Refleksi Mahasiswa Dulu, Kini dan Sekarang

Refleksi Mahasiswa Dulu, Kini dan Sekarang

Refleksi Mahasiswa Dulu, Kini dan Sekarang

Setelah sebulan yang lalu tiap tiap sekolah mengadakan orientasi siswa untuk memperkenalkan lingkungan sekolah dan seperangkat alat kelengkapannya. Maka bulan ini (september.red) jadi momentum yang ditunggu oleh mahasiswa baru untuk mengetahui lingkungan kampusnya yang jadi dambaan sejak bangku SMA.

Refleksi Mahasiswa Dulu, Kini dan Sekarang

Dari dulu universitas sebenarnya tempatnya ilmu, pesta dan cinta. Ada yang bergelut dibidang akademis ada terhitung yang hura-hura (hedonis). Ada pula segelintir mahasiswa yang menggunakan waktunya hanya untuk kegiatan-kegiatan kebangsaan. Realitas saat ini yang muncul adalah type hedonisme yang makin lama marak dikalangan mahasiswa, jadi berasal dari pakaian yang minim, langkah berdandan ria, nyabu dikampusnya, tawuran antar kelompok mahasiswa sampai nongkong di deskotik maupun café-café yang mengelilingi kampus.

Jika kami amati ada sebuah pergeseran orientasi nilai pada generasi muda saat ini. Orientasi nilai yang mereka mengedepankan ditunjukkan oleh orientasi materi yang kuat. Kalau kami kami menyaksikan orang-orang yang sudah kuliah, mereka layaknya tante-tante didalam hal berdandan, selera pakai, sampai “life style”. Mereka ini lebih berorientasi “bagaimana mampu memperkaya diri, lebih-lebih dengan jalur yang muncul berasal dari norma-norma kelaziman, cenderung menghalalkan segala seuatu. Oleh sebab itu, sering kami dengar makna “Camp Fried Chicken”.

Jika kami kaji kembali kasus diatas adalah adanya pergeseran nilai berasal dari segi NCB (National Caracter Building) yang tidak kontributif dan tidak jadi tambah sebab “National Identity” yang merefleksikan nila-nilai budaya yang dianut tidak diwujudkan didalam kehidupan sehari-hari. Kemudian muncullah budaya pragmatisme untuk jadi kaya, untuk cepat lulus dan meraih pekerjaan. Ukuran dan kesuksesan itu adalah bagaimana dia makin lama banyak kekayaannya, dan itu jadi pandangan yang melekat pada sebagian orang. Ironisnya justru orang-orang layaknya inilah yang jadi aktivis. Orang yang tidak berorientasi pragmatis, tidak berorientasi material dan itupun jumlahnya kecil. Hal ini sudah berjalan sejak dulu, jikalau pada th. 1974-1978 yang tetap relatif banyak. Pada saat itu mahasiswa mirip sekali diberangus pada ranah politiknya dan pada masa itu mulailah diperkenalkan ujian yang tidak membuat mahasiswa untuk berpikir yaitu dengan model soal multiple choise yang membentuk mahasiswa bermental “gambling” sebab dengan sistem layaknya itulah mahasiswa yang tidak sadar selamanya mampu menjawab. Lalu dengan langkah itulah terbentuknya langkah berpikir mahasiswa yang pragmatis.

Melihat suasana diatas, tidak ada salahnya memberi tambahan definisi sekaligus tipologi mahasiswa saat ini. Mahasiswa adalah seorang pelajar disebuah perguruan tinggi atau boleh dikatakan mereka adalah kaum intelektual terdidik yang ditunggu oleh bangsa ini. Bahkan terhitung ditunggu penduduk sebab agent of change yang selamanya melekat pada dirinya, sebab tiap tiap pergantian yang riil. Namun pada saat ini sulit sekali untuk merebut gelar sebagai mahasiswa, ada yang berkeinginan jadi mahasiswa (kuliah), tapi secara ekonomis tidak cukup mampu, dan ada terhitung yang mampu, tapi ketika jadi mahasiswa dia lupa dapat peran dan fungsinya.

Realitas mahasiswa saat ini sudah mengalami disorientasi peran dan kegunaan mahasiswa itu sendiri, kadang mahasiswa wajib merelakan duduk berjam-jam dibangku kuliah sambil mencatat materi dan ada terhitung yang asyik dengan segala alat komunikasinya (HP) ketika kuliah berlangsung.

Tidak sedikit orientasi mahasiswa masuk perguruan tinggi hanya sebagai batu loncatan supaya mampu langsung kerja berasal dari pada wajib berorganisasi atau mengembangkan organisasinya. Seperti inilah type mahasiswa yang sebenarnya diciptakan dengan type barat (kapitalis), supaya dampaknya daya parah mahasiswa saat ini mampu dikatakan terlampau minim lebih-lebih mereka yang hanya kuliah-pulang kuliah-pulang (kupu-kupu). Sehingga yang berjalan sekedar penindasan-penindasan pola pikir mahasiswa jadi hedonis yang sistematis.

Sekarang banyak mahasiswa yang enggan mengembangkan potensinya didalam bermacam organisasi baik ditingkat universitas, maupun komunitas sosial lainnya. Namun jarang sekali mahasiswa yang mau berpikir demi keperluan publik supaya hal inilah yang makin lama memperpanjang mata rantai problem sosial yang makin lama mencekik kehidupan masyarakat.

Melihat suasana diatas itulah, paling tidak ada sebagian tipologi mahasiswa saat ini yang tengah berkembang antara lain ; 1. Mahasiswa aktivis, yaitu umumnya mereka ini sensitif dengan urusan/permasalahan masyarakat, cepat merespon jikalau ada isu/fenomena yang berjalan pada penduduk lebih-lebih pada suasana bangsa. Tapi dilain segi mereka tidak mengabaikan kewajiban mereka sebagai mahasiswa. Biasanaya tipologi layaknya ini cenderung memiliki “Ground Balancing” antara penempatan diri dan pengembangan skill antara kuliah maupun ekstrakuliah dan umumnya berasal dari mereka ini di terima didalam dunia profesi yang layak. 2. Mahasiswa organisatoris, yaitu pada model ini mereka hanya mementingkan aktivitas di sebuah organisasi tertentu. Karena menguntungkan bagi pengembangan dirinya, tapi tidak menguntungkan bagi nilai akademisnya. Biasanya mereka cenderung menempatkan organisasi sebagai pelarian bukan suatu kebutuhan. 3. Mahasiswa akademis, yaitu umumnya mereka memiliki stimulan studi tinggi, mengejar nilai bagus dan berusaha berhasil didalam hal akademisnya, tapi umumnya mereka tidak acuhkan dengan urusan masyarakat. Artinya mereka mementingkan diri sendiri, mereka cenderung termakan oleh dunia akademisnya. Sehingga mereka umumnya tidak memiliki pengalaman yang praktis untuk menopang arah profesinya didalam dunia kerja. 4. Mahasiswa hedonis, yaitu pada model ini umumnya mereka kuliah hanya untuk bersenang-senang, pacaran, shoping (konsumeris) atau sikap-sikap yang tidak mencerminkan sebagai mahasiswa. Mereka larut didalam dunia kesenangan tanpa ada permintaan untuk mencipta, berkreasi dan lakukan pengembangan diri yang efektif. Sehingga tidak acuhkan dengan masa depan maupun masyarakat. Mereka cenderung kuliah terbengkalai dan tidak dihargai masyarakat.

Tipologi diatas paling tidak jadi refleksi bagi mahasiswa maupun calon mahasiswa, mengingat mahasiswa sangatlah ditunggu untuk melakukan perbaikan peradaban suatu Bangsa. Pergerakan mahasiswa Indonesia lumayan kontributif didalam mengawal tiap tiap aksi kebijakan. Tantangan yang berat pada suasana mahasiswa saat ini adalah Miskinnya bangsa berasal dari guiding ideas (krisis ide kebangsaan), Adanya kelunturan nilai dan budaya ketimuran yang konsisten jadi tambah sesuai perguliran zaman (krisis identitas), Lemahnya pengertian pada tanggung jawab dan kewajiban (krisis kepercayaan dan kebertanggungjwaban), Kebutuhan dapat pemimpin yang layak dan kompeten tidak dulu tercukupi (krisis kepemimpinan).

Sejarah sudah menunjukkan kita, entah berapa banyak pejuang kebenaran dan pembela orang-orang tertindas yang kemudian pada akhirnya “kalah”, bukan sebab musuhnya, tapi ketidakmampuan hadapi dirinya sendiri, padahal perjuangan ini membutuhkan orang-orang yang “ sudah selesai dengan dirinya”, supaya ia mampu memberi. Moga bermanfaat*