP negeri. Jumlah yang sama diberikan pada sekolah lainnya tahun lalu. ’’Prinsipnya memeratakan bantuan. Jadi, kami bagi rata untuk semua sekolah,’’ ujarnya.

Tirto mengatakan, hibah komputer itu tidak hanya berpusat pada sekolah di

tengah kota. Pihaknya juga menyasar kecamatan lainnya. Total ada 1.130 unit komputer yang akan dibagikan. Sebanyak 1.120 unit bakal diberikan kepada 28 SMPN reguler. Jadi, rata-rata satu SMPN reguler mendapat 40 komputer. Adapun sisanya, 10 komputer, bakal dibagikan kepada dua SMPN satu atap. Yakni, SMPN Satu Atap Buduran dan SMPN Satu Atap Tambak Kalisongo di Kecamatan Jabon. ’’Kami tetap beri bantuan, tetapi tidak banyak karena siswa di sana juga tidak banyak,’’ ungkapnya.

Bantuan 40 komputer, kata Tirto, belum cukup untuk mengakomodasi

penyelenggaraan unas secara mandiri. Dengan rata-rata 300 siswa, satu sekolah seharusnya mempunyai 100 unit. Sebab, UNBK dilaksanakan dalam tiga sesi. ’’Kalau bicara ideal, seharusnya 150 komputer per sekolah. Dengan begitu, bisa dilaksanakan dalam dua sesi saja,’’ ungkapnya.

Dengan kondisi tersebut, Tirto meminta pihak sekolah untuk berusaha menutupi kekurangan kebutuhan komputer. Termasuk server UNBK yang memang tidak jadi disediakan pemerintah kabupaten sebagai bantuan. ’’Tahun ini memang ada rencana bantuan komputer dan server seiring PAK (perubahan anggaran kegiatan) 2017. Tapi tidak disetujui,’’ jelasnya.

Sementara itu, Ketua Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMPN di

Sidoarjo Zaenul Afani menyambut baik pemberian bantuan komputer tersebut. Namun, dia berharap realisasinya tidak terlambat. Sebab, pemerintah pusat sudah mewanti-wanti bahwa pelaksanaan unas SMP dimajukan April 2018. ’’Kami dikonfirmasi realisasinya Februari. Kalau bisa jangan molor dari yang dijanjikan. Karena kan butuh simulasi juga,’’ paparnya.

 

Baca Juga :