Inilah 3 Hal yang Mengancam Pendidikan di Indonesia

Inilah 3 Hal yang Mengancam Pendidikan di Indonesia – Tujuan pendidikan ialah membentuk generasi yang mempunyai bekal moral, intelektual dan kapasitas guna kepentingan dirinya , bangsa dan negara.

Namun demikian, akhir-akhir ini guna mewujudkan tujuan-tujuan mulia tersebut, dunia edukasi menghadapi kendala yang semakin tidak ringan.

Setidaknya terdapat tiga ancaman serius dan paling mengkhawatirkan untuk diri anak didik (pelajar dan mahasiswa/generasi muda) kita, yakni, ancaman narkoba, kekerasan pada institusi edukasi dan krisis kebangsaan.

Ancaman Narkoba

Pendidikan dianggap mempunyai peranan dalam menanggulangi penyalahgunaan narkoba. Ironinya, menurut keterangan dari data Puslitkes UI dan BNN (2016), ada selama 27,32 persen pemakai narkoba di Indonesia berasal dari kalangan pelajar dan mahasiswa.

Kekhawatiran ini menjadi semkain bertambah, menurut keterangan dari info BNN menurut data yang dikeluarkan dalam World Drugs Report 2016, semenjak 2008 hingga 2015 sudah terindikasi sejumlah 644 total new psychoactive substances yang diadukan oleh 102 negara dan 65 jenis baru ini sudah masuk ke Indonesia.

Kekerasan di Institusi Pendidikan

Akhir-akhir ini kita paling prihatin dengan adanya sekian banyak informasi, pemberitaan, tontonan video yang disebarkan secara berantai melewati jaringan media sosial.

Kekerasan jasmani maupun kekerasan mental ini telah menjangkit ke pihak-pihak utama dalam institusi pendidikan, baik perorangan maupun kelompok. Kekerasan sudah dilaksanakan oleh antar anak murid, murid untuk guru atau kebalikannya guru untuk murid, orang tua siswa dengan anak maupun guru. Ini sudah mengindikasikan bahwa edukasi kita sudah terpaksa akan kekerasan.

Krisis Kebangsaan

Survei Alvara Research Center (2018) mengejar ada beberapa milenial atau generasi kelahiran akhir 1980-an dan mula 1990-an, setuju pada konsep khilafah sebagai format negara.

Survei dilaksanakan terhadap 4.200 milenial (1.800 mahasiswa dan 2.400 pelajar SMA di Indonesia).

Mayoritas milenial memang memilih Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sebagai format negara. Namun terdapat 17,8 persen mahasiswa dan 18,4 persen pelajar yang setuju khilafah sebagai format negara ideal suatu negara.

Ditahun sebelumnya, survei BIN tahun 2017 mendapat data bahwa 24 persen mahasiswa dan 23,3 persen pelajar SMA setuju dengan jihad guna tegaknya negara Islam.

Angka-angka persentase pelajar dan mahasiswa memang beberapa kecil dari keseluruhan, tapi jangan dibaca jumlah yang kecil.

Sebab, baik narkoba, keerasan dan paham anti kebangsaan Indonesia sudah berkembang paling signifikan. Kita tidak hendak generasi Indonesia yang bakal datang ialah generasi yang tidak mempunyai kepasitas mumpuni guna menyiapkan diri menghadapi sekian banyak perubahan yang cepat dan gagap dalam mengawal keutuhan bangsa Indonesia yang estetis ini.

Menyambut peringatan Hari Pendidikan Nasional 2 Mei tahun ini, Ikatan Alumni Universitas Negeri Jakarta (IKA UNJ) yang menaungi sebagain besar lulusan yang berkiprah di dunia edukasi (guru) mendorong kesadaran publik guna akan ancaman-ancaman edukasi sekaligus mendesak pihak-pihak yang mempunyai tugas dan kewenangan guna bersama-sama memungut inisiatif, kepandaian dan perbuatan nyata untuk menanggulangi 3 ancaman itu yang bakal menganggu dan merusak destinasi pencapaian pendidikan. Sumber: sekolahan.co.id/