Merajut Asa di Bangku Kuliah

Merajut Asa di Bangku Kuliah

Table of Contents

Merajut Asa di Bangku Kuliah

Kuliah sambil kerja? Ya, kenapa tidak? inilah tantangan sebenarnya. Ketika kita mengupayakan melawan tembok keputusasaan, pesimisme dan yang lebih jelek lagi ada hancurnya motivasi hidup. Umur jadi tambah kedewasaan belum pasti jadi tambah sedang mutu berfikir tak jernih lagi, kuliah konvesional selalu meraih ruang yang bagus, ber AC, namun memahami tidak bagi seorang yang merintis hidup berasal dari rajutan awal ini bahwa ruangan kelas kita adalah situasi masyarakat saat ini.

Merajut Asa di Bangku Kuliah

Masa depan tidak di tentukan didala bangku kuliah melainkan kegagalan yang selalu menjadi penentu didalam perjalanannya, bertahan hidup, dan ongkos pendidikan yang melambung tinggi menjadi faktor utama didalam perjalanan hidup agar penuh bersama pertimbangan yang benar-benar matang untuk bertahan didalam segala resik, tak pernah terpikirkan kala kita berpikir sebagus apa kampusnya kalau kiata tak dapat mencuat dan berkompetisi untuk mengukur bagaimana kemampuan kita didalam merajut asa ini dapat tercapai. Kalau kita boleh jujur pendidikan sebenarnya penting, mau tidak mau kita kudu melanjutkan kejenjang yang tinggi namun cuma menyisahkan banyak PR bagi keberlangsungan pendidikan yang lebih tinggi, tak kudu mahal yang penting kita memahami dan mengamalkannya, ini adalah garis kehidupan yang mengupayakan meraih kehidupan dan yang menerima kehidupan secara turun temurun tanpa memahami sosok jati diri. Jangan pernah bertanya “Saya kuliah dimana, namun bagaimana langkah saya kuliah”.

Jika kita amati ada sebuah pergeseran orientasi nilai pada generasi muda saat ini. Orientasi nilai yang mereka utamakan ditunjukkan oleh orientasi materi yang kuat. Kalau kita kita lihat orang-orang yang telah kuliah, mereka seperti tante-tante didalam perihal berdandan, selera pakai, hingga “life style”. Mereka ini lebih berorientasi “bagaimana dapat memperkaya diri, bahkan bersama jalan yang keluar berasal dari norma-norma kelaziman, cenderung menghalalkan segala seuatu. Oleh dikarenakan itu, kerap kita dengar arti “Camp Fried Chicken”.

Jika kita kaji lagi kasus diatas adalah terdapatnya pergeseran nilai berasal dari segi NCB (National Caracter Building) yang tidak kontributif dan tidak jadi tambah dikarenakan “National Identity” yang merefleksikan nila-nilai budaya yang dianut tidak diwujudkan didalam kehidupan sehari-hari. Kemudian muncullah budaya pragmatisme untuk menjadi kaya, untuk cepat lulus dan meraih pekerjaan. Ukuran dan keberhasilan itu adalah bagaimana dia semakin banyak kekayaannya, dan itu menjadi pandangan yang menempel pada beberapa orang. Ironisnya justru orang-orang seperti inilah yang menjadi aktivis. Orang yang tidak berorientasi pragmatis, tidak berorientasi material dan itupun jumlahnya kecil. Hal ini telah terjadi sejak dulu, kalau pada tahun 1974-1978 yang tetap relatif banyak. Pada saat itu mahasiswa sama sekali diberangus pada ranah politiknya dan pada masa itu mulailah diperkenalkan ujian yang tidak memicu mahasiswa untuk berpikir yaitu bersama style soal multiple choise yang membentuk mahasiswa bermental “gambling” dikarenakan bersama sistem seperti itulah mahasiswa yang tidak memahami selalu dapat menjawab. Lalu bersama langkah itulah terbentuknya langkah berpikir mahasiswa yang pragmatis.

Melihat situasi diatas, paling tidak ada beberapa tipologi mahasiswa saat ini yang sedang berkembang yang kudu dipelajari termasuk bagi orangtua maupun mahasiswa, antara lain ; 1. Mahasiswa aktivis, yaitu umumnya mereka ini sensitif bersama urusan/permasalahan masyarakat, cepat merespon kalau ada isu/fenomena yang terjadi pada masyarakat terlebih pada situasi bangsa. Tapi dilain segi mereka tidak meremehkan kewajiban mereka sebagai mahasiswa. Biasanaya tipologi seperti ini cenderung miliki “Ground Balancing” antara penempatan diri dan pengembangan skill antara kuliah maupun ekstrakuliah dan umumnya berasal dari mereka ini di terima didalam dunia profesi yang layak. 2. Mahasiswa organisatoris, yaitu pada style ini mereka cuma mementingkan aktivitas di sebuah organisasi tertentu. Karena untungkan bagi pengembangan dirinya, namun tidak untungkan bagi nilai akademisnya. Biasanya mereka cenderung memasang organisasi sebagai pelarian bukan suatu kebutuhan. 3. Mahasiswa akademis, yaitu umumnya mereka miliki motivasi belajar tinggi, mengejar nilai bagus dan mengupayakan sukses didalam perihal akademisnya, namun umumnya mereka tidak peduli bersama urusan masyarakat. Artinya mereka mementingkan diri sendiri, mereka cenderung termakan oleh dunia akademisnya. Sehingga mereka umumnya tidak miliki pengalaman yang praktis untuk menopang arah profesinya didalam dunia kerja. 4. Mahasiswa hedonis, yaitu pada style ini umumnya mereka kuliah cuma untuk bersenang-senang, pacaran, shoping (konsumeris) atau sikap-sikap yang tidak mencerminkan sebagai mahasiswa. Mereka larut didalam dunia kesenangan tanpa ada keinginan untuk mencipta, berkreasi dan laksanakan pengembangan diri yang efektif. Sehingga tidak peduli bersama masa depan maupun masyarakat. Mereka cenderung kuliah terbengkalai dan tidak dihargai masyarakat. www.ruangguru.co.id

Tipologi diatas paling tidak menjadi refleksi bagi mahasiswa maupun calon mahasiswa, mengingat mahasiswa sangatlah ditunggu untuk memperbaiki peradaban suatu Bangsa. Pergerakan mahasiswa Indonesia cukup kontributif didalam mengawal tiap tiap aksi kebijakan. Tantangan yang berat pada situasi mahasiswa saat ini adalah Miskinnya bangsa berasal dari guiding ideas (krisis gagasan kebangsaan), Adanya kelunturan nilai dan budaya ketimuran yang konsisten jadi tambah sesuai perguliran zaman (krisis identitas), Lemahnya pengertian pada tanggung jawab dan kewajiban (krisis kepercayaan dan kebertanggungjwaban), Kebutuhan akan pemimpin yang layak dan kompeten tidak pernah tercukupi (krisis kepemimpinan). Selamat mampir agen perubahan, jadilah mahasiswa yang dikehendaki oleh bangsa ini.