Cegah Radikalisme, Mahasiswa Baru Harus Diberi Pemahaman Yang Benar Soal Radikalisme

Cegah Radikalisme, Mahasiswa Baru Harus Diberi Pemahaman Yang Benar Soal Radikalisme

Penyebaran paham negatif radikalisme di distrik kampus sudah paling memprihatinkan. Bahkan mahasiswa baru menjadi lokasi yang paling subur dalam penyebaran radikalisme dan terorisme. Radikalisme dimaksud ialah radikalisme mempunyai sifat negatif yang mengangkat takfiri, intoleransi, dan anti NKRI.

“Mahasiswa baru paling rentan ini dengan penyebaran paham negatif ini. Hati-hati dalam memilih mentor, hati-hati dengan dosen, bila kalian merasa telah ada yang terlihat, laporkan. Karena bukan hanya kalian yang terpapar, dosen pun terpapar, bahkan guru besar pun terpapar ,” tutur Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Komjen Pol Suhardi Alius saat menyerahkan kuliah umum bertemakan Kegiatan Pembinaan Kesadaran Bela Negara dihadapan 1.700 lebih mahasiswa baru Institut Teknologi Nasional, Bandung, Minggu, 26 Agustus 2018.

Suhardi menegaskan, universitas memegang peran penting. Universitas melewati rektor bertanggung jawab dengan apa yang terjadi di lingkungan kampus. Jika terjadi urusan yang tidak diinginkan, dalam urusan ini menyebarnya radikalisme dan terorisme, maka rektor patut disalahkan.

“Saya telah bilang sama Menristekdikti, peran rektor tersebut sangat besar, apa yang terjadi di kampus tersebut tanggung jawab rektor. Kalau tidak dapat mengelola kampusnya saya mohon rektornya diganti. “ tegasnya.

Suhardi menjelaskan tidak sedikit sekali permintaan untuk memenuhi kuliah umum oleh universitas berhubungan resonansi kebangsaan dan berhubungan radikalisme dan terorisme, sampai-sampai dia bertekad akan berjuang sebaik mungkin mengisi undangan itu.

Berdasarkan keterangan dari pelajaran.id/ dia, urusan Ini penting sebab para mahasiswa ialah generasi muda calon penerus bangsa yang mesti diberi pemahaman mengenai bahaya paham negatif yang menjadikan mereka sebagai sasaran.

“Bulan ini ialah bulan yang paling luar biasa sebab ada penerimaan mahasiswa baru. Karena penanaman benih-benih perekrutan mereka tersebut juga ketika mahasiwa baru, oleh sebab tersebut saya berkepentingan dan semua pejabat BNPT saya tugaskan berakhir untuk menyerahkan pencerahan,” ungkapnya.

Suhardi pun menyayangkan tergerusnya jiwa kebangsaan dan nasionalisme pada anak muda zaman sekarang. Berdasarkan keterangan dari dia, globalisasi menciptakan masyarakat menjadi lebih kritis dan logis sampai-sampai mengurangi memakai hati.

“Saya minta pakai hati, gunakan hati, bila bicara kebangsaan, tingkatkan kebangsaan. Pikirkan inginkan dibawa kemana bangsa ini. Bangsa ini tidak saja untuk kalian tapi pun untuk anak cucu kalian.”

Tak tak sempat Suhardi pun menyampaikan dibutuhkannya persiapan yang matang untuk semua mahasiswa baru dalam melintasi dunianya ke depan. Berdasarkan keterangan dari dia, dengan demikian besarnya kendala global, semua mahasiswa baru mesti memilki fondasi powerful dan matang

“Zaman kini semua masalah tidak terdapat yang parsial, semuanya tersambung, global dominan  pada nasional. Persaingan tidak melulu dalam negeri,tapi pun internasional. Untuk tersebut kalian mesti jadi orang yang professional. Menjadi orang profesional, terdapat dua kriterianya, knowledge dan skill. Tapi di luar tersebut juga diperlukan akhlak dan moral, bayangkan orang pintar namun tak bermoral.” ungkapnya.

Kegiatan kuliah umum ini dihadiri langsung oleh rektor Institut Teknologi Nasional , Imam Aschuri, dan bebrapa wakil rektor Institut Teknologi Nasional.

Penjelasan Metode Diskusi

Penjelasan Metode Diskusi

Penjelasan Metode Diskusi
Penjelasan Metode Diskusi

Metode diskusi adalah metode pembelajaran yang menghadapkan siswa pada suatu permasalahan. Tujuan utama metode ini adalah untuk memecahkan suatu permasalahan, menjawab pertanyaan, menambah dan memahami pengetahuan siswa, serta untuk membuat suatu keputusan (Killen, 1998). Karena itu, diskusi bukanlah debat yang bersifat mengadu argumentasi.

Diskusi lebih bersifat bertukar pengalaman untuk menentukan keputusan tertentu secara bersama-sama. Selama ini banyak guru yang merasa keberatan untuk menggunakan metode diskusi dalam proses pembelajaran.


Keberatan itu biasanya timbul dari asumsi:

  1. diskusi merupakan metode yang sulit diprediksi hasilnya oleh karena interaksi antar siswa muncul secara spontan, sehingga hasil dan arah diskusi sulit ditentukan;
  2. diskusi biasanya memerlukan waktu yang cukup panjang, pada hal waktu pembelajaran di dalam kelas sangat terbatas, sehingga keterbatasan itu tidak mungkin dapat menghasilkan sesuatu secara tuntas.

Sebenarnya hal ini tidak perlu dirisaukan oleh guru. Sebab, dengan perencanaan dan persiapan yang matang kejadian semacam itu bisa dihindari. Dilihat dari pengorganisasian materi pembelajaran, ada perbedaan yang sangat prinsip dibandingkan dengan metode sebelumnya, yaitu ceramah dan demonstrasi.

Kalau metode ceramah dan demonstrasi materi pelajaran sudah diorganisir sedemikian rupa sehingga guru tinggal menyampaikannya, maka pada metode ini bahan atau materi pembelajaran tidak diorganisir sebelumnya serta tidak disajikan secara langsung kepada siswa, matari pembelajaran ditemukan dan diorganisir oleh siswa sendiri, karena tujuan utama metode ini bukan hanya sekadar hasil belajar, tetapi yang lebih penting adalah proses belajar.


Secara umum ada dua jenis diskusi yang biasa dilakukan dalam proses pembelajaran.
Pertama, diskusi kelompok. Diskusi ini dinamakan juga diskusi kelas. Pada diskusi ini permasalahan yang disajikan oleh guru dipecahkan oleh kelas secara keseluruhan. Pengatur jalannya diskusi adalah guru.

Kedua, diskusi kelompok kecil. Pada diskusi ini siswa dibagi dalam beberapa kelompok. Setiap kelompok terdiri dari 3-7 orang. Proses pelaksanaan diskusi ini dimulai dari guru menyajikan masalah dengan beberapa submasalah. Setiap kelompok memecahkan submasalah yang disampaikan guru. Proses diskusi diakhiri dengan laporan setiap kelompok.


Ada beberapa kelebihan metode diskusi, manakala diterapkan dalam kegiatan belajar mengajar.

  1. Metode diskusi dapat merangsang siswa untuk lebih kreatif, khususnya dalam memberikan gagasan dan ide-ide.
  2. Dapat melatih untuk membiasakan diri bertukar pikiran dalam mengatasi setiap permasalahan.
  3. Dapat melatih siswa untuk dapat mengemukakan pendapat atau gagasan secara verbal. Di samping itu, diskusi juga bisa melatih siswa untuk menghargai pendapat orang lain.

Selain beberapa kelebihan, diskusi juga memiliki beberapa kelemahan, di antaranya:

  1. Sering terjadi pembicaraan dalam diskusi dikuasai oleh 2 atau 3 orang siswa yang memiliki keterampilan berbicara.
  2. Kadang-kadang pembahasan dalam diskusi meluas, sehingga kesimpulan menjadi kabur.
  3. Memerlukan waktu yang cukup panjang, yang kadang-kadang tidak sesuai dengan yang direncanakan.
  4. Dalam diskusi sering terjadi perbedaan pendapat yang bersifat emosional yang tidak terkontrol. Akibatnya, kadang-kadang ada pihak yang merasa tersinggung, sehingga dapat mengganggu iklim pembelajaran.

Jenis dan Langkah-langkah Diskusi

1. Jenis Diskusi
Terdapat bemacam-macam jenis diskusi yang dapat digunakan dalam proses pembelajaran, antara lain:


a. Diskusi Kelas
Diskusi kelas atau disebut juga diskusi kelompok adalah proses pemecahan masalah yang dilakukan oleh seluruh anggota kelas sebagai peserta diskusi. Prosedur yang digunakan dalam jenis diskusi ini adalah:

  1. guru membagi tugas sebagai pelaksanaan diskusi, misalnya siapa yang akan menjadi moderator, siapa yang menjadi penulis;
  2. sumber masalah (guru, siswa, atau ahli tertentu dari luar) memaparkan masalah yang harus dipecahkan selama 10-15 menit;
  3. siswa diberi kesempatan untuk menanggapi permasalahan setelah mendaftar pada moderator;
  4. sumber masalah memberi tanggapan; dan
  5. moderator menyimpulkan hasil diskusi.
b. Diskusi Kelompok Kecil
Diskusi kelompok kecil dilakukan dengan membagi siswa dalam kelompok- kelompok. Jumlah anggota kelompok antara 3-5 orang. Pelaksanaannya dimulai dengan guru menyajikan permasalahan secara umum, kemudian masalah tersebut dibagi-bagi ke dalam submasalah yang harus dipecahkan oleh setiap kelompok kecil. Selesai diskusi dalam kelompok kecil, ketua kelompok menyajikan hasil diskusinya.

c. Simposium
Simposium adalah metode mengajar dengan membahas suatu persoalan dipandang dari berbagai sudut pandang berdasarkan keahlian. Simposium dilakukan untuk memberikan wawasan yang luas kepada siswa. Setelah para penyaji memberikan pandangannya tentang masalah yang dibahas, maka simposium diakhiri dengan pembacaan kesimpulan hasil kerja tim perumus yang telah ditentukan sebelumnya.

d. Diskusi Panel
Diskusi panel adalah pembahasan suatu masalah yang dilakukan oleh beberapa orang panelis yang biasanya terdiri dari 4-5 orang di hadapan audiens. Diskusi panel berbeda dengan jenis diskusi lainnya. Dalam diskusi panel audiens tidak terlibat secara langsung, tetapi berperan hanya sekadar peninjau para panelis yang sedang melaksanakan diskusi. Oleh sebab itu, agar diskusi panel efektif perlu digabungkan dengan metode lain, misalnya dengan metode penugasan. Siswa disuruh untuk merumuskan hasil pembahasan dalam diskusi.

Strategi Pengelolaan Kelas dalam Meningkatkan Prestasi Belajar Siswa di SMA Negri

Strategi Pengelolaan Kelas dalam Meningkatkan Prestasi Belajar Siswa di SMA Negri

Strategi Pengelolaan Kelas dalam Meningkatkan Prestasi Belajar Siswa di SMA Negri
Strategi Pengelolaan Kelas dalam Meningkatkan Prestasi Belajar Siswa di SMA Negri

Penelitian ini bertujuan untuk mendiskripsikan “Strategi Pengelolaan Kelas Dalam Meningkatkan Prestasi Belajar Siswa”. Peranan guru sebagai manajer dalam kegiatan belajar di kelas sudah lama diakui sebagai salah satu faktor yang penting dalam meningkatkan prestasi belajar siswa.

Guru sebagai tenaga profesional, dituntut tidak hanya mampu mengelola pembelajaran saja tetapi juga harus mampu mengelola kelas, yaitu menciptakan dan mempertahankan kondisi belajar yang optimal bagi tercapainya tujuan pengajaran. Oleh karena itu sejalan dengan upaya pemerintah dalam meningkatkan mutu di semua jenjang pendidikan, penerapan strategi pengelolaan kelas dalam pembelajaran merupakan salah satu alternatif yang diyakini dapat digunakan untuk memecahkan persoalan yang mendasar dari permasalahan pendidikan di tanah air.



Kata Kunci: strategi pengelolaan kelas, prestasi belajar, siswa
Ujian Akhir Sekolah yang disingkat UAS dengan Ujian Akhir Nasional yang disingkat UAN, selalu dilaksanakan setiap akhir tahun pelajaran oleh semua sekolah mulai dari SD sampai SMA dan SMK. Tujuan utama Ujian Akhir Sekolah dan Ujian Akhir Nasional adalah untuk (a) mengukur pencapaian hasil belajar peserta didik, (b) mengukur mutu pendidikan, (c) mempertanggung jawabkan penyelenggaraan pendidikan secara nasional, propinsi, kabupaten/kota, dan sekolah kepada masyarakat.

 

Kegiatan tersebut merupakan salah satu upaya untuk mencapai tujuan pendidikan nasional sebagai mana tertulis dalam Undang-undang Republik Indonesia No 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Pasal 3 sebagai berikut :


Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Untuk mencapai tujuan Pendidikan Nasional tersebut Pemerintah Republik Indonesia melalui Departemen Pendidikan Nasional berupaya mengadakan perbaikan dan pembaharuan sistem pendidikan di Indonesia, yaitu dalam bentuk pembaharuan kurikulum, penataan guru, peningkatan manajemen pendidikan, serta pembangunan sarana dan prasarana pendidikan. Dengan pembaharuan ini diharapkan dapat dihasilkan manusia yang kreatif yang sesuai dengan tuntutan jaman, yang pada akhirnya mutu pendidikan di Indonesia meningkat.


Peningkatan mutu pendidikan akan tercapai apabila proses belajar mengajar yang diselenggarakan di kelas benar-benar efektif dan berguna untuk mencapai kemampuan pengetahuan, sikap dan ketrampilan yang diharapkan. Karena pada dasarnya proses belajar mengajar merupakan inti dari proses pendidikan secara keseluruhan, di antaranya guru merupakan salah satu faktor yang penting dalam menentukan berhasilnya proses belajar mengajar di dalam kelas.

 

Oleh karena itu guru dituntut untuk meningkatkan peran dan kompetensinya, guru yang kompeten akan lebih mampu menciptakan lingkungan belajar yang efektif dan akan lebih mampu mengelola kelasnya sehingga hasil belajar siswa berada pada tingkat yang optimal. Adam dan Decey (dalam Usman, 2003) mengemukakan peranan guru dalam proses belajar mengajar adalah sebagai berikut: (a) guru sebagai demonstrator, (b) guru sebagai pengelola kelas, (c) guru sebagai mediator dan fasilitator dan (d) guru sebagai evaluator.


Sebagai tenaga profesional, seorang guru dituntut mampu mengelola kelas yaitu menciptakan dan mempertahankan kondisi belajar yang optimal bagi tercapainya tujuan pengajaran. Menurut Amatembun (dalam Supriyanto, 1991:22) “Pengelolaan kelas adalah upaya yang dilakukan oleh guru dalam menciptakan dan mempertahankan serta mengembang tumbuhkan motivasi belajar untuk mencapai tujuan yang telah di tetapkan”. Sedangkan menurut Usman (2003:97) “Pengelolaan kelas yang efektif merupakan prasyarat mutlak bagi terjadinya proses belajar mengajar yang efektif”. Pengelolaan dipandang sebagai salah satu aspek penyelenggaraan sistem pembelajaran yang mendasar, di antara sekian macam tugas guru di dalam kelas.


Berdasarkan uraian di atas, maka fungsi pengelolaan kelas sangat mendasar sekali karena kegiatan guru dalam mengelola kelas meliputi kegiatan mengelola tingkah laku siswa dalam kelas, menciptakan iklim sosio emosional dan mengelola proses kelompok, sehingga keberhasilan guru dalam menciptakan kondisi yang memungkinkan, indikatornya proses belajar mengajar berlangsung secara efektif.

Keberadaan SMA Negeri 1 Kepanjen, dengan prestasi akademis yang diraih yaitu perolehan Nun relatif baik, perolehan kejuaraan pelajar teladan, perolehan kejuaraan olympiade ilmu pengetahuan maupun dalam bidang karya ilmiah baik tingkat Nasional, Propinsi, dan Kabupaten/Kota. Demikian pula berbagai prestasi dalam bidang kegiatan (Non Akademis) diantaranya kejuaraan PMR, Pramuka, Marching Bands untuk tingkat Propinsi, Kabupaten/Kodya. Berdasarkan uraian diatas, maka identifikasi pengelolaan kelas kaitannya dengan proses dan hasil pembelajaran di sekolah, menjadi hal yang menarik untuk dijadikan fokus penelitian.

Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh diskripsi yang jelas dan rinci tentang strategi guru dalam: (1) Membuat perencanaan pembelajaran, (2) Membangun kerjasama dalam pembelajaran, (3) Pemberian motivasi belajar siswa, (4) Menciptakan iklim pembelajaran yang kondusif, (5) Meningkatkan disiplin siswa dan (6) Evaluasi proses belajar mengajar


METODE

Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan penelitian kualitatif dalam bentuk studi kasus. Tehnik penggalian data yang digunakan dalam penelitian ini adalah: (1) wawancara mendalam (in depth interview) yang diperoleh dari: sepuluh guru mata pelajaran, satu konselor sekolah, wakil kepala sekolah bidang kurikulum, kesiswaan, hubungan masyarakat dan sarana prasarana, kepala sekolah dan mantan kepala sekolah, (2) observasi partisipan (participant observation) dilakukan pada saat pembelajaran di kelas, Laboratorium, Perpustakaan dan di ruang tatib, dan (3) studi dokumentasi yang bersumber dari non insani, yaitu dokumen pribadi guru dan dokumen resmi sekolah.

Analisis data dilakukan selama penelitian ini berlangsung dan didasarkan atas langkah-langkah Miles & Huberman (1992), yaitu: (1) reduksi data, (2) penyajian data, (3) penarikan kesimpulan dan verifikasi. Pengecekan keabsahan data dilakukan dengan menggunkan: (1) derajat kepercayaan (credibility) yaitu trianggulasi dan pengecekan teman sejawat, (2) kebergantungan (dependability), dan (3) kepastian (confirmability)


HASIL

Hasil penelitian sesuai dengan fokus dan berdasarkan paparan data, temuan penelitian adalah sebagai berikut:

Pertama bagaimana strategi guru dalam menyusun rencana pembelajaran?
Strategi menyusun rencana pembelajaran adalah sebagai berikut Kepala sekolah melalui kebijakan yang dituangkan dalam tugas guru, mewajibkan para guru untuk membuat program mengajar yang berupa: silabus, Analisa Materi Pelajaran, Program tahunan, Program Semester, dan Rencana Program Pembelajaran. Pembuatan program pembelajaran disusun secara bersama-sama melalui pertemuan Musyawarah Guru Mata Pelajaran yang ada di lingkungan sekolah yang selanjutnya dimantabkan melalui pertemuan Musyawarah Guru Mata Pelajaran tingkat Kabupaten.

Selanjutnya perangkat mengajar diserahkan kepada wakil kepala sekolah bidang kurikulum untuk dikoreksi dan ditanda tangani oleh kepala sekolah. Pada saat mengajar, para guru selalu membawa perangkat pembelajaran dengan maksud agar proses belajar mengajar berjalan dengan terarah, dan tujuan yang dirumuskan dalam program bisa tercapai. Dan bila selesai mengajar perangkat mengajar disimpan di almari guru masing-masing yang telah disediakan oleh sekolah, dengan demikian bila diperlukan perangkat mengajar sudah ada di sekolah dan terjaga keamanannya.


Sumber : https://www.gurupendidikan.co.id/

Merajut Asa di Bangku Kuliah

Merajut Asa di Bangku Kuliah

Kuliah sambil kerja? Ya, kenapa tidak? inilah tantangan sebenarnya. Ketika kita mengupayakan melawan tembok keputusasaan, pesimisme dan yang lebih jelek lagi ada hancurnya motivasi hidup. Umur jadi tambah kedewasaan belum pasti jadi tambah sedang mutu berfikir tak jernih lagi, kuliah konvesional selalu meraih ruang yang bagus, ber AC, namun memahami tidak bagi seorang yang merintis hidup berasal dari rajutan awal ini bahwa ruangan kelas kita adalah situasi masyarakat saat ini.

Merajut Asa di Bangku Kuliah

Masa depan tidak di tentukan didala bangku kuliah melainkan kegagalan yang selalu menjadi penentu didalam perjalanannya, bertahan hidup, dan ongkos pendidikan yang melambung tinggi menjadi faktor utama didalam perjalanan hidup agar penuh bersama pertimbangan yang benar-benar matang untuk bertahan didalam segala resik, tak pernah terpikirkan kala kita berpikir sebagus apa kampusnya kalau kiata tak dapat mencuat dan berkompetisi untuk mengukur bagaimana kemampuan kita didalam merajut asa ini dapat tercapai. Kalau kita boleh jujur pendidikan sebenarnya penting, mau tidak mau kita kudu melanjutkan kejenjang yang tinggi namun cuma menyisahkan banyak PR bagi keberlangsungan pendidikan yang lebih tinggi, tak kudu mahal yang penting kita memahami dan mengamalkannya, ini adalah garis kehidupan yang mengupayakan meraih kehidupan dan yang menerima kehidupan secara turun temurun tanpa memahami sosok jati diri. Jangan pernah bertanya “Saya kuliah dimana, namun bagaimana langkah saya kuliah”.

Jika kita amati ada sebuah pergeseran orientasi nilai pada generasi muda saat ini. Orientasi nilai yang mereka utamakan ditunjukkan oleh orientasi materi yang kuat. Kalau kita kita lihat orang-orang yang telah kuliah, mereka seperti tante-tante didalam perihal berdandan, selera pakai, hingga “life style”. Mereka ini lebih berorientasi “bagaimana dapat memperkaya diri, bahkan bersama jalan yang keluar berasal dari norma-norma kelaziman, cenderung menghalalkan segala seuatu. Oleh dikarenakan itu, kerap kita dengar arti “Camp Fried Chicken”.

Jika kita kaji lagi kasus diatas adalah terdapatnya pergeseran nilai berasal dari segi NCB (National Caracter Building) yang tidak kontributif dan tidak jadi tambah dikarenakan “National Identity” yang merefleksikan nila-nilai budaya yang dianut tidak diwujudkan didalam kehidupan sehari-hari. Kemudian muncullah budaya pragmatisme untuk menjadi kaya, untuk cepat lulus dan meraih pekerjaan. Ukuran dan keberhasilan itu adalah bagaimana dia semakin banyak kekayaannya, dan itu menjadi pandangan yang menempel pada beberapa orang. Ironisnya justru orang-orang seperti inilah yang menjadi aktivis. Orang yang tidak berorientasi pragmatis, tidak berorientasi material dan itupun jumlahnya kecil. Hal ini telah terjadi sejak dulu, kalau pada tahun 1974-1978 yang tetap relatif banyak. Pada saat itu mahasiswa sama sekali diberangus pada ranah politiknya dan pada masa itu mulailah diperkenalkan ujian yang tidak memicu mahasiswa untuk berpikir yaitu bersama style soal multiple choise yang membentuk mahasiswa bermental “gambling” dikarenakan bersama sistem seperti itulah mahasiswa yang tidak memahami selalu dapat menjawab. Lalu bersama langkah itulah terbentuknya langkah berpikir mahasiswa yang pragmatis.

Melihat situasi diatas, paling tidak ada beberapa tipologi mahasiswa saat ini yang sedang berkembang yang kudu dipelajari termasuk bagi orangtua maupun mahasiswa, antara lain ; 1. Mahasiswa aktivis, yaitu umumnya mereka ini sensitif bersama urusan/permasalahan masyarakat, cepat merespon kalau ada isu/fenomena yang terjadi pada masyarakat terlebih pada situasi bangsa. Tapi dilain segi mereka tidak meremehkan kewajiban mereka sebagai mahasiswa. Biasanaya tipologi seperti ini cenderung miliki “Ground Balancing” antara penempatan diri dan pengembangan skill antara kuliah maupun ekstrakuliah dan umumnya berasal dari mereka ini di terima didalam dunia profesi yang layak. 2. Mahasiswa organisatoris, yaitu pada style ini mereka cuma mementingkan aktivitas di sebuah organisasi tertentu. Karena untungkan bagi pengembangan dirinya, namun tidak untungkan bagi nilai akademisnya. Biasanya mereka cenderung memasang organisasi sebagai pelarian bukan suatu kebutuhan. 3. Mahasiswa akademis, yaitu umumnya mereka miliki motivasi belajar tinggi, mengejar nilai bagus dan mengupayakan sukses didalam perihal akademisnya, namun umumnya mereka tidak peduli bersama urusan masyarakat. Artinya mereka mementingkan diri sendiri, mereka cenderung termakan oleh dunia akademisnya. Sehingga mereka umumnya tidak miliki pengalaman yang praktis untuk menopang arah profesinya didalam dunia kerja. 4. Mahasiswa hedonis, yaitu pada style ini umumnya mereka kuliah cuma untuk bersenang-senang, pacaran, shoping (konsumeris) atau sikap-sikap yang tidak mencerminkan sebagai mahasiswa. Mereka larut didalam dunia kesenangan tanpa ada keinginan untuk mencipta, berkreasi dan laksanakan pengembangan diri yang efektif. Sehingga tidak peduli bersama masa depan maupun masyarakat. Mereka cenderung kuliah terbengkalai dan tidak dihargai masyarakat. www.ruangguru.co.id

Tipologi diatas paling tidak menjadi refleksi bagi mahasiswa maupun calon mahasiswa, mengingat mahasiswa sangatlah ditunggu untuk memperbaiki peradaban suatu Bangsa. Pergerakan mahasiswa Indonesia cukup kontributif didalam mengawal tiap tiap aksi kebijakan. Tantangan yang berat pada situasi mahasiswa saat ini adalah Miskinnya bangsa berasal dari guiding ideas (krisis gagasan kebangsaan), Adanya kelunturan nilai dan budaya ketimuran yang konsisten jadi tambah sesuai perguliran zaman (krisis identitas), Lemahnya pengertian pada tanggung jawab dan kewajiban (krisis kepercayaan dan kebertanggungjwaban), Kebutuhan akan pemimpin yang layak dan kompeten tidak pernah tercukupi (krisis kepemimpinan). Selamat mampir agen perubahan, jadilah mahasiswa yang dikehendaki oleh bangsa ini.

Refleksi Mahasiswa Dulu, Kini dan Sekarang

Refleksi Mahasiswa Dulu, Kini dan Sekarang

Setelah sebulan yang lalu tiap tiap sekolah mengadakan orientasi siswa untuk memperkenalkan lingkungan sekolah dan seperangkat alat kelengkapannya. Maka bulan ini (september.red) jadi momentum yang ditunggu oleh mahasiswa baru untuk mengetahui lingkungan kampusnya yang jadi dambaan sejak bangku SMA.

Refleksi Mahasiswa Dulu, Kini dan Sekarang

Dari dulu universitas sebenarnya tempatnya ilmu, pesta dan cinta. Ada yang bergelut dibidang akademis ada terhitung yang hura-hura (hedonis). Ada pula segelintir mahasiswa yang menggunakan waktunya hanya untuk kegiatan-kegiatan kebangsaan. Realitas saat ini yang muncul adalah type hedonisme yang makin lama marak dikalangan mahasiswa, jadi berasal dari pakaian yang minim, langkah berdandan ria, nyabu dikampusnya, tawuran antar kelompok mahasiswa sampai nongkong di deskotik maupun café-café yang mengelilingi kampus.

Jika kami amati ada sebuah pergeseran orientasi nilai pada generasi muda saat ini. Orientasi nilai yang mereka mengedepankan ditunjukkan oleh orientasi materi yang kuat. Kalau kami kami menyaksikan orang-orang yang sudah kuliah, mereka layaknya tante-tante didalam hal berdandan, selera pakai, sampai “life style”. Mereka ini lebih berorientasi “bagaimana mampu memperkaya diri, lebih-lebih dengan jalur yang muncul berasal dari norma-norma kelaziman, cenderung menghalalkan segala seuatu. Oleh sebab itu, sering kami dengar makna “Camp Fried Chicken”.

Jika kami kaji kembali kasus diatas adalah adanya pergeseran nilai berasal dari segi NCB (National Caracter Building) yang tidak kontributif dan tidak jadi tambah sebab “National Identity” yang merefleksikan nila-nilai budaya yang dianut tidak diwujudkan didalam kehidupan sehari-hari. Kemudian muncullah budaya pragmatisme untuk jadi kaya, untuk cepat lulus dan meraih pekerjaan. Ukuran dan kesuksesan itu adalah bagaimana dia makin lama banyak kekayaannya, dan itu jadi pandangan yang melekat pada sebagian orang. Ironisnya justru orang-orang layaknya inilah yang jadi aktivis. Orang yang tidak berorientasi pragmatis, tidak berorientasi material dan itupun jumlahnya kecil. Hal ini sudah berjalan sejak dulu, jikalau pada th. 1974-1978 yang tetap relatif banyak. Pada saat itu mahasiswa mirip sekali diberangus pada ranah politiknya dan pada masa itu mulailah diperkenalkan ujian yang tidak membuat mahasiswa untuk berpikir yaitu dengan model soal multiple choise yang membentuk mahasiswa bermental “gambling” sebab dengan sistem layaknya itulah mahasiswa yang tidak sadar selamanya mampu menjawab. Lalu dengan langkah itulah terbentuknya langkah berpikir mahasiswa yang pragmatis.

Melihat suasana diatas, tidak ada salahnya memberi tambahan definisi sekaligus tipologi mahasiswa saat ini. Mahasiswa adalah seorang pelajar disebuah perguruan tinggi atau boleh dikatakan mereka adalah kaum intelektual terdidik yang ditunggu oleh bangsa ini. Bahkan terhitung ditunggu penduduk sebab agent of change yang selamanya melekat pada dirinya, sebab tiap tiap pergantian yang riil. Namun pada saat ini sulit sekali untuk merebut gelar sebagai mahasiswa, ada yang berkeinginan jadi mahasiswa (kuliah), tapi secara ekonomis tidak cukup mampu, dan ada terhitung yang mampu, tapi ketika jadi mahasiswa dia lupa dapat peran dan fungsinya.

Realitas mahasiswa saat ini sudah mengalami disorientasi peran dan kegunaan mahasiswa itu sendiri, kadang mahasiswa wajib merelakan duduk berjam-jam dibangku kuliah sambil mencatat materi dan ada terhitung yang asyik dengan segala alat komunikasinya (HP) ketika kuliah berlangsung.

Tidak sedikit orientasi mahasiswa masuk perguruan tinggi hanya sebagai batu loncatan supaya mampu langsung kerja berasal dari pada wajib berorganisasi atau mengembangkan organisasinya. Seperti inilah type mahasiswa yang sebenarnya diciptakan dengan type barat (kapitalis), supaya dampaknya daya parah mahasiswa saat ini mampu dikatakan terlampau minim lebih-lebih mereka yang hanya kuliah-pulang kuliah-pulang (kupu-kupu). Sehingga yang berjalan sekedar penindasan-penindasan pola pikir mahasiswa jadi hedonis yang sistematis.

Sekarang banyak mahasiswa yang enggan mengembangkan potensinya didalam bermacam organisasi baik ditingkat universitas, maupun komunitas sosial lainnya. Namun jarang sekali mahasiswa yang mau berpikir demi keperluan publik supaya hal inilah yang makin lama memperpanjang mata rantai problem sosial yang makin lama mencekik kehidupan masyarakat.

Melihat suasana diatas itulah, paling tidak ada sebagian tipologi mahasiswa saat ini yang tengah berkembang antara lain ; 1. Mahasiswa aktivis, yaitu umumnya mereka ini sensitif dengan urusan/permasalahan masyarakat, cepat merespon jikalau ada isu/fenomena yang berjalan pada penduduk lebih-lebih pada suasana bangsa. Tapi dilain segi mereka tidak mengabaikan kewajiban mereka sebagai mahasiswa. Biasanaya tipologi layaknya ini cenderung memiliki “Ground Balancing” antara penempatan diri dan pengembangan skill antara kuliah maupun ekstrakuliah dan umumnya berasal dari mereka ini di terima didalam dunia profesi yang layak. 2. Mahasiswa organisatoris, yaitu pada model ini mereka hanya mementingkan aktivitas di sebuah organisasi tertentu. Karena menguntungkan bagi pengembangan dirinya, tapi tidak menguntungkan bagi nilai akademisnya. Biasanya mereka cenderung menempatkan organisasi sebagai pelarian bukan suatu kebutuhan. 3. Mahasiswa akademis, yaitu umumnya mereka memiliki stimulan studi tinggi, mengejar nilai bagus dan berusaha berhasil didalam hal akademisnya, tapi umumnya mereka tidak acuhkan dengan urusan masyarakat. Artinya mereka mementingkan diri sendiri, mereka cenderung termakan oleh dunia akademisnya. Sehingga mereka umumnya tidak memiliki pengalaman yang praktis untuk menopang arah profesinya didalam dunia kerja. 4. Mahasiswa hedonis, yaitu pada model ini umumnya mereka kuliah hanya untuk bersenang-senang, pacaran, shoping (konsumeris) atau sikap-sikap yang tidak mencerminkan sebagai mahasiswa. Mereka larut didalam dunia kesenangan tanpa ada permintaan untuk mencipta, berkreasi dan lakukan pengembangan diri yang efektif. Sehingga tidak acuhkan dengan masa depan maupun masyarakat. Mereka cenderung kuliah terbengkalai dan tidak dihargai masyarakat.

Tipologi diatas paling tidak jadi refleksi bagi mahasiswa maupun calon mahasiswa, mengingat mahasiswa sangatlah ditunggu untuk melakukan perbaikan peradaban suatu Bangsa. Pergerakan mahasiswa Indonesia lumayan kontributif didalam mengawal tiap tiap aksi kebijakan. Tantangan yang berat pada suasana mahasiswa saat ini adalah Miskinnya bangsa berasal dari guiding ideas (krisis ide kebangsaan), Adanya kelunturan nilai dan budaya ketimuran yang konsisten jadi tambah sesuai perguliran zaman (krisis identitas), Lemahnya pengertian pada tanggung jawab dan kewajiban (krisis kepercayaan dan kebertanggungjwaban), Kebutuhan dapat pemimpin yang layak dan kompeten tidak dulu tercukupi (krisis kepemimpinan).

Sejarah sudah menunjukkan kita, entah berapa banyak pejuang kebenaran dan pembela orang-orang tertindas yang kemudian pada akhirnya “kalah”, bukan sebab musuhnya, tapi ketidakmampuan hadapi dirinya sendiri, padahal perjuangan ini membutuhkan orang-orang yang “ sudah selesai dengan dirinya”, supaya ia mampu memberi. Moga bermanfaat*

Guru Sebagai Profesi dan Standar Kompetensinya

Guru Sebagai Profesi dan Standar Kompetensinya

Guru Sebagai Profesi dan Standar Kompetensinya
Guru Sebagai Profesi dan Standar Kompetensinya

The effective teacher is one who is able to bring about intended learning outcomes.
(James M. Cooper)

Salah satu dari enam agenda seratus hari Kabinet Indonesia Bersatu dari Departemen Pendidikan Nasional adalah ‘mencanangkan guru sebagai profesi”. Seorang peserta diklat calon instruktur matematika sekolah dasar yang sedang mengikuti kegiatan diklat di Pusat Pengembangan Penataran Guru (PPPG) Matematika Yogyakarta memberikan komentar positif bahwa agenda itu amat fokus dan mendasar. Sementara beberapa peserta lainnya memberikan respon yang netral-netral saya, yakni ‘tunggu dan lihat’ atau ‘wait and see’, sambil menaruh harapan yang besar agar agenda ini memiliki dampak yang amat positif bagi upaya peningkatan kompetensi, perlindungan dan kesejahteraan guru. Secara umum, banyak guru yang menaruh harapan yang besar terhadap pelaksanaan agenda tersebut, minimal sebagai salah satu wujud kepedulian terhadap nasib guru.

Tulisan singkat ini akan menelaah makna yang tersurat dalam pengertian ‘guru sebagai profesi’, ciri-ciri guru sebagai profesi, dan standar kompetensi yang harus dimilikinya.


Guru, Pendidik, dan Tenaga Kependidikan

Seorang widyaiswara senior di Pusdiklat Diknas secara terus terang menyatakan kekecewaannya terhadap UU Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, lantaran dalam UU SPN itu hanya memuat dua patah kata guru, yakni pada Pasal 39 ayat 3 dan 4. Hal tersebut terjadi karena pengertian guru diperluas menjadi ‘pendidik’ yang dibedakan secara dikotomis dengan ‘tenaga kependidikan’, sebagaimana tertuang secara eksplisit dalam Bab XI tentang Pendidik dan Tenaga Kependidikan. ‘Pendidik’ dijelaskan pada ayat 2, yakni: ‘Pendidik merupakan tenaga profesional yang bertugas merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan pembimbingan dan pelatihan, serta melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, terutama bagi pendidik pada perguruan tinggi’.


Dalam ayat 3 dijelaskan lebih lanjut bahwa ‘Pendidik yang mengajar pada satuan pendidikan dasar dan menengah disebut guru, dan pendidik yang mengajar pada satuan pendidikan tinggi disebut dosen’. Sementara itu, istilah ‘tenaga kependidikan’ dijelaskan dalam Pasal 39 ayat 1 bahwa ‘Tenaga kependidikan bertugas melaksanakan administrasi, pengelolaan, pengembangan, pengawasan, dan pelayanan teknis untuk menunjang proses pendidikan pada satuan pendidikan’. Termasuk dalam kategori tenaga kependidikan dalam hal ini adalah kepala sekolah, pengawas, dan tenaga lain yang menunjang proses pembelajaran di sekolah.


Yang menjadi persoalan terminologis dalam hal ini adalah karena guru dikenal dengan empat fungsi sekaligus dalam proses pembelajaran, yakni mengajar, mendidik, melatih, dan membimbing. Dengan demikian, seharusnya pengertian guru lebih luas dibandingkan dengan pendidik. Bahkan dosen di perguruan tinggi pun sebenarnya juga disebut guru. Bahkan perguruan tinggi juga menggunakan istilah Guru Besar. Selain itu, guru pada jenjang pendidikan dasar dan menengah pun memiliki kompetensi untuk melakukan penelitian tindakan kelas (classroom action research) dan menjalin hubungan dan kerja sama dengan orangtua siswa dan masyarakat yang tergabung dalam Komite Sekolah.

Lepas dari persoalan terminologis tersebut, apakah ia akan tetap disebut guru ataukah pendidik, kedua-duanya mengemban tugas mulia sebagai tenaga profesi, yang memiliki kaidah-kaidah profesional sebagaimana profesi lain seperti dokter, akuntan, jaksa, hakim, dan sebagainya.


Profesi, Profesional, dan Profesionalisme

Dedi Supriadi (alm) dalam bukunya bertajuk “Mengangkat Citra dan Martabat Guru” telah menjelaskan secara sederhana ketiga istilah tersebut. Profesi menunjuk pda suatu pekerjaan atau jabatan yang menuntut keahlian, tanggung jawab, dan kesetiaan terhadap profesi. Lebih lanjut dinyatakan bahwa suatu profesi secara teori tidak bisa dilakukan oleh sembarang orang yang tidak dilatih atau disiapkan untuk itu.

Sementara profesional menunjuk pada dua hal. Pertama, menunjuk pada penampilan atau performance atau kinerja seseorang yang sesuai dengan tuntutan profesinya. Misalnya, ‘pekerjaan itu dilaksanakan secara profesional’. Kedua, menunjuk pada orang yang melakukan pekerjaan itu, misalnya ‘dia seorang profesional’.

Istilah profesionalisme menunjuk pada derajat penampilan atau performance seseorang dalam melaksanakan pekerjaan atau profesi. Ada yang profesionalismenya tinggi, sedang, dan ada pula yang rendah. Menurut Dedi Supriadi, profesionalisme menuntut tiga prinsip utama, yakni ‘well educated, well trained, well paid’ atau memperoleh pendidikan yang cukup, mendapatkan pelatihan yang memadai, dan menerima gaji yang memadai. Dengan kata lain profesionalisme menuntut pendidikan yang tinggi, kesempatan memperoleh pelatihan yang cukup, dan akhirnya memperoleh bayaran atau gaji yang memadai.


Ciri-ciri Profesi

Dalam buku yang sama, Dedi Supriadi menjelaskan secara sederhana tentang ciri-ciri atau karakteristik suatu profesi. Pertama, profesi itu memiliki fungsi dan signifikansi sosial bagi masyarakat. Sebagai contoh, dokter disebut profesi karena memiliki fungsi dan signifikasi sosial untuk memberikan layanan kesehatan bagi masyarakat. Demikian juga guru, memberikan layanan pendidikan bagi anak-anak generasi muda bangsa. Kedua, profesi menuntut keterampilan tertentu yang diperoleh melalui proses pendidikan dan pelatihan yang cukup yang dilakukan oleh lembaga pendidikan yang akuntabel atau dapat dipertanggungjawabkan. Ketiga, profesi didukung oleh suatu disiplin ilmu tertentu (a systematic body of knowledge). Keempat, ada kode etik yang dijadikan sebagai satu pedoman perilaku anggota beserta sanksi yang jelas dan tegas terhadap pelanggar kode etik tersebut. Pengawasan terhadap penegakan kode etik dilakukan oleh organisasi profesi yang bersangkutan. Kelima, sebagai konsekuensi dari layanan dan prestasi yang diberikan kepada masyarakat, maka anggota profesi secara perorangan atau kelompok memperoleh imbalan finansial atau material.


Jika kelima cirri atau karakteristik profesi tersebut diterapkan kepada pekerjaan guru, maka tampak jelas bahwa guru memiliki kelima karakteristik tersebut, meskipun ada beberapa karakteristik yang belum sepenuhnya terpenuhi. Sebagai contoh, guru memiliki karakteristik pertama yang demikian jelas, yakni memiliki fungsi dan signifikansi sosial bagi masyarakat. Karakteristik kedua, untuk dapat menjadi guru yang profesional, guru juga harus memiliki kompetensi yang tinggi. Untuk dapat memiliki kompetensi seperti itu maka guru harus memiliki disiplin ilmu yang diperoleh dari lembaga pendidikan, baik preservice education maupun inservice training yang akuntabel.


Disiplin ilmu itu antara lain adalah pedagogi (membimbing anak). Inilah karakteristik yang ketiga. Karakteristik keempat memang kedodoran di Indonesia, yakni kode etik dan penegakan kode etik. PGRI memang telah menyusun kode etik Guru Indonesia, tetapi penegakannya memang belum berjalan. PGRI di masa lalu terlalu dekat dengan politik, dan kurang bergerak sebagai organisasi profesi. Penulis pernah mengikuti kegiatan konvensi NCSS (National Council for Social Studies) di Amerika Serikat. Organisasi ini memang organisasi profesi murni yang bidang kegiatannya memang menyangkut urusan profesi. Organisasi ini punya peranan penting dalam memberikan masukan penyempurnaan kurikulum social studies (IPS), inovasi tentang strategi dan metode pembelajaran IPS, media dan alat peraga, dan hal-hal yang terkait dengan profesi guru IPS. Apabila PGRI dalam menjadi induk bagi organisasi-organisasi guru mata pelajaran di Indonesia, alangkah idealnya. Ciri profesi yang kelima adalah adanya imbalan finansial dan material yang memadai. Dalam hal ini, gaji guru di Indonesia pada saat ini memang telah lebih baik jika dibandingkan dengan gaji guru pada tahun 60-an, yang pada ketika itu gaji profesi dalam bidang keuangan menjadikan iri bagi profesi lainnya.


Gaji guru di Amerika Serikat pun pernah memprihatinkan. Pada tahun 1864, guru di Illionis digambarkan dengan citra yang memprihatinkan dilihat dari kesejahterannya, yakni ‘has little brain and less money’ atau ‘punya otak kosong dan kantong melompong’. Dewasa ini, gambaran guru di Amerika Serikat tidaklah demikian lagi, karena kebanyakan guru di Amerika rata-rata merupakan tamatan perguruan tinggi, yang tidak hanya memiliki kemampuan intelektual tetapi juga ekonomi dan sosial. Jikalau ingin pendidikan maju, dan para guru dapat memfokuskan diri dalam bidang profesinya sebagai guru — bukan guru yang biasa di luar —, maka gaji guru tidak boleh tidak memang harus memadai, setara dengan profesi lainnya, jika tidak bisa lebih tinggi. Dalam hal pemberian penghargaan kepada guru, aspek kesejahteraan dapat dipandang sebagai salah satu bentuk penghargaan secara materi, di samping bentuk penghargaan nonmateri, seperti pemberian piagam penghargaan berdasarkan prestasi kerja guru yang dapat dibanggakan. Adanya hyme guru memang dapat menjadi model penghargaan terhadap guru, meskipun ada orang yang berpendapat bahwa adanya hymne guru justru dipandang sebagai bentuk penghargaan semu.


Kompetensi Guru

Salah satu ciri sebagai profesi, guru harus memiliki kompetensi, sebagaimana dituntut oleh disiplin ilmu pendidikan (pedagogi) yang harus dikuasainya. Dalam hal kompetensi ini, Direktorat Tenaga Kependidikan telah memberikan definisi kompetensi sebagai pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai yang direfleksikan dalam kebiasaan berfikir dan bertindak. Lebih lanjut dijelaskan bahwa kompetensi tersebut akan terwujud dalam bentuk penguasaan pengetahuan dan perbuatan secara profesional dalam menjalankan fungsi sebagai guru.

Pada tahun 70-an, Direktorat Tenaga Teknis dan Pendidikan Guru (Dikgutentis) merumuskan sepuluh kompetensi guru, yakni: (1) memiliki kerpibadian sebagai guru, (2) menguasai landasan kependidikan, (3) menguasai bahan pelajaran, (4) Menyusun program pengajaran, (5) melaksanakan proses belajar mengajar, (6) melaksanakan proses penilaian pendidikan, (7) melaksanakan bimbingan, (8) melaksanakan administrasi sekolah, (9) menjalin kerja sama dan interaksi dengan guru sejawat dan masyarakat, (10) melaksanakan penelitian sederhana.


Pada tahun 2003, Direktorat Tenaga Kependidikan (nama baru Dikgutentis) telah mengeluarkan Standar Kompetensi Guru (SKG), yang terdiri atas tiga komponen yang saling kait mengait, yaitu (1) pengelolaan pembelajaran, (2) pengembangan potensi, dan (3) penguasaan akademik, yang dibungkus oleh aspek sikap dan kepribadian sebagai guru. Ketiga komponen kompetensi tersebut dijabarkan menjadi tujuh kompetensi dsasar, yaitu (1.1) penyusunan rencana pembelajaran, (1.2) pelaksanaan interaksi belajar mengajar, (1.3) peniliaian prestasi belajar peserta didik, (1.4) pelaksanaan tindak lanjut hasil penilaian prestasi belajar peserta didik, (2) pengembangan profesi, (3.1) pemahaman wawasan kependidikan, dan (3.2) penguasaan bahan kajian akademik (sesuai dengan mata pelajaran yang diajarkan). Ketujuh kompetensi dasar guru tersebut dapat diukur dengan seperangkat indikator yang telah ditetapkan.


Sebagai perbandingan, Australia Barat dikenal memiliki ‘Competency Framework for Teachers’. Kompetensi standar di Australia Barat ini meliputi lima dimensi, yakni; (1) facilitating student learning, (2) assessing student learning outcomes, (3) engaging in professional learning, (4) participating to curriculum and program initiatives in outcome focused environment, dan (5) forming partnerships within the school community. Dengan kata lain, lima bidang kompetensi dasar guru di Australia Barat adalah (1) memfasilitasi pembelajaran siswa, (2) menilai hasil belajar siswa, (3) melibatkan dalam pembelajaran profesional, (4) berperan serta untuk pengembangan program dan kurikulum dalam lingkungan yang berfokus kepada hasil belajar, (5) membangun kebersamaan dalam masyarakat sekolah. Lima dimensi tersebut memiliki indikator yang berbeda untuk tiga jenjang guru, yakni phase 1 (level 1), phase 2 (level 2), dan phase 3 (level 3).


Jika dibandingkan dengan lima dimensi kompetensi di Australia Barat tersebut, maka tampaklah bahwa sepuluh kompetensi dasar menurut Dikgutentis agaknya jauh lebih lengkap, karena sudah mencakup kompetensi membangun kerjasama dengan sejawat dan masyarakat. Bahkan mencakup kemampuan mengadakan penelitian sederhana, misalnya mengadakan penelitian tindakan kelas atau classroom action research. Dalam hal ini, tujuh kompetensi dasar menurut Dit Tendik belum mencakup kompetensi membangun kerja sama dengan sejawat dan masyarakat. Referensi :  www.kuliahbahasainggris.com

Berikan Pendidikan Terbaik Bagi Anak

Pendidikan anak adalah salah satu hal yang memiliki peranan yang cukup penting sekali dan tak dapat Anda abaikan begitu saja. Sebagai orangtua yang baik, hendaknya Anda memberikan pendidikan terbaik pada anak-anak. Hal yang demikain ini bisa dilakukan dengan berbagai macam cara, diantaranya adalah dengan memilihkan sekolah terbaik untuk anak. Ingat, anak adalah generasi masa depan bangsa. Hal yang paling penting untuk menuju cita-cita adalah pendidikan.

Berikan Pendidikan Terbaik Bagi Anak
Berikan Pendidikan Terbaik Bagi Anak

 

Tanggung jawab pendidikan ini tak hanya semata-mata jadi tanggung jawab sekolah saja, walaupun sekolah sudah siapkan kurikulum untuk mendidik anak. Pendidikan terbaik tetap saja ada pada Anda sebagai orangtua. Dan berikut ini adalah beberapa cara mudahnya memberikan pendidikan terbaik bagi anak yang bisa dilakukan oleh para orangtua.

Cara memberi pendidikan terbaik bagi anak

Memberi dukungan

Selalu beri perhatian pada anak Anda, dan jangan lupa untuk menanamkan nilai serta tujuan dari pendidikan tersebut. Upayakan untuk selalu tahu perkembangan sih anak saat di sekolah. Anda dapat lakukan kunjungan untuk lihat situasi serta lingkungan pendidikan yang ada di sekiolah. Menaruh minat pada aktifitas sekolah akan secara langsung berpengaruh pada pendidikan sih anak itu sendiri.

Menyediakan waktu bagi anak

Sebagai orangtua yang baik, Anda juga harus sediakan waktu yang cukup banyak untuk anak tercinta. Jadilah tempat curhat untuk menampung semua beban anak Anda, dengarkan keluh dan kesar, serta berusaha turut memberi solusi atas masalahnya disarankan ke dalam pendidikan anak.

Awasi selalu kegiatan belajarnya di rumah

Silakan Anda tunjukkan bahwasannya Anda memang berminat sekali pada pendidikan anak. Pastikan juga anak Anda sudah selesai kerjakan tugasnya. Kewajiban Anda disini adalah untuk mempelajari sesuatu dengan dengan anak-anak Anda. Membaca bersama anak, jangan lupa juga untuk menjadwalkan waktu di setiap harinya untuk memeriksa pekerjaan rumah atau PR anak Anda. Kendalikan juga waktunya dalam menonton tv, bermain game, dan lain-lain.

Ajarkan tanggung jawab

Anak bisa bertanggung jawab kerjakan tugasnya di sekolah apabila Anda memang sudah mengajar anak Anda untuk mengerjakan tanggung jawab di rumah. Coba mulai dengan memberikan pekerjaan rumah tangga pada anak Anda secara rutin di setiap harinya dengan jadwal yang spesifik. Hal yang demikian ini nantinya akan mengajarkan rasa tanggung jawab yang anak Anda butuhkan supaya bisa berhasil di sekolah dan di masa yang akan datang dalam kehidupannya.

Yang tak kalah pentingnya untuk Anda ajarkan kepada anak tercinta adalah disiplin, menjaga kesehatan, dan tak lupa kerja sama dengan guru kelasnya. Demikianlah informasi tentang cara berikan pendidikan terbaik bagi anak yang bissa kami bagikan. Semoga saja bisa bermanfaat. referensi  https://www.sekolahbahasainggris.com/

Tingkatkan Otak Anak dengan Permainan Seru

Bunda, dengan adanya kemajuan teknologi, elektronik sudah jadi salah satu bagian terpenting dari kehidupan kita. Anak-anak lahir ke dunia teknologi. Mereka tak dapat membayangkan hidup tanpa itu., dari komputer dan tv, anak-anak akan menerima banyak sekali stimulasi kognitif.

Tingkatkan Otak Anak dengan Permainan Seru
Tingkatkan Otak Anak dengan Permainan Seru

Mereka lebih cenderung kurang bermain secara aktif seperti halnya lompat tali, melempar bola, dan lain-lain. Walaupun teknologi yang satu ini dapat membantunya merangsang pikiran, jaga tubuh untuk tetap aktif pun juga sangat penting sekali. Anak-anak butuh permainan seru untuk mendukung keterampilan motorik kasar dan juga gaya hidup yang sehat.

Meningkatkan otak anak dengan permainan aktif yang seru

Di tahun pertama pendidikan, keterampilan motorik kasar anak telah diujikan. Anak yang berpartisipasi di dalam permainan aktif ini akan mempunyai kesempatan yang lebih baik lagi pada penilaiannya tersebut. mereka mampu kembangkan control yang jauh lebih baik atas tubuh mereka dalam bidang kelincahan, keseimbangan, dan koordinasi. Keterampilan yang satu ini nantinya bisa didukung oleh banyak kegiatan seru dan menyenangkan, seperti halnya menangkap, lompat tali, dan uga melempar bola atau pun benda yang lainnya. mencapai titik keberhasilan di dalam kegiatan fisik dan juga mendapatkan pemahaman kesadaran maupun bisa membantu anak untuk mendapat rasa percaya diri.

Selain dengan keterampilan motorik kesarnya, bermain aktif ini juga sangat bermanfaat sekali bagi kesehatan anak jangka panjang. Ini juga bisa membantuk kembangkan otot besar dan kecil serta lepaskan energy maupun stress yang dialami anak. Anak-anak nantinya akan belajar untuk dapat menikmati aktifitas fisik. Partisipasi dalam bermain aktif dan seru bisa sebabkan keterlibatan dalam olahraga serta kembangkan minat mereka diberbagai bidang. Mereka dapat bergabung dengan  tim olahraga atau pun terlibat ke dalam aktiftas yang bergantung kepada kinerja individu, seperti halnya berenang atau pun seni bela diri. Pada saat obesitas pada anak terus alami peningkatan. Walaupun gizi merupakan faktor utama di dalam mengontrol berat badan, aktifitas fisik ini juga memiliki peranan yang cukup penting sekali. Anak-anak yang tak aktif jauh lebih rentan untuk terkena masalah tersebut. bermain seru dan aktif juga bisa membantu memberi dasar untuk aktifitas fisik saat dewasa kelak.

Dengan prevalensi ADD atau attention deficit disorder antara anak-anak, bermain atau pemainan aktif ini jadi sangat penting sekali untuk kesehatan mental serta fisik. Mereka butuh outlet untuk lepaskan kelebihan energy. Penelitian juga telah menunjukkan bahwasannya bermain aktif tersebut dapat meningkatkan fungsi otak serta bisa kurangi beberapa impulsive yang ada kaitannya dengan ADD.

Demikianlah informasi yang dapat kami bagikan tentang tingkatkan otak anak dengan permainan seru. Semoga bermanfaat. sumber : www.dosenpendidikan.com